Informasi
ADVERTISEMENT

5 tanda kalian nggak cocok hidup di Malang dan sebaiknya jangan coba-coba

5 tanda kalian nggak cocok hidup di Malang dan sebaiknya jangan coba-coba Mojok.co

Ada banyak orang yang menganggap Malang adalah kota atau wilayah yang enak untuk hidup. Hawa yang sejuk, biaya hidup yang cenderung murah, hingga lingkungan yang (katanya) asri menjadi beberapa alasannya. Nggak heran banyak orang, khususnya perantau, memutuskan untuk tetap tinggal di Paris van East Java setelah kuliahnya beres.

Alasan-alasan tersebut ada benarnya. Malang memang punya hawa yang sejuk, secara letaknya ada di kaki gunung. Biaya hidupnya juga cenderung murah, mulai dari biaya tinggal (kos atau kontrakan), hingga biaya makan. Mirip seperti Jogja, tapi dengan UMR yang lebih tinggi. Soal lingkungannya yang asri, ada beberapa tempat kota ini yang memang begitu.

Sayangnya, nggak semua orang bisa cocok dan betah hidup di Paris van East Java. Ada banyak hal yang memang nggak ketemu antara ekspektasi dan kenyataan. Beberapa tanda di antaranya sebagai berikut.

#1 Malang tidak untuk mereka yang nggak bisa hidup di daerah yang dingin

Nggak seperti dulu, Malang itu sudah nggak dingin. Makin hari, Malang makin panas. Pembangunan dan alih fungsi lahan jadi salah satu penyebabnya. Orang lokal asli sudah bertahun-tahun sambat perkara hal ini. Namun, bukan berarti panasnya Malang sudah sepanas Surabaya, Jakarta, atau beberapa kota di Kalimantan.

Sepanas-panasnya Malang, suhu rata-ratanya masih berada di 22-24 derajat. Kalau pagi dan malam, suhunya bisa mencapai 18 derajat, bahkan di bawahnya. Di bulan-bulan tertentu seperti Juni-Agustus, Malang masuk masa bediding alias dingin yang cukup ekstrem. Suhunya bisa mencapai 16 derajat. Bagi yang nggak bisa hidup di daerah dingin, jelas nggak cocok hidup di Malang.

Bayangkan saja, kalian yang terbiasa hidup di daerah yang suhunya 30 derajat, lalu hidup di daerah yang suhu 22 derajat bahkan lebih rendah, ya jelas kesulitan. Kalian akan gampang sakit, dan bisa jadi nggak betah.

#2 Mereka yang mencari ketenangan, menghindari kebisingan tidak cocok hidup di Malang 

Salah besar kalau kalian memilih untuk hidup di Malang dengan alasan menghindari kebisingan, mencari ketenangan atau slow living. Ini adalah kekeliruan dan kesalahpahaman yang perlu diluruskan berkali-kali. Sebab, Malang saat ini sudah jauh dari kata tenang, bahkan sudah sangat jauh dari cap slow living.

Sekarang, Malang itu isinya macet setiap hari. Belum lagi soal sound horeg yang seakan ada terus tiap bulan. Lalu soal rentetan konflik antar warga dan pemerintah, hingga kejadian lain seperti banjir di musim hujan. Semua ini jelas sangat jauh dari ketenangan. Makanya, kalau kalian bertujuan untuk mencari ketenangan, Malang sudah jelas bukan pilihan. Kalau tetap memaksa, sudah pasti kalian nggak akan cocok dan betah hidup di Paris van East Java.

#3 Mudah baper dengan gaya bicara arek Malang yang lugas dan ceplas-ceplos

Gaya berbicara orang Malang memang nggak seceplas-ceplos dan selugas orang Surabaya. Namun, sebagai sesama penutur dialek arek, gaya bicara orang Malang masih tergolong ceplas-ceplos. Frasa “cok” atau “jancok” masih jadi kosakata harian, nada-nada yang lebih tinggi juga sudah jadi ciri khas. Orang lokal juga nggak sungkan untuk ngomong langsung (mengonfrontasi) di depan orang yang bersangkutan. Ini sudah jadi identitaslah. 

Bagi kalian yang susah beradaptasi, apalagi mudah baper, tentu akan nggak siap jika mendengar bagaimana orang Malang kalau sedang ngobrol. Kalian juga nggak akan siap mendengar frasa “cok atau “jancok” yang terselip di setiap kalimat. Kalian akan menganggapnya sebagai umpatan, atau kemarahan. Kalian akan merasa terkonfrontasi, padahal konteksnya ya cuma ngobrol biasa saja.

Itu mengapa, kalau kalian masih mudah baper dan gampang sakit hati, mending nggak usah berpikir untuk tinggal di Malang. Jelas nggak akan cocok!

#4 Terobsesi dengan jalan kaki

Katakanlah kalian sudah lama tinggal di Eropa, atau mungkin di kota-kota lain di Indonesia yang cukup ramah dengan pejalan kaki. Lalu suatu saat kalian tinggal dan hidup di Malang, maka itu jelas adalah sebuah kemerosotan. Sebab Malang adalah kota yang sangat nggak ramah dengan pejalan kaki. Trotoarnya berantakan, nggak jelas, sangat nggak layak, lah, untuk pejalan kaki.

Itu mengapa, kalian yang sangat terobsesi dengan jalan kaki, yang ke mana-mana suka jalan kaki pasti nggak akan cocok hidup di daerah ini. Alih-alih bahagia, kalian akan marah melihat bagaimana Malang memperlakukan para pejalan kaki. Plus, pihak Pemkot juga kayak nggak peduli akan hal ini. Jadi, lupakan saja angan-angan tinggal dan hidup di Malang kalau kalian terobsesi dengan jalan kaki.

#5 Terobsesi dengan transportasi publik yang terintegrasi

Selain nggak ramah dengan pejalan kaki, Malang juga nggak ramah dengan transportasi umum. Maksudnya, transportasi umum di Malang ini masih belum terintegrasi, bahkan masih berantakan, lah. Angkutan kotanya masih nggak jelas (baik secara kualitas maupun operasionalnya). Adanya Trans Jatim yang baru juga belum mampu mengintegrasikan tiap-tiap titik di Malang.

Itu mengapa Malang bukanlah kota/daerah yang cocok untuk kalian yang sangat terobsesi dengan transportasi umum yang terintegrasi. Kalian akan tetap butuh kendaraan pribadi (minimal ojek online) kalau ingin menuju beberapa wilayah yang belum “tersentuh” angkutan umum.

Jika kelima hal di atas ada pada kalian, berarti kalian sudah pasti nggak cocok hidup di Malang. Kalau kalian nggak bisa hidup di suhu yang dingin, kalau kalian mencari slow living, atau kalau kalian terobsesi dengan jalan kaki dan transportasi umum yang terintegrasi, Paris van East Java jelas bukan jadi pilihan. Mending cari kota lain saja.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Malang lebih banyak mengajarkan saya cara bertahan hidup daripada Jogja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2026 oleh .

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.