Di Kebumen, pantai itu bukan destinasi. Pantai itu tetangga. Dari ujung barat sampai ujung timur, deretannya nyaris nggak putus dan hampir semuanya dekat banget dengan permukiman warga. Ada yang berpasir hitam, ada pula yang berpasir putih kayak Pantai Menganti lengkap dengan terumbu karang, tebing, dan semak hijau di sekelilingnya. Satu kabupaten, tapi vibesnya berasa kayak ada dua negara.
Gokil sih. Beneran.
Aku sendiri lebih sering ke pantai berpasir hitam kayak Pantai Heppi Ayam Putih, Pantai Mliwis, dan lainnya. Alasannya nggak romantis-romantis amat, soalnya aksesnya gampang dan nggak pake drama nyasar. Tapi di sana ada bonus yang nggak bisa dibeli di mal. Kalau datang pagi, kalian bisa lihat perahu nelayan merapat, ikan hasil tangkapan digelar dengan macam-macam jenis, dan harganya murah parah. Boleh mancing, bisa ngobrol sama nelayan, dan jujur dari obrolan random gitu kadang kita malah dapet insight kehidupan yang seru abis.
Dekatnya pantai dengan rumah warga ini paling berasa pas momen Lebaran. Bayangin masuk hari kedua. Maaf-maafan udah kelar, perut penuh opor, dan mendadak satu keluarga besar kena vibes gabut karena bingung mau ngapain lagi. Ujung-ujungnya pasti cuma satu suara: “Gas Pantai aja lah!”
Berapa yang didapat warga?
Tenang, kamu nggak sendirian, Gaes. Libur Lebaran 2026 kemarin tembus 675.348 kunjungan ke Kebumen, peringkat satu di Jawa Tengah. Pantai Mliwis, Menganti, dan Setrojenar jadi destinasi yang paling membeludak. Momen ini literally bikin warga lokal bangga, apalagi beberapa bulan sebelumnya Kebumen baru aja lepas dari gelar kabupaten termiskin di Jateng. Sebuah pencapaian yang worth it buat dirayain kan?
Tapi bentar deh, jangan buru-buru tepuk tangan. Kalau jarak pantainya aja sedeket itu sama rumah warga, jangan-jangan yang bikin padat ya orang lokalnya sendiri? Angka kunjungan 675 ribu itu emang kelihatannya gede, tapi ya sebatas jumlah kepala aja. Dua pertanyaan yang lebih penting justru nggak dijawab kayak mereka ini asalnya dari mana, dan berapa banyak uang yang muter buat warga sekitar?
Yang datang kayaknya orang Kebumen juga
Satu-satunya potret asal pengunjung yang aku temukan adalah survei terhadap 440 wisatawan di prosiding Untidar yang mana 57,5 persennya berasal dari Kebumen sendiri. Masalahnya, survei ini terbit pada 2022, empat tahun sebelum Lebaran tahun ini, dan sampelnya nggak khusus pantai.
Terus kenapa kalau yang datang orang lokal? Ya nggak papa sih, sah-sah aja. Tapi begini, Lur. Karena pantainya deket, polanya jadi gampang banget ditebak karena ya rata-rata berangkat pagi atau nggak sore buat liat sunset, jajan di warung, foto OOTD buat story IG, maghrib udah rebahan lagi di kasur. Boro-boro nginep, beli oleh-oleh aja males, lha wong tiap hari juga makan lanting. Ini dugaanku lho ya, bukan hasil survei.
Uangnya emang tetap mengalir. Pemilik warung dan tukang parkir pasti seneng. Tapi jatuhnya ibarat mindahin duit dari saku kiri ke saku kanan. Cuma muter di ekosistem orang Kebumen aja. Padahal, pariwisata itu baru bisa benar-benar ngangkat ekonomi daerah kalau ada orang luar datang, bawa duit masuk, dan yang paling penting, mereka mau nginep. Makin lama mereka stay, makin banyak duit yang tertinggal.
Nah, ini nyambung ke soal kemiskinan yang kusebut di awal. Angka Kebumen memang turun dari 15,71 persen pada 2024 menjadi 13,58 persen pada Maret 2025, dan posisi termiskin pindah ke Brebes. Tapi Kebumen masih masuk sepuluh besar kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Dan aku nggak menemukan data yang mengaitkan penurunan itu dengan wisata. Jadi, kalau ada yang bilang “pantai menyelamatkan Kebumen”, sabar dulu Lur, buktinya belum ada.
Lebaran, mudik, perantauan
Kebumen mencatat angka 675 ribu itu saat liburan Lebaran, Ketika perantau pulang kampung. Aku belum menemukan data yang memisahkan perantau dari wisatawan biasa. Wajar kalau sebagian pengunjung adalah orang Kebumen yang “wajib” mampir ke pantai sebelum balik ke perantauan lagi. Mereka tetap belanja, ngabisin uang buat ini-itu, tapi hitungannya beda dengan turis yang sengaja memilih Kebumen sebagai tempat wisata.
Lha terus, apa yang bisa bikin orang luar rela datang dan nginep? Jawabannya aslinya udah bertebaran di pantai kita, cuma jarang dilirik.
Coba main ke deretan pantai pasir hitam. Di Kali Ratu, Jogosimo, misalnya. Sejak 2021, di sana ada konservasi penyu lekang. Kalau hoki, kamu bisa nonton petugas ngerawat penyu dari dekat. Keren parah.
Geser ke pantai pasir putih. Ini yang sering bikin melongo. Kamu nggak cuma disuguhi tebing, tapi juga “galeri” batu warna-warni gratisan. Bahkan di Pantai Menganti, batuan hitam di tepinya itu aslinya batuan basal sisa letusan gunung api puluhan juta tahun lalu. Bayangin, kamu nggak cuma numpang foto estetik, tapi beneran lagi berdiri di atas lava purba. Gaya-gayaan level geologi ini, Lur!
Modal Kebumen tuh sudah banyak
Tapi ingat, tebing estetik itu bukan sekadar pajangan. Aku sadar soal ini awal Desember 2024 kemarin. Seminggu setelah aku balik main dari Pantai Sawangan, bukit karst di sana ternyata longsor parah. Tanahnya ambrol karena udah nggak kuat nahan guyuran air berhari-hari. Sejak kejadian itu, aku jadi sadar kalau tebing estetik itu bukan sekadar pajangan buat foto. Alam di sini tuh hidup, Lur, dan sewaktu-waktu bisa ‘berulah’ tanpa aba-aba. Ngeri-ngeri sedap kan.
Nah, dari sini aku mikir. Penyu, lava purba, sampai tebing yang dinamis itu aslinya adalah sebuah cerita besar. Sajian alam yang jelas nggak bakal cukup dinikmati cuma dengan nongkrong sore. Ini alasan yang sangat masuk akal buat narik orang luar supaya rela buang duit buat nginep.
Sayangnya, kebanyakan dari kita, termasuk aku juga, jujur aja masih konsisten jadi penganut sekte “datang, jajan, jepret, pulang”. Dan selama rutinitasnya masih begitu, ya uang pariwisata kita jatuhnya cuma muter di situ-situ aja
Modal kita tuh melimpah, contohnya ada pantai, Geopark yang udah diakuin UNESCO, sampai Goa Jatijajar. Tapi kalau pengunjung cuma numpang foto lalu pulang, ibarat ngundang tamu tapi cuma disuruh nangkring di teras. Biar turis luar rela nginep, buatlah paket terpadu. Misal, pagi main air di pantai, sore nongkrong di Alun-alun Pancasila, malamnya jajan di Moro Soetta.
Jadi, tahun depan?
Nah, sebagai langkah awal, Pemkab aslinya bisa mulai dari hal yang paling murah: mencatat asal daerah pengunjung dan lama mereka menginap. Tanpa catatan itu, kenaikan angka kunjungan bakal susah dibaca maknanya. Ini beneran pariwisata yang bawa duit masuk, atau cuma tanda kalau warga lokal lagi rame-rame pindah tempat nongkrong?
Makanya, kalau tahun depan Pemkab kembali mengumumkan rekor jumlah pengunjung, aku nggak bakal gampang takjub sama angkanya doang. Aku cuma mau cari tahu dua hal: berapa persen yang datang dari luar Kebumen, dan berapa malam mereka sudi tinggal.
Soalnya, pantai yang ramai itu memang bagus. Tapi pantai yang sukses bikin orang betah menginap, itu baru bisa disebut rezeki buat daerah. Sampai ketemu di pantai ya, Lur. Jangan lupa bawa sunscreen, dan tolong, jangan lupa nginep, wkwkwk.
Penulis: Rafi Nurul Hidayat
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kebumen: Banyak Pantainya, tapi Belum Jadi Primadona Wisata Layaknya Yogyakarta dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok