Semua ini bermula dari kenangan masa-masa kuliah dulu, saat kami sering nongkrong bareng. Teman-teman saya dari universitas yang waktu itu lagi sibuk-sibuknya nyiapin KKN suka banget melempar ledekan karena kampus politeknik saya nggak punya program pengabdian semacam itu. Mereka membanggakan keseruan hidup di desa, padahal sebenarnya mereka sendiri sama sekali nggak paham apa itu PKL yang sesungguhnya.
Mendengar sindiran mereka waktu itu, saya cuma bisa tersenyum tipis sambil membatin.
Dari ajang saling ledek di warung kopi itulah saya menyadari satu hal penting. Bawa nama baik kampus di dunia industri itu beda kelasnya, dan kenangan masa kuliah ini membuktikan betapa jauhnya perbedaan antara ritme PKL anak politeknik dan cerita KKN anak universitas.
Beda KKN dan PKL bagi mahasiswa
Jujur saja, waktu masih kuliah dulu, kalau ngeliat cerita anak-anak universitas yang baru pulang KKN, saya cuma bisa geleng-geleng. Isinya kalau nggak drama cinta lokasi sama teman sekelompok, ya cinta terlarang sama pemuda karang taruna setempat. Semua energi mereka rasanya habis cuma buat ngurusin hal-hal sepele yang nggak ada hubungannya sama masa depan.
Sementara saya di lokasi PKL kala itu, ritme hidup langsung berubah 180 derajat begitu menginjakkan kaki di tempat magang. Fokus saya sepenuhnya terserap buat memahami standar operasional, menghadapi ritme kerja industri yang serba cepat, dan menjaga sikap di depan pembimbing lapangan. Mana sempat kepikiran buat bikin drama pribadi kalau target mingguan dari perusahaan terus mengejar tanpa ampun.
Menjaga marwah kampus di arena industri
Bagi saya saat masih berstatus mahasiswa, menjalani PKL itu ibarat membawa stempel instansi di jidat yang bakal dilihat langsung oleh para profesional. Setiap gerak-gerik, cara berkomunikasi, sampai kualitas hasil kerja yang saya setorkan jadi cermin penilaian terhadap kualitas pendidikan kampus tempat saya menimba ilmu.
Kalau saya asal-asalan, bukan cuma nilai saya yang hancur. Tapi pintu kesempatan buat adik tingkat di masa depan bisa langsung tertutup rapat.
Tanggung jawab besar inilah yang bikin saya nggak berani bertindak sembrono selama berada di lingkungan kerja. Saya dilatih buat sigap menyelesaikan masalah teknis, beradaptasi dengan budaya perusahaan, dan menunjukkan etos kerja yang solid. Kebanggaan tersendiri rasanya ketika pembimbing lapangan memberikan apresiasi atas performa saya. Pengalaman menghadapi tekanan nyata di dunia kerja semasa kuliah ini benar-benar membentuk mental saya jadi jauh lebih matang.
Keunggulan mutlak yang cuma milik anak politeknik
Satu hal yang paling saya syukuri dari masa-masa kuliah adalah porsi PKL politeknik yang porsinya nggak main-main. Durasinya panjang, ekosistemnya sudah terintegrasi langsung dengan industri. Kurikulum politeknik yang dominan praktik sejak semester awal bikin saya nggak gagap waktu disuruh megang alat berat, baca cetak biru proyek, atau eksekusi langsung di lapangan.
Anak universitas mana ada yang dapet porsi pengalaman industri sekomprehensif dan se-spesifik ini sewaktu kuliah dan KKN. Ketika mereka masih sibuk adu argumen teori di ruang kelas atau sibuk urus proker posko pengabdian, saya sudah terbiasa berhadapan dengan deadline teknis, dan jaringan profesional yang nantinya langsung jadi karpet merah saat lulus.
Pada akhirnya, pengalaman PKL di masa kuliah dulu menjadi pembuktian bahwa proses belajar terbaik adalah dengan terjun langsung dan merasakan kerasnya tantangan di lapangan. Kini setelah kami semua melangkah ke dunia kerja masing-masing, baru terasa bedanya. Saya melangkah bukan membawa kenangan drama picisan, melainkan portofolio kerja, jaringan profesional, dan kesiapan mental yang utuh.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.