Tidak semua orang bisa menempuh studi di luar negeri alias menjadi mahasiswa diaspora. Hanya segelintir orang saja yang punya kesempatan mengurus visa, membeli tiket pesawat, lalu terbang ribuan kilometer demi belajar hal baru.
Akan tetapi, sejauh pengalaman saya tinggal di Mesir, setelah susah-susah berpindah, lingkungan atau perkawanan mahasiswa diaspora kebanyakan masih orang-orang Indonesia saja. Saya pun juga demikian.
Memang ada kesenangan tersendiri ketika bertemu dengan orang Indonesia di negara lain. Plong atau lega rasanya ketika bisa ngobrol dengan bahasa Indonesia. Terlebih ngobrolnya ditemani kudapan dari kampung halaman. Ah, hal-hal yang familier ini benar-benar bikin hangat dan betah.
Akan tetapi, jujur saja, ada rasa janggal yang bercokol ketika terus-terusan bertemu dengan orang Indonesia. Sebab, menurut saya, salah satu manfaat merantau ke negeri orang adalah belajar menikmati keterasingan.
Di sana kita dipaksa menyadari bahwa ada banyak cara hidup di dunia ini. Cara hidup yang selama ini kita anggap biasa ternyata bukan satu-satunya cara hidup yang mungkin. Kalau sedikit-sedikit berkumpul dengan orang Indonesia, kapan kita akan belajar?
Lagi pula, dipikir-pikir, aneh juga kita sudah jauh-jauh menempuh ribuan kilometer dari tanah air, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, dan menghabiskan banyak waktu di negara orang, tapi maunya kumpul dengan orang-orang dari Indonesia saja.
Ini jadi refleksi untuk diri saya juga. Kebiasaan-kebiasaan “aneh” yang membuat kesempatan berharga studi di luar negeri tidak maksimal memang sebaiknya ditinggal di tanah air saja.
#1 Mahasiswa diaspora selalu bergerombol dengan sebangsa
Ini adalah hal pertama yang selalu saya jumpai dan seakan sulit untuk dihilangkan. Termasuk untuk saya sendiri.
Awal tinggal di Mesir, rasanya tidak sulit mencari orang Indonesia. Mau beli pulsa ke orang Indonesia, mau ngopi kekinian ada kafe Indonesia, butuh jasa tertentu tinggal bertanya di grup Indonesia. Bahkan, kalau ingin mencari teman, kita tidak perlu pergi jauh-jauh, cukup berjalan 10 meter di kawasan pemukiman mahasiswa.
Sebenarnya secara umum ini tidak jadi persoalan. Masalahnya adalah ketika kita datang ke negeri orang hanya untuk mencari orang Indonesia. Kenyamanan itu lama-lama malah menciptakan bubble sosial sendiri yang memisahkan diaspora dan penduduk lokal. Agak lucu rasanya bertahun tahun kami di negeri orang, tapi hanya sedikit teman yang kami punya dari penduduk setempat.
#2 Mahasiswa diaspora enggan membaur
Menurut pengalaman yang saya jumpai di Mesir, kebanyakan mahasiswa Indonesia cenderung menghindari berinteraksi dengan penduduk lokal. Entah karena memang orang-orangnya pemalu atau terlalu waspada terhadap orang dan lingkungan baru.
Hal-hal seperti itulah yang mempertegas sekat antara diaspora dan warga lokal. Kita bisa tinggal bertahun-tahun di sebuah negara, tapi pengetahuan kita tentang masyarakatnya berhenti pada nama makanan, tempat wisata, dan meme tentang mereka.
Saya adalah salah satu contoh buruk mahasiswa diaspora macam itu. Setelah 3 tahun merantau, saya masih saja belum memahami negara ini seutuhnya. Pada saat itu saya pernah dimintai tolong oleh teman seangkatan untuk menerjemahkan percakapan sederhana dengan seorang penjual. Padahal, dalam lubuk hati saya yang sudah 3 tahun di negara ini, saya sendiri nggak paham barang khas yang kawan saya maksud itu.
#3 Malas memahami sudut pandang penduduk lokal
Saya, dan mungkin banyak mahasiswa diaspora lain, sering dibuat jengkel oleh birokrasi kampus atau apapun yang menyangkut hajat hidup kami di sini. Pelayanannya begitu lama dan berbelit-belit. Kami sering dilempar dari satu orang ke orang yang lain. Pelayanannya pun kerap tiba-tiba ditunda tanpa alasan jelas. Manusia waras mana yang cukup sabar untuk menghadapi itu semua terus-menerus?
Semakin ke sini saya sadar, saya perlu memahami mengapa banyak dari mereka melakukan itu. Ada banyak faktor yang membuat mereka bekerja seperti itu. Faktor-faktor yang menurut kita tidak masuk akal, tapi perlu kita tolerir karena hidup di negara mereka.
#4 Terlalu naif di perantauan
Pada dasarnya, manusia di mana pun tetap manusia. Mereka bisa ramah, jujur, licik, malas, rajin, atau sekadar sedang mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Orang jahat tetap bisa ditemukan di Jakarta, Surabaya, maupun Kairo. Perkataan Bang Napi pun juga akan selalu relevan, “Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.”
Masalahnya, bagi sebagian orang, terutama yang pertama kali merantau ke negara orang, tanah perantauan dianggap aman seperti negara sendiri. Pola pikir naif macam ini membuat mahasiswa diaspora mudah ditipu. Namun, bukan berarti mahasiswa menganggap semua orang jahat ya. Pola pikir ini juga naif karena membuat mahasiswa diaspora jadi nggak berkembang.
Pada akhirnya, saya tidak mengatakan bahwa menjadi diaspora berarti harus berhenti menjadi orang Indonesia. Sah-sah saja kita tetap makan dengan sambal, berteman dengan teman sebangsa, bahkan mengeluhkan tempat kita merantau. Itu semua menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seorang perantau. Yang perlu ditinggalkan adalah kebiasaan menjadikan kampung halaman sebagai satu-satunya ukuran untuk memahami dunia.
Sebab, kalau tiap kali menemukan hal yang dianggap janggal kita buru-buru kembali ke kelompok sendiri, mencurigai masyarakat lokal, dan menganggap cara hidup kita sebagai standar yang paling masuk akal, lalu apa yang sebenarnya kita dapatkan dari perjalanan sejauh ini?
Penulis: Muhammad Iqbal Fawwazi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir bingung melanjutkan hidup setelah lulus.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.