Informasi
ADVERTISEMENT

Banjarnegara ditinggal kabur karena warganya tidak punya banyak pilihan hidup

Banjarnegara ditinggal kabur karena warganya tidak punya banyak pilihan hidup Mojok.co

Saya orang Banjarnegara dan cukup bangga dengan tanah kelahiran ini. Bagaimana tidak, kini Banjarnegara banyak dikenal sebagai kabupaten dengan pesona alam yang indah. Tampaknya, dataran tinggi Dieng benar-benar menyelamatkan citra Banjarnegara di kancah nasional.

Ya siapa sih yang nggak terpikat dengan pesona Dieng. Pengunjung bisa merasakan suasana lingkungan tenang, masyarakat yang ramah, pegunungan yang hijau, dan wisata alam yang mempesona. Tentu siapa saja yang pernah kesana akan mudah jatuh cinta dengannya.

Akan tetapi, Banjarnegara tidak melulu soal Dieng. Ada realita menantang yang membuat sebagian besar masyarakatnya, memilih kabur ke kota lain. 

Saat saya kecil, pemandangan pamitnya para kerabat dan tetangga terdekat, untuk merantau ke kota-kota besar, terasa sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa-biasa saja. Namun, kejanggalan itu baru terasa, saat saya mungkin mulai memahami, apa yang mereka rasakan.

Saya yakin sebetulnya, mereka tidak benar-benar ingin pergi, meninggalkan keluarga di kampung halaman. Melainkan mereka tidak punya pilihan lain, selain menggantungkan hidupnya di kota orang. Keterbatasan kepastian finansial hidup di Banjarnegara menjadi alasan utama bagi masyarakatnya untuk berpaling ke kota.

Banjarnegara sebagai kabupaten dengan UMK terendah se-Jawa Tengah

Sebagian wilayah Banjarnegara memang juara, jika soal alam yang asri, yang membuat ritme hidup terasa seakan lebih santai. Namun, kenyamanan lingkungan hidup, tidak hanya diukur dari kecantikan geografisnya saja. Melainkan juga dari kepastian finansial masyarakatnya dalam bekerja.

Hampir dari tahun ke tahun, Banjarnegara konsisten mencatatkan Upah Minimum Kabupaten (UMK) pada podium deretan terendah di Jawa Tengah. Tentu predikat ini, bukan sekadar angka, tapi menunjukkan sisi gelap yang diam-diam sedang dihadapi oleh masyarakat Banjarnegara.

Siapa yang tidak ragu untuk menggantungkan hidupnya di Banjarnegara. Ketika keringat kerja keras hanya dihargai seadanya oleh besaran UMK. Sementara kebutuhan harian mereka menumpuk.

Sebenarnya, anggapan biaya hidup di Banjarnegara murah, tidak sepenuhnya salah. Tetapi, komoditas harga nasional hari ini, tetap sebanding dengan daerah lain. Karena tidak ada istilahnya, diskon khusus bagi masyarakat Banjarnegara, sebagai daerah UMK terendah di Jawa Tengah.

Maka wajar saja, jika masyarakatnya berbondong-bondong pergi merantau, menggantung nasib di kota lain, yang menawarkan harapan hidup yang lebih baik, mereka rela menukar jarak dengan kepastian terpenuhinya kebutuhan hidup bagi keluarganya di rumah.

Lapangan kerja yang sangat sempit

Tampaknya, Banjarnagara memang belum siap untuk benar-benar menjadi sandaran finansial bagi masyarakatnya. Tiadanya lapangan kerja yang menyeluruh, seolah-olah mengizinkan masyarakatnya untuk menggantungkan hidupnya ke kota lain.

Saat masih mukim di Jogja. Sepertinya, saya agak bosan, menyaksikan banyaknya seliweran poster lowongan kerja yang tersebar di media sosial. Sebaliknya, di Banjarnegara, kita harus pandai mencari informasi lowongan pekerjaan yang sangat jarang muncul di beranda.

Bagi para tuan tanah, Banjarnegara mungkin adalah surga yang menjanjikan sumber kekayaan alam yang melimpah. Namun bagi para buruh, karyawan dan masyarakat yang terpinggir, Banjarnegara adalah gelanggang yang melelahkan. Saat persoalan UMK belum juga usai, pintu peluang kerja di sekitar juga semakin menyempit.

Di saat daerah tetangga terdekatnya, semakin mantap dalam melangkah. Misalnya, Purbalingga yang semakin yakin dengan industri manufakturnya, Banyumas dengan pusat pendidikan dan layanan publiknya, serta Wonosobo yang giat memoles wajah pariwisatanya.

Rupanya, Banjarnegara seolah berdiri ragu di tengah persimpangan jalan, untuk kembali rebranding citranya. Banjarnegara seperti kehilangan arah dan bimbang dalam menentukan wajah mana yang ingin ditontonkan kepada dunia, entah pesona wisatanya, kelezatan kulinernya, ataukah kekayaan alamnya yang melimpah.

Penulis: M. Lubab Rofiul Ula
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Banjarnegara, Daerah “Pendiam” yang Saking Diamnya Tenggelam oleh Ketenaran Dieng.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2026 oleh .

M. Lubab Rofiul Ula

Kontributor aktif media opini dan satir.