Menjadi warga perumahan di era sekarang kadang bikin kepala puyeng. Apalagi, begitu undangan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) mendarat di grup WhatsApp. Bukannya antisosial, tapi agenda rutin ini sering kali bertransformasi jadi tumpukan tugas repot dan basa-basi yang menguras energi.
Kalau mau jujur, uneg-uneg ini bukan soal introvert atau ekstrovert. Tapi, rasa-rasanya, banyak kegiatan PKK itu sudah nggak sejalan dengan zaman saja. Hidup warga saat ini sudah cukup ambyar dengan urusan mencukupkan uang belanja in this economy. Eh, masih pula harus dibayang-bayangi warisan budaya Orde Baru yang entah apa faedahnya.
Bagi sebagian orang, ini bentuk manipulasi psikologis modern
Katanya, sih, PKK itu organisasi sukarela buat wadah berkumpulnya ibu-ibu. Tapi, kalau dilihat seksama, isinya penuh dengan peer pressure yang terselubung rapi di balik kedok kerukunan warga. Mulai dari iuran kas bulanan, sumbangan Agustusan, sampai pungutan wajib pengadaan seragam PKK yang warnanya bikin sakit mata.
Sebab, banyak ibu-ibu muda yang kalang kabut kena burnout lantaran mental load yang sudah nggak ketulungan. Nggak sedikit dari mereka yang sudah pusing memikirkan tenggat kantor, mengurus rumah, dan merawat anak. Sialnya, masih pula dipalak waktu, tenaga, serta uangnya buat urusan-urusan seremonial yang sama sekali nggak substansial.
Program kerja purba, sudah waktunya evaluasi kegiatan PKK
Akui saja, sistem administrasi di level PKK ini kelewat kedaluwarsa. Laporannya nggak efisien, bahkan sering terjadi pencatatan berulang. Padahal, dunia sudah masuk era digital dan kecerdasan buatan. Tapi, urusan rekap data warga rasanya masih terjebak di zaman batu yang boros waktu.
Belum berhenti sampai di situ, warga kerap didera beban program kerja wajib yang menyita jam istirahat. Mulai dari merawat tanaman obat keluarga (TOGA) yang berujung mangkrak, inspeksi jentik nyamuk keliling kampung, sampai mengumpulkan minyak jelantah dari rumah ke rumah. Semua itu dibebankan seolah-olah warga itu pengangguran abadi.
Ironisnya lagi, masih ada saja program kampanye pilah sampah yang diurus lewat rapat-rapat panjang. Padahal, urusan memilah sampah rumah tangga harusnya sudah menjadi kesadaran personal tiap individu seperti di negara-negara maju. Kalau esensi kegiatannya saja sudah melenceng jauh dan cuma menambah keruwetan hidup, mending dipensiunkan saja sekalian.
Malah jadi panggung pamer dan ghibah berkedok sosialisasi yang terlalu dinormalisasi
Bagi sebagian orang, acara PKK ini sudah jauh bergeser makna. Bukan lagi membahas soal kesejahteraan keluarga, forum tersebut malah sering berubah wujud jadi panggung buat unjuk pencapaian. Nggak melulu materi, sih. Prestasi anak pun juga nggak luput dijadikan bahan pamer.
Belum lagi, terkadang ada lambe turah versi dunia nyata yang doyan menguliti privasi warga. Acara yang di undangan tertulis sebagai rapat penting atau penyuluhan mendesak, nyatanya sering kali cuma jadi ajang julid massal selama dua jam penuh. Sudahlah menghabiskan waktu yang berharga, datang ke sana malah cuma menambah daftar dosa.
Katanya buat menolong sesama warga, faktanya, arisan PKK itu adegan drama kejar-kejaran setoran
Bukan hanya beban mental dan tekanan sosial yang mengintai di dalam program PKK. Yang paling tampak mata, justru beban finansial nyata. Sebab, PKK nyaris selalu beririsan dengan ritual legendaris bernama arisan. Kalau nekat nggak ikutan, siap-siap saja dicap anomali dan jadi bahan gunjingan.
Di atas kertas, narasinya selalu manis. Yakni, mempererat tali silaturahmi dan menabung bersama. Namun, praktiknya sering kali berubah menjadi ajang uji mental yang menguras kesabaran. Skenario klasiknya selalu sama dan mudah ditebak. Begitu nama seseorang keluar sebagai pemenang kocokan di awal periode, gelagatnya mulai mencurigakan.
Coba saja, memasuki bulan-bulan berikutnya di mana dia harus melakukan setoran, batang hidungnya bakal hilang dari peredaran. Alhasil, pengurus mendadak harus merangkap jabatan jadi debt collector amatiran. Sementara, anggota lain ikut makan hati menanggung sisa beban. Kalau ujung-ujungnya malah menciptakan utang piutang dan ketegangan, rasanya wajar sekali kalau urgensi tradisi PKK ini dipertanyakan ulang.
Bertetangga dengan rukun nggak harus selalu ditebus dengan mengorbankan kewarasan. Lebih-lebih, waktu luang di akhir pekan. Makanya, sudah saatnya acara-acara formalitas yang hanya melestarikan kerumitan ini dimusnahkan.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Paylater nggak bikin boncos! Asal tahu siasatnya, kalian bisa untung besar dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.