Di benak banyak orang, tour guide atau pemandu wisata adalah pekerjaan yang gampang dan seru karena bisa jalan-jalan. Pekerjaan ini kerap disalahpahami sebagai bekerja sambil liburan gratis. Namun, namanya juga pekerjaan, pasti ada saja sisi nggak enaknya. Dan, saya tahu betul hal ini setelah diajak jadi tour guide oleh kawan saya.
Suatu hari, seorang kawan yang sudah lama berkecimpung di jasa tour guide menghubungi saya. Dia mendadak butuh anggota tim tambahan untuk jadi tour guide di Bromo. Rombongan yang dia bawa tidak tanggung-tanggung, berjumlah 30 orang guru TK untuk perjalanan selama 1 hari 2 malam. Kami berangkat di malam hari, seharian beraktivitas di Bromo, kemudian balik lagi.
Saya langsung menyanggupi ajakan tersebut. Dalam bayangan saya, kapan lagi dapat menikmati hawa dingin dan keindahan Bromo secara gratis.
Ternyata saya terlalu naif. Kenyataannya, pengalaman bepergian sebagai wisatawan dan bekerja sebagai tour guide itu jauh berbeda. Bepergian ke Bromo sebagai tour guide nyatanya jauh dari kata seru dan mudah.
Tour guide bukan liburan gratis
Saya baru sadar tour guide pekerjaan yang sulit ketika tiba di lokasi wisata. Bayangkan saja, di tempat seindah Bromo, saya hampir tidak punya kesempatan untuk menikmatinya. Di sana saya harus bekerja, memastikan rombongan tidak tercecer dan punya pengalaman liburan yang indah.
Impian foto-foto dengan background pemandangan ikonik tempat wisata itu hanya wacana. Jangankan foto sendiri, kedua tangan saya justru sibuk memegang banyak HP milik peserta untuk bergantian meminta difotokan.
Jangan dikira jadi tukang foto mendadak di tempat wisata itu gampang ya. Selain harus memikirkan pencahayaan dan angle, mengarahkan gaya 30 orang agar kompak itu juga suatu ujian kesabaran. Pas giliran diri sendiri mau foto? Matahari sudah terlanjur tinggi.
Belum lagi urusan menjaga rundown yang sudah dibuat agar tidak molor. Mengatur banyak orang yang sedang sibuk berfoto untuk mengabadikan dan mengkoordinir untuk berpindah tempat itu susahnya setengah mati. Molor 5 menit saja bisa merusak susunan acara sampai akhir.
Selain itu, kita harus menghadapi berbagai jenis karakter peserta. Ada yang moody, rewel urusan makan, hingga sering ngilang dari rombongan. Dalam kondisi seperti ini, tour guide tetap dituntut untuk tersenyum dan ramah dengan seluruh peserta.
Belajar dari yang sudah punya jam terbang tinggi
Melihat saya yang bingung, panik, dan ngos-ngosan mengurus rombongan, teman saya si pemilik usaha jasa tour guide ini tertawa santai. Maklum saja, dia sudah dua tahun berkecimpung di bisnis ini.
Dia sudah melewati banyak situasi yang jauh lebih gila. Mulai dari salah satu rombongan yang hilang di tengah lautan manusia, bus pariwisata yang mendadak mogok di tengah perjalanan, hingga membawa rombongan yang banyak maunya.
Tidak hanya tantangan di lapangan, secara bisnis, jasa tour guide juga makin sulit. Persaingan di kolam ini makin ketat. Sekarang ini, hanya bermodal akun medsos, pintar membuat konten estetik, dan memiliki relasi ke pihak armada bisa dengan mudah membuka bisnis jasa trip ini.
Itu mengapa, menjaga nama baik usaha adalah hal yang paling utama. Sekali saja kita membuat kesalahan dan peserta merasa kapok, bisa merusak reputasi bisnis.
Curhatan kawan saya ini meyakinkan saya kalau punya usaha tour guide itu bukan hal yang mudah. Jauh dari kata liburan gratis atau senang-senang. Ada tanggung jawab besar di baliknya.
Kepuasaan yang tidak tergantikan dengan uang
Perjalanan ke Bromo sebagai tour guide memang sangat menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Namun, secara tidak langsung, pekerjaan ini mengajarkan saya tentang melatih kesabaran, manajemen waktu, dan mengasah jiwa kepemimpinan.
Walau capek bukan main, ada suatu momen yang menurut saya sangat berkesan dalam perjalanan ini. Melihat para peserta yang kembali dengan selamat dan tersenyum bahagia. Serta mendengar ucapan tulus, “Mbak, Mas, makasih ya, liburannya seru banget. Besok kalau ada agenda jalan-jalan lagi, kita ajak kalian lagi ya!” Di titik inilah rasa lelah langsung terasa hilang dan terbayarkan.
Pada akhirnya, saya paham bahwa profesi tour guide bukan soal liburan gratisan. Ada tanggung jawab besar yang ditanggungnya. Jadi, kalau kamu cuma mau liburan dengan berfoto santai, mending liburan sendiri atau jadi peserta trip saja. Beneran deh, jangan coba-coba jadi tour guide jika kesabaranmu masih setipis tisu.
Penulis: Arsya Listya Eka Pramudita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.