Cuaca Jogja sedang panas-panasnya. Hujan sudah nggak mengguyur Kota Pelajar selama berbulan-bulan. Di saat yang sama, kamu sedang sumpek dengan rutinitas kuliah atau kerja dan capek lihat linimasa media sosial dengan semua manuver pemerintah yang bikin hati panas. Kamu memutuskan untuk bertemu dengan teman-teman di Wisdom Park UGM, berniat silent reading bersama atau sekadar ngobrol sambil makan cemilan.
Kamu sudah menggelar tikar, siap untuk bersenang-senang. Lalu, tiba-tiba satpam UGM menghentikanmu, menanyakan apakah kamu sudah membayar biaya untuk menggelar tikar.
Semua rencana dan ekspektasimu buyar seketika. Nggak ada lagi plan healing, yang ada hanya kebingungan mengapa UGM menarik biaya untuk kegiatan yang bahkan kamu nggak mendapatkan keuntungan materi sedikitpun.
Itulah yang sedang ramai di media sosial saat ini. Seorang pengguna Threads membagikan pengalaman serupa dengan ilustrasi saya di atas. Ia didatangi satpam saat akan kumpul-kumpul dan diminta membayar Rp129.500 per satu jam.
Saat membaca utasnya, saya berceletuk, “Aduh kenapa lagi ini UGM dan ruang-ruang yang dimilikinya?” Soalnya, sebelum berita soal Wisdom Park UGM ini mencuat, kita semua sudah tahu bahwa UGM juga pernah disorot karena pembangunan dan pengelolaan Gedung Inovasi dan Kreativitas (GIK) dan larangan lari di Grha Sabha Pramana (GSP) beberapa waktu lalu.
Ruang terbuka hijau di Jogja memang langka
Oke, saya nggak akan membahas dua permasalahan lainnya.
Nah, soal Wisdom Park, lahan terbuka di kawasan UGM ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jogja dan pendatang sejak dulu. Teman SMA saya bercerita saat kecil dia sering disuapin makan sambil jalan-jalan di sana bersama orang tuanya.
Saya pun pernah menemani teman-teman seangkatan membuat video koreografi untuk PPSMB jurusan di Wisdom Park. Bahkan saya dan teman merayakan ulang tahun bersama di 2026 ini di sana.
Di tengah ruang terbuka hijau (RTH) di Jogja yang sangat-sangat terbatas, contoh-contoh yang saya sebutkan tadi menandakan bahwa Wisdom Park adalah ruang yang sangat mudah untuk diakses. Terlebih lagi bagi warga Kota Jogja yang harus melipir ke kabupaten tetangga hanya untuk “touch some grass”, Wisdom Park bagaikan oase di tengah kekeringan.
Bagi warga yang tinggal di permukiman atau kos padat, pergi ke Wisdom Park untuk duduk, melamun, membaca buku, menemani anak, atau menghabiskan waktu bersama pasangan itu sudah termasuk agenda healing. Nggak ada layanan khusus yang perlu dibeli. Nggak ada agenda besar. Kita cuma pengin berada di ruang terbuka dengan angin sepoi-sepoi.
Aturan pungutan di Wisdom Park ternyata beneran ada
Kejadian di Wisdom Park memantik pertanyaan di benak banyak orang. Apakah kita hanya berhak menikmati waktu luang di tempat tersebut jika sudah membayar? Kalau mau menikmati alam saja harus mengeluarkan uang, ke mana warga Jogja bisa pergi ketika pengin beristirahat tanpa menjadi konsumen?
Dari utas orisinal tersebut, banyak warganet yang ikut nimbrung dan menceritakan pengalamannya. Dari banyaknya respons tersebut, saya menemukan beberapa orang yang bercerita bahwa pungutan tersebut sudah ada sejak era pandemi Covid-19, tapi pemberlakuannya masih on-off.
Lalu, ada postingan dari @sudutugm yang menunjukkan aturan rinci mengenai pungutan di Wisdom Park ini. Aturan terbaru diberlakukan berdasarkan Peraturan Rektor UGM Nomor 7 Tahun 2025 setelah sebelumnya didahului oleh tiga peraturan rektor lainnya. Dan biaya sewanya menurut saya sangat lumayan. Maka nggak heran kalau pengunjung Wisdom Park yang “tertangkap satpam” merasa kapok dan mending menghabiskan uangnya di kafe.
Ruang terbuka hijau di Jogja adalah barang mewah
Di titik ini, mulai ada feel bahwa ruang untuk menikmati kota tanpa konsumsi makin terasa langka. Ekstremnya begini. Masa iya mau duduk di atas rumput dan lihat pohon saja bayar? Masa iya semua aktivitas me time dan quality time dengan orang tersayang harus dilakukan di kafe? Warga Jogja sudah mengeluarkan uang untuk transportasi, makan, tempat tinggal, dan hiburan. Masa untuk duduk-duduk tanpa tujuan pun terasa kayak pengeluaran tambahan?
Apalagi dengan latar belakang ekonomi tiap orang yang berbeda-beda, kita nggak bisa menyeragamkan bahwa semua orang mau mengeluarkan uang untuk nongkrong di kafe. Wisdom Park UGM yang tadinya gratis sempat menjadi harapan bagi siapapun untuk rekreasi.
Sayangnya, dengan mencuatnya fakta bahwa Wisdom Park berbayar, saya makin merasa bahwa ruang terbuka hijau adalah kemewahan bagi warga Jogja. Jumlah RTH kita terbatas, dan kalau mau menikmatinya, kita harus bayar. Padahal, RTH memungkinkan kita menikmati udara terbuka tanpa harus memiliki halaman sendiri, yang mana hampir mustahil dimiliki oleh warga Jogja yang wilayahnya sudah padat.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.