ADVERTISEMENT

Remontada di Roma, satu lagi bukti biasakan nonton (dan nilai) Real Madrid sampai selesai

Remontada di Roma, satu lagi bukti biasakan nonton (dan nilai) Real Madrid sampai selesai

Saya selalu bilang, biasakan nonton Real Madrid sampai selesai. Kali ini, korbannya adalah AS Roma, klub kecil di Italia sana yang nggak paham betul apa itu rasanya jadi juara, tapi (kok ya bisa) main di Champions League.

Saya yakin, di luar sana, para admin akun medsos (sok dan mengaku) pencinta sepak bola sudah bikin draft ejekan buat Madrid. Yakin betul kalau Jurgenholic sudah menyiapkan “WHAT?” sejak dalam pikiran. Tapi, mohon maaf, Real Madrid memang main jelek, tapi kalau urusan remontada, mereka nggak ada lawan.

AS Roma sempat bikin fans Madrid yang datang ke Olimpico terdiam, saat mereka unggul 3-1. Pertahanan Madrid jeleknya minta ampun saat itu. Vini tidak membantu sama sekali. Yan Diomande, manusia 120 juta pounds ini sempat menunjukkan aksi briliannya, tapi tak memberi hasil.

Lalu datanglah Arda Guler, Espi, Endrick, Bernardo Silva, Carreras, yang bikin Roma akhirnya tahu, kenapa Manchester Cheaty, meski sudah menggelontorkan uang tanpa mikir, tetap gigit jari melawan sebenar-benarnya pemilik kompetisi.

Musim yang buruk untuk Real Madrid, sejauh ini

Saya tahu Real Madrid jauh dari kata apik. Jauh. Di awal musim, Madrid gagal dapat Rodri, terlalu fokus dengan saga Vini, dan tidak bisa dibilang punya start yang bagus di La Liga. Sekarang aja masih peringkat 3. Real Madrid di peringkat 3 itu aib. Peringkat 2 aja aib, apalagi 3.

Apalagi investasi mereka di awal musim udah kelewat gede. Saya tahu Yan Diomande itu bagus, tapi 120 juta pounds, itu amat questionable. Udah gitu, jajaran petinggi Madrid kelewat fokus ngurusin Vini dan ngejar Olise, si nonchalant yang bagusnya emang kebangetan, tapi memang nggak bisa dibeli aja.

Praktis, segala persiapan yang Madrid lakukan di awal musim malah jadi bumerang bagi mereka. Olok-olok sudah pasti. Mendatangkan Mourinho plus 6 pemain baru malah justru jadi bahan bakar cacian gara-gara hasil yang semestinya malah tak mereka raih.

Tapi kadang manusia itu lupa, bahwa ada alasan Real Madrid punya 15 gelar Liga Champions, dan dalam satu dekade ini saja, tak ada yang bisa menyalip perolehan gelar mereka.

Orang-orang tak sadar, bahwa tim besar, sekalipun mereka dinaungi mendung, tetap akan menemukan sinarnya, entah bagaimana caranya.

Remontada di Roma

Biasakan nonton Madrid sampai kelar itu bukan kelakar yang datang dari ruang hampa. Ia muncul dari banyaknya momen tak terduga yang muncul di penghujung laga.

ADVERTISEMENT

Kita pasti akan membicarakan laga melawan Manchester City di 2022, di mana Madrid hanya punya 1 persen kemungkinan lolos. Atau kita akan bicara di mana Liverpool harus digilas 5 gol oleh Madrid, padahal di awal laga, mesin tebu bernama Darwin Nunez mempecundangi Courtois. Atau momen-momen tak masuk akal lain.

Kelakar itu jadi semacam ramalan yang niscaya terjadi. Kamu tidak bisa mengira Madrid kalah sebelum laga benar-benar kelar. Benar-benar ketika ada tulisan full time, baru kamu tahu itu skor sebenarnya.

Bahwa mungkin mereka tidak menang dengan cantik, itu benar. Mereka tidak menang meyakinkan, itu juga benar. Mereka bermain super buruk dan somehow mereka menemukan kemenangan, itu amat benar.

Tapi justru itulah kehebatan Real Madrid. Mereka bisa menemukan secercah harapan untuk menang entah dari mana, tiba-tiba saja, ada asa tercipta. Sebelum kamu menyadarinya, yang tertawa di akhir adalah mereka.

Jadi saran saya, sebaiknya, tonton Real Madrid sampai selesai. Bukan untuk permainannya, karena mereka benar-benar sampah. Bukan untuk melihat aksi Vini-Mbappe-Diomande, mereka bisa bikin kamu mengumpat habis-habisan. Tapi untuk melihat bagaimana tim besar menciptakan keajaiban entah dari mana, lewat cara yang tak biasa, dan tak bisa dinalar oleh pikiran orang-orang biasa.

Kalau masih belum yakin, tanya AS Roma. Kalau fansnya tidak sembuh mentalnya dalam waktu dekat, wajar saja. Siapa yang bisa bahagia saat kebahagiaannya direnggut di depan mata, dalam waktu 7 menit saja?

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Real Madrid, Klub yang Tidak Punya Zaman

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2026 oleh .

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.