Informasi
ADVERTISEMENT

Stasiun Tugu Jogja, saksi duka, cinta, harapan, serta kekalahan orang-orang di Jogja

Stasiun Tugu Jogja, saksi duka, cinta, harapan, serta kekalahan orang-orang di Jogja

Bulan sudah berkurang seperempat sejak semalam. Tapi masih cukup untuk menerangi Kota Jogja yang tidak pernah terlelap. Berebut cahaya dengan lampu dekoratif kekuningan yang dirubung orang untuk selfie. Juga lampu merah berkedip tanda kereta melintas. Membawa orang pulang dan pergi melalui Stasiun Tugu Jogja.

Aku melihat ratusan orang saling mengoceh dengan sesamanya. Sesekali ada sesenggukan dan tepukan pundak. Di ujung utara ada tawa renyah beberapa pemuda setelah foto bersama. Dan tepat di belakangku, ada bapak-bapak sepuh menawarkan rokok ketengan.

Coba kamu tengok lebih jauh, menyeberang rel kereta. Kamu bisa lihat barisan aparat berdiri penuh kewibawaan? Seperti patung yang dilintasi bapak-bapak yang kesulitan membawa koper berwarna merah? Sambil pura-pura tidak melihat pengemis yang mengangkat topi terbalik memohon recehan.

Ayo temani aku masuk Stasiun Tugu. Bukan untuk beli tiket atau menjemput saudara. Tapi untuk melihat bagaimana bangunan berusia seratus tahun lebih ini memayungi air mata dan duka cita manusia. Juga mengayomi mimpi-mimpi romantis dan kesuksesan.

Mereka yang berangkat untuk menang

Di bawah tulisan Stasiun Tugu berwarna merah, kulihat ada seorang pemuda yang dipeluk erat ibunya. Jelas ada air mata jatuh, tak rela anaknya merantau. Meskipun demi kondisi ekonomi yang lebih baik. Tapi aku memahami keputusan merantau itu. Siapa juga yang bisa bertahan hidup dengan upah dua juta empat ratus setiap bulannya? Ketika kamu butuh empat juta lebih untuk hidup layak menurut KHL yang dirilis Goodstats.

Belum lama si pemuda itu masuk stasiun, ada enam orang penuh tawa turun dari Avanza berwarna putih. Bergantian memeluk satu orang yang menenteng travel bag dan ransel penuh oleh-oleh. Terdengar ungkapan, “see you on top, bro” “besok meetup lah di Jakarta,” dan ungkapan optimistis lain. Ternyata seorang mahasiswa yang akan meninggalkan Jogja setelah sukses menempuh strata satu.

Dua perpisahan, dengan dua rasa berbeda. Dan itulah nuansa Stasiun Tugu Jogja tiap hari. Ada yang terpaksa berpisah karena tuntutan ekonomi. Ada yang berpisah karena sudah cukup belajar di sini. Keduanya punya alasan sama, Jogja tidak menjanjikan untuk hidup dan menghidupi mereka.

Pemuda tadi, yang ditangisi ibunya, akan berjuang bersama 594 ribu orang Jogja yang merantau. Dan Stasiun Tugu menjadi saksi sunyi perpisahan untuk mimpi yang lebih baik. Meskipun seringkali mereka pulang dengan gigit jari. Menambah air mata yang menggenang di stasiun kedua Kota Jogja setelah Stasiun Lempuyangan.

Datang ke Stasiun Tugu Jogja dengan mimpi, kalah, dan duka

Ayo ikut aku menyeberang rel kereta. Melipir ke barat Loco Cafe dan masuk dari jebolan pagar area parkir Stasiun Tugu. Coba kamu lihat di selasar kedatangan, sudah ada ponsel terangkat untuk mengabadikan momen. Di sampingnya ada yang sedang membuat Instastory sambil bilang, “Akhirnya sampai guys!” Yah, tentu mereka sumringah. Setelah perjalanan beberapa jam, mereka melihat Jogja tepat di depan Malioboro.

Mungkin mereka sudah membayangkan banyak hal. Setelah tidur di penginapan, mereka berburu sarapan di Pasar Ngasem. Siangnya mungkin mendatangi galeri atau museum, menikmati sajian artistik dan informatif. Ditutup dengan nongkrong di Alun-Alun Selatan Jogja bersama anak-anak yang belajar mewarnai. Betapa indahnya Jogja di mata mereka.

Di belakangnya kulihat pemudi dengan koper besar penuh goresan. Tanda koper itu sudah menemani perjalanan hidupnya. Mungkin dia membawa oleh-oleh dan gaji pertamanya. Menghabiskan suka cita kesuksesan karier selama merantau. Atau bisa jadi dia pulang dengan malu, karena kehabisan uang dan harus pulang untuk bertahan hidup.

Realitas yang pedih, tergambar dari beberapa wajah muram mereka yang keluar dari pintu kedatangan Stasiun Tugu Jogja. Ketika pulang kampung jadi pilihan terakhir, dan mencoba bangkit bersama 2,24 juta angkatan kerja di DIY menurut BPS.

Mungkin mereka akan menelan kekalahan lagi. Ambil bagian dalam 9,7% penduduk miskin di Jogja. Tapi kalau tinggal ini pilihannya, mau apa lagi. Titik kedatangan Stasiun Tugu menjadi gerbang takdir getir bagi mereka.

Sebentar, kita diam dulu. Tapi lihatlah kakak yang meraung-raung dipeluk keluarga itu. Berkali-kali memanggil ayahnya. Ajakan untuk ikhlas dan mendoakan tidak mempan melawan takdir bahwa bapaknya berpulang. Aku bisa membayangkan bagaimana paniknya kakak itu pulang dan memanggul duka cita. Apalagi dihadapkan sistem ticketing kita yang belum praktis.

Aku yakin, orang itu bukan satu-satunya yang berduka karena keluarga meninggal. Dengan jumlah lansia hingga 674 ribu, kabar duka adalah makanan harian bagi Jogja. Tapi satu nyawa tetaplah berharga, dan Stasiun Tugu Jogja ikut berduka bersama tangisan yang kehilangan. Ikut menangis di antara selfie dan sujud syukur sudah tiba di daerah istimewa.

Wajah semrawut yang menyambut dan melepas di Stasiun Tugu Jogja

“Mari pak saya angkatkan,” ujar seorang bapak pada rombongan keluarga yang menenteng banyak koper. Langsung bangkit setelah sempat mengetik di ponselnya. Berharap keluarga itu ingin dibantu dan memberikan sedikit upah. Puji Tuhan, keluarga itu berkenan. Semoga ada makan malam yang enak bagi bapak tadi dan keluarganya, yang fotonya terpampang di lockscreen.

Bapak itu masih ramah di antara napas tersengal. Mengantar keluarga tadi masuk ke taksi online yang juga sumringah. Tapi beberapa puluh meter, Kota Jogja menyambut dengan semrawut. Kemacetan tanpa akhir di pertigaan Jalan Pasar Kembang. Bersama ratusan becak yang berharap dapat penumpang yang mau jajan di rekanan toko oleh-oleh. Juga bisik-bisik manja di antara gang wilayah Pasar Kembang.

Tapi inilah wajah Jogja yang mengelilingi Stasiun Tugu. Tumpukan sampah, orang berebut rupiah, dan sesekali konflik kecil antar pengguna jalan. Sedikit geser ke barat, ada prasasti sunyi bekas penggusuran Bong Suwung. Penggusuran berhati dingin yang memaksa penghuni pergi dalam hitungan hari demi kebutuhan PT KAI.

Belum lagi pentas kemiskinan di antara wisata dengan perputaran uang triliunan. Bukan teatrikal seperti narasi influencer yang bilang “CEO yang nyamar jadi pengemis.” Tapi benar-benar tunawisma yang berharap peneduh di sekeliling stasiun. Dari tukang becak, pengamen, pengemis, bahkan pencari kerja.

Kamu tidak percaya? Coba tengok ceruk-ceruk di bawah Jembatan Kewek di timur Stasiun Tugu Jogja. Ada banyak orang yang menggantung kemeja putih dan celana kain halus. Mereka tidur sejenak sebelum pagi mengenakan pakaian itu untuk melamar kerja. Juga beberapa orang membawa alat pertukangan, berharap ada proyek yang bisa dikerjakan mereka.

Mungkin mereka yang baru keluar dari Stasiun Tugu membayangkan ejawantah dari ‘Jogja Berhati Nyaman’. Dan langsung menemukan kekacauan kurang dari lima menit pertama. Karena wajah semrawut ini tidak bisa disembunyikan, bahkan dengan mempercantik Stasiun Tugu dan pedestriannya.

Stasiun di jalan menuju keutamaan

Aku sudah lelah melihat dukacita. Ayo kita nongkrong di trotoar Jalan Mangkubumi, tempat pintu masuk Stasiun Tugu tadi. Kamu tahu kalau jalan ini punya nilai filosofis tinggi? Maklum, Jalan Mangkubumi ada di garis imajiner Sumbu Filosofis. Menyandang nama baru yang megah: Jalan Margo Utomo.

Jalan ini adalah simbol peziarahan hidup manusia menuju kebijaksanaan. Sebelum tiba di Tugu Pal Putih di utara sana. Dan Stasiun Tugu menjadi titik awal menuju kebijaksanaan itu. Seperti yang apa kita lihat dari tadi.

Ada keberangkatan yang penuh pertaruhan dan impian. Ada kedatangan yang romantis dan kekalahan. Beberapa pergi menjemput mimpi, dan pulang menguburkan yang terkasih. Hanya kebijaksanaan yang mampu mengantar setiap momen berangkat-datang itu menuju kesempurnaan hidup.

Tapi…

Kebijaksanaan tidak cukup untuk memberi hidup layak sehingga tidak ada tangisan perantau. Atau membagi kesejahteraan pada porter dan tukang becak. Juga tidak membuat Stasiun Tugu lebih tertata dan estetis. Harus ada kerja nyata pemerintah daripada sibuk jualan narasi Sumbu Filosofis dan romantisisasi.

Ah aku mulai meracau lagi. Sebaiknya kita memandangi Stasiun Tugu Jogja saja. Bersama dengan bangunan peninggalan Belanda itu, menyaksikan suka duka. Serta menemani mereka yang berangkat dan datang dalam temaram sunyi kota para raja.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Aturan Tidak Tertulis di Stasiun Tugu Jogja, Patuhi Supaya Perjalanan Lebih Nyaman

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2026 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!