Wisuda ISI Surakarta selalu berhasil membuat orang kagum. Wisudawan dan wisudawati di sana tidak menggunakan jubah hitam bak pemeran di Harry Potter. Mereka memilih menukar toga dengan balutan beskap, kebaya, dan jarik.
Buat orang luar yang pertama kali menyaksikan prosesi ini, pemandangannya mungkin akan terasa kontras. Saat lini masa sosial media penuh potret wisudawan berseragam jubah hitam dari ujung barat sampai timur Indonesia, wisuda ISI Surakarta justru hadir berbeda layaknya prosesi sakral keraton yang sedang menggelar hajatan agung.
Wisudawan laki-laki tampil gagah dalam balutan beskap Jawi Jangkep warna hitam, lengkap dengan blangkon, selop dan keris yang terselip mantap di pinggang. Di samping mereka, para wisudawati tampil mengagumkan dengan kebaya hitam beludru model Kartini dan tatanan sanggul klasik yang presisi.
Pilihan warna hitam beludru pada busana resmi Jawi Jangkep ini bukan sekadar mengejar estetika vintage atau kesan gagah semata. Dalam filosofi Jawa, warna hitam melambangkan keteguhan hati, kematangan berpikir, kedalaman ilmu, serta kebijaksanaan. Sebuah cermin ideal bagi para sarjana yang baru saja menuntaskan kawah candradimuka akademisnya.
Suasana mendukung
Keanggunan visual ini ternyata tidak berhenti pada wisudawan ISI Surakarta saja. Begitu kita melirik ke rombongan akademisi dan jajaran pimpinan kampus, mulai dari rektor, guru besar, hingga senat, mereka juga ikut melebur dalam tradisi busana Jawi Jangkep yang sama. Bedanya, jika wisudawan berbalut warna hitam, para pimpinan tampil berwibawa dalam nuansa warna cream yang elegan.
Prosesi sakral ini dimulai kirab pimpinan perguruan tinggi. Kita akan melihat sosok cucuk lampah, penuntun jalan dalam tradisi Jawa, melangkah dengan gestur anggun dan penuh wibawa di barisan paling depan, memandu rombongan senat menuju kursi kebesaran diiringi dentang gamelan yang dimainkan secara live.
Dan, menariknya lagi, begitu seluruh pimpinan menduduki kursi kehormatan, tidak langsung ada pidato kaku atau sambutan formalitas yang membosankan. Ruangan justru hening terpukau oleh Tari Sesaji. Sebuah wujud permohonan keselamatan, rasa syukur, sekaligus penanda mulainya sidang terbuka senat secara penuh kesakralan.
Wisuda ISI Surakarta diiringi gamelan
Puncak dari seluruh rangkaian perayaan ini hadir saat nama-nama wisudawan mulai dipanggil satu per satu. Detik-detik ketika wisudawan melangkah ke hadapan rektor untuk dikalungi samir terasa begitu menggetarkan dada.
Lagi-lagi diiringi alunan gending gamelan live yang terus mengalun tanpa henti dari awal hingga akhir prosesi. Momen pengalungan samir dan pembacaan capaian akademik itu bukan lagi sebatas formalitas serah-terima ijazah. Dengung gamelan yang bergema pelan di dalam pendhapa seolah mengunci janji bakti para sarjana seni. Di titik inilah, bulu kuduk bergidik menunjukkan bahwa perjuangan bertahun-tahun merawat seni tradisi akhirnya berakhir dengan wisuda secara terhormat di hadapan para mahaguru seni dan kebudayaan.
Seketika itu juga, Pendhapa Ageng GPH Joyokusumo ISI Surakarta berubah total menjadi panggung ritual kebudayaan yang khidmat. Hal ini menjadi perayaan estetika yang menyatu penuh dengan jiwa para sarjananya.
Pertanyaannya kemudian, kenapa ISI Surakarta begitu teguh memilih jalan ini alih-alih ikut mengenakan toga?
Jawabannya sederhana, nguri-uri budaya di sini bukan sekadar jargon manis di brosur penerimaan mahasiswa baru atau spanduk formalitas di gerbang kampus.
Sebagai institusi pendidikan tinggi seni, budaya bukanlah objek dingin yang cuma ada di ruang kuliah atau ditumpuk jadi teori di dalam lembaran skripsi. Budaya adalah sesuatu yang hidup, dirawat, dan dipraktikkan hingga ke momentum paling sakral dalam perjalanan akademis mereka.
Penulis: Arrauna Bening Aji Kus Indriani
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Wisuda Unesa yang ditunggu-tunggu malah bikin saya gengsi dan malu.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.