Kebanyakan warga kota menikmati hari Minggu dengan berolahraga dan kulineran di CFD di alun-alun kota. Warga Kecamatan Karangawen Demak punya cara yang sedikit berbeda. Kami punya pilihan sendiri untuk menikmati Minggu pagi yang sekaligus menguji adrenalin: Pasar Krempyeng Tlogorejo.
Tempatnya jelas tidak seperti food court mewah ber-AC atau kafe kekinian. Di sini, area kuliner terhampar di sekitar perlintasan kereta api aktif. Jika food court biasa punya meja makan yang proper, di sini warga bisa lesehan di sekitar bantalan rel. Hiburannya pun gratis, yaitu riuh rendahnya aktivitas warga lokal yang hilir mudik sejak pagi.
Berburu sarapan dan hiburan murah meriah di Pasar Krempyeng
Sejak pukul 06.00, jalan di sekitar perlintasan rel Karangawen Demak sudah mulai ramai. Kendaraan seperti motor dan sepeda diparkir di titik-titik parkir warga sebelum area jualan. Selebihnya, pengunjung berjalan kaki santai untuk berburu sarapan sambil menikmati udara pagi.
Pilihan kulinernya sangat melimpah dan merakyat. Ada makanan berat khas lokal seperti nasi jagung, pecel, getuk, aneka bubur, lontong sate, hingga soto hangat. Buat yang cuma ingin mengemil, ada jajanan SD sampai makanan kekinian, mulai dari leker, tahu bulat, cilor, maklor, mochi, hingga takoyaki.
Pasar Krempyeng ini juga menjadi surga hiburan bagi anak-anak. Di pinggir jalan ada trampolin rakitan, area mewarnai, sepur-sepuran mini, hingga pedagang ayam warna-warni yang bisa membuat anak kecil merengek minta dibelikan. Tak ketinggalan, deretan lapak pakaian, kacamata, sandal, hingga sepatu murah meriah ikut meramaikan suasana.
Ramai, tapi tetap saling mengalah
Uniknya, para pedagang di Pasar Krempyeng berjualan di bahu jalan yang juga masih dilewati warga untuk bepergian. Meski begitu, aktivitas jual beli dan lalu lintas tetap berjalan dengan adanya toleransi dari kedua belah pihak. Pengendara memperlambat laju kendaraannya, sementara pedagang dan pejalan kaki berusaha memberi ruang. Suasananya pun terasa ramai, tetapi tetap cair dan akrab.
Setelah memborong sarapan dan jajanan yang menggugah selera, para pengunjung mulai berburu “tempat duduk favorit”. Salah satu titik yang sering dipilih adalah area sekitar bantalan rel perlintasan kereta api.
Duduk lesehan sambil menikmati makanan dan mengamati keriuhan sekitar memang menjadi bagian unik dari pengalaman di pasar ini. Namun, sekitar pukul 07.00, suasana santai itu bisa tiba-tiba berubah menjadi drama komedi khas Karangawen.
Saat kereta datang, semua minggir!
Ketika sirene perlintasan berbunyi dan klakson lokomotif terdengar dari kejauhan, petugas PLJ (Penjaga Jalan Lintasan) langsung mengambil peran sebagai komandan lapangan. Melalui pengeras suara, beliau memberikan instruksi tegas agar area rel segera dikosongkan. Aktivitas di Pasar Krempyeng seketika berhenti sejenak.
“Ayo, minggir-minggir! Kereta mau lewat!”
Seketika, orang-orang yang tadinya asyik menyuap nasi jagung, pecel, atau mengobrol langsung berdiri dan menyingkir. Bahkan, terkadang tanpa perlu menunggu imbauan dari petugas, warga sudah mengetahui tanda-tandanya begitu mendengar sirene dari kejauhan. Bungkusan makanan pun ikut diamankan sebelum mereka berpindah ke tempat yang lebih aman.
Palang pintu ditutup. Dalam hitungan detik, kereta api melaju kencang tepat di depan mata. Suara roda besi, bunyi klakson, dan hembusan angin dari kereta yang melintas menjadi pemandangan tersendiri bagi pengunjung. Setelah kereta benar-benar lewat, suasana pun perlahan kembali seperti semula.
Hal yang menarik dari Pasar Krempyeng ini adalah kebiasaan warga untuk mengikuti arahan petugas ketika kereta akan melintas. Area rel yang sebelumnya digunakan untuk duduk dan beraktivitas harus segera dikosongkan, karena perlintasan kereta api aktif tentu memiliki risiko keselamatan yang tidak boleh dianggap sepele.
Saat kereta pergi, Pasar Krempyeng kembali ramai
Soal kebersihan, warga juga ikut peduli dengan menyediakan tempat sampah di sekitar area pinggiran rel. Pengunjung tidak asal melempar atau meninggalkan bungkus makanan di jalur kereta. Meski begitu, kebersihan tetap menjadi tanggung jawab bersama agar aktivitas pasar tidak mengganggu lingkungan maupun perjalanan kereta api.
Pemandangan paling unik biasanya terjadi setelah gerbong terakhir melintas dan pintu perlintasan kembali terbuka. Warga yang tadi menepi mulai kembali melanjutkan aktivitas di area pasar. Obrolan yang sempat terputus kembali bersambung, sementara makanan yang tadi diamankan kembali disantap.
Seolah-olah, kereta yang melintas tadi hanyalah jeda iklan sesaat.
Bagi warga Karangawen, Pasar Krempyeng bukan hanya tempat jual beli. Ini adalah ruang relaksasi setelah penat bekerja dan sekolah, sekaligus tempat mampir sarapan bagi buruh yang baru pulang dari shift malam. Tempat ini juga menjadi solusi alternatif bagi ibu-ibu yang sedang malas memasak, sekaligus sarana murah meriah untuk membahagiakan anak.
Mungkin bagi orang luar daerah, suasana Pasar Krempyeng Tlogorejo yang berada di sekitar perlintasan kereta api aktif akan terasa unik, bahkan sedikit menegangkan. Namun bagi warga Karangawen, pasar ini sudah menjadi bagian dari kehidupan Minggu pagi: sederhana, ramai, merakyat, dan penuh cerita.
Sebab, bagi warga Karangawen Demak, kebahagiaan dan hiburan akhir pekan tidak harus mahal atau jauh. Kadang, cukup datang ke kecamatan sendiri, sarapan sederhana, bertemu tetangga, lalu menikmati ramainya kehidupan lokal. Sudah lebih dari cukup.
Penulis: Eka Julianti
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Mranggen, Kecamatan di Ujung Barat Demak yang Lebih Kota dari Ibu Kota Demak Sendiri
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.