Saya selalu mempertanyakan, mengapa daerah dengan perputaran ekonomi sekuat Kudus hingga saat ini tidak dilalui oleh kereta api penumpang. Apa yang kurang? Lokasinya strategis, ekonomi berputar, mobilitas masyarakat pun tinggi, jadi kabupaten ini tidak sunyi.
Memang, pilihan transportasi masuk dan keluar kudus tidak sedikit. Ada bus dan travel dengan berbagai sistem jadi pilihan yang paling utama. Untuk jarak dekat antarkota, misalnya pergi atau dari Semarang, Solo, Jogja atau daerah lain sekitar kudus, pilihannya jatuh ke travel.
Masalahnya, naik travel punya tantangan tersendiri. Moda transportasi ini bikin stress dan waswas.
Saya tidak bisa mungkiri bahwa keberadaan travel memang sangat membantu. Jadwalnya beragam, titik keberangkatannya tersebar di banyak titik, dan beberapa agen travel tak jarang menawarkan penjemputan di lokasi penumpang (beberapa).
Tapi ya itu. Para travel ini menganggap jalur pantura sudah seperti lintasan balap yang membuat mereka meliuk-liuk dan menyalip dari sisi kanan-kiri tanpa pandang bulu. Kalau naik bis, guncangannya mungkin tidak terlalu terasa. Tapi kalau naik travel, sedikit gelombang atau jendolan di jalan saja sangat terasa efeknya bagi penumpang.
Pengalaman naik travel Jogja-Kudus
Teman saya punya pengalaman serupa ketika dia naik travel dari Jogja menuju Kudus. Dia melihat bagaimana supir menyetir dengan kecepatan tinggi. Memang akhirnya sampai tujuan dengan cepat dan tepat waktu. Tetapi selama perjalanan, teman saya tidak bisa duduk santai karena khawatir kalau tertidur, dia sudah bangun di alam lain.
Lagi pula, ruang antara kursinya yang sempit membuat penumpang jarang bisa tertidur nyenyak saat perjalanan. Ya apalagi ditambah dengan guncangan selama perjalanan. Selain itu, kaki pun tidak bisa leluasa seperti di bus atau kereta.
Gambarannya kalau di kereta, capek duduk, kita bisa berdiri, atau bergerak ke kafetaria belakang untuk memesan kopi. Kalau di travel, ya kita hanya bisa duduk dia seperti batu dan tetap berharap selamat di perjalanan.
Balik ke pertanyaan di awal tulisan, mengapa Kudus tidak dilalui kereta api?
Perputaran ekonomi Kudus sangat besar
Masuk akal ketika Kudus statusnya adalah daerah kecil di lokasi tengah gunung yang mobilitas penduduknya rendah. Sehingga ketiadaan kereta api bisa dimaklumi. Masalahnya, Kudus tidak begitu.
Kudus punya perputaran ekonomi yang sangat besar. BPS mencatat PDRB Kabupaten Kudus pada 2025 mencapai sekitar Rp132,3 triliun. Sebagian sangat besarnya berasal dari industri pengolahan. Artinya, aktivitas ekonomi Kudus bukan hanya perdagangan lokal, tetapi juga industri dengan pergerakan tenaga kerja, barang, dan jasa yang tinggi.
Secara lokasi, Kudus sangat strategis karena berada di jalur pantura, menjadi penghubung Semarang, Demak, Pati, Rembang, Purwodadi, dan daerah Jawa tengah bagian tengah lainnya.
Tapi sayangnya, kalau masyarakat yang ingin pergi dari atau datang ke Kudus naik kereta api, harus menuju harus lewat Semarang dulu. Mau naik kereta saja harus perjalanan lintas kota dulu. Lah kok kalah sama Kendal.
Banyak yang tak tahu, ternyata Kudus pernah dilalui kereta api. Jadi dulu ada jalur Demak-Kudus yang beroperasi sejak akhir abad ke-19. Setelah itu, stasiun Kudus dipindahkan ke kawasan Wergu pada 1919 dan pernah menjadi salah satu stasiun penting.
Operasional kereta kemudian berhenti pada tahun 1980-an setelah kalah bersaing dengan kendaraan jalan raya. Jadi alasan tak ada jalur kereta karena tak ada peminatnya pada saat itu.
Ironisnya, beberapa puluh tahun kemudian, ketergantungan terhadap kendaraan jalan raya justru merepotkan.
Stasiun Kudus direvitalisasi
Belakangan, diketahui bahwa eks Stasiun Kudus di Wergu justru direvitalisasi untuk menjadi ruang aktivitas masyarakat dan komersial. Di sana nantinya direncanakan terdapat berbagai fasilitas sekaligus layanan tiket KAI. Lucunya, pada 2026, ada wacana dari KAI untuk menyediakan shuttle dari eks Stasiun Kudus menuju Stasiun Tawang dan Poncol di Semarang.
Coba telaah baik-baik. Kudus punya bekas stasiun kereta. Sekarang bekas stasiun itu dimanfaatkan untuk komersil tapi di dalamnya ada layanan perjalanan dari KAI. Jadi untuk naik kereta, penumpangnya tetap harus naik kendaraan yang berlokasi di bangunan bekas stasiun untuk menuju stasiun yang ada di Semarang. Lucu wkwkwk.
Yah untuk sementara bisa terima lah. Tapi kalau pertumbuhan penumpang kereta dari dan ke Kudus meningkat, ya kenapa tak sekalian didirikan stasiun?
Sebaiknya rencana ini direalisasikan
Padahal, gagasan menghidupkan jalur kereta ke arah Kudus sudah masuk dalam rencana Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kudus, bahkan sudah tercantum rencana jaringan kereta Semarang-Demak-Kudus-Pati-Rembang.
Kalau berbicara letak stasiunnya di mana. Maka yang paling ideal ya di Kecamatan Kota Kudus. Sebab lokasinya dekat dengan pusat perdagangan, permukiman, dan aktivitas masyarakat. Opsi lainnya bisa kembali di Kawasan Wergu dan sekitarnya yang punya nilai historis karena dahulu memang menjadi lokasi Stasiun Kudus.
Sebaiknya, rencana ini beneran segera direalisasikan. Sekali lagi, Kudus punya aktivitas ekonomi yang besar, penduduk dengan mobilitas yang tinggi, dan posisi yang strategis.
Rasanya aneh kalau semuanya sudah bagus, tapi hingga sekarang kalau mau pergi dari atau datang ke Kudus harus naik travel yang bikin badan auto menggigil karena guncangan dan pikiran stres karena di sepanjang jalan memeluk rasa khawatir.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.