Jika kamu bertanya gunung buat pemula, hampir semua orang akan menjawab Gunung Andong dengan ketinggian 1.724 mdpl. Lokasinya terletak di Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Magelang. Jika dari arah Jogja, kamu akan memakan waktu sekitar 1 jam untuk sampai basecamp. Malam itu saya motoran dengan beberapa teman melewati Kopeng yang dingin dan sedikit kabut. Fyi, saya berangkat jam 8 malam karena akan tidur di basecamp dulu sebelum mendaki.
Kalau kamu cek media sosial, pasti banyak pendaki bercerita bahwa gunung viral ini memberikan banyak “bonus” di setiap jalur. Artinya, banyak yang landai agar kaki dan nafas masih bisa dikondisikan. Namun, sebagai orang yang sudah pernah dua kali ke sana, saya mulai ragu dengan status “ramah pemula” ini.
Pertama kali saya berangkat tahun 2016 tanpa persiapan apa pun dan berakhir capek plus tantrum. Kedua kali datang lagi, sudah dengan persiapan matang, tapi tetap saja paha terasa panas.
Naik lewat Jalur Pendem dan turun Via Sawit, banyak sambat di setiap langkah tapi view tetap indah
Pada pendakian kedua di Gunung Andong, saya mencoba lewat jalur Pendem. Katanya sih lebih mudah dan banyak kontur landai. Cocok untuk para pemula yang FOMO hiking ke gunung. Saya mulai mendaki jam 4 subuh dari basecamp Pendem bersama pendaki lain yang kebanyakan anak muda. Kelompok saya sendiri ada 10 orang dan hanya ada 3 orang yang berstatus “anak gunung”, lainnya penggembira saja (termasuk saya).
Jalur Pendem menyapa kami dengan tanjakan yang lumayan bikin betis kencang dan nafas mengkis-mengkis. Namun, saya masih bisa berjalan agak cepat karena sudah persiapan jogging sebulan sebelumnya. Banyak juga sih yang berhenti untuk mengatur nafas, bahkan ada yang mual karena ngos-ngosan. Ditambah udara dingin pagi hari khas pegunungan yang cukup menembus kulit.
Ketika turun lewat jalur Sawit, saya berharap perjalanan tidak akan penuh drama. Tapi, saya ditampar realitas karena disambut oleh banyak anak tangga berpasir yang cukup curam. Kaki dan lutut gemetaran menahan berat badan. Ingin rasanya berlari agar cepat sampai, namun apa daya, saya bukan atlet trail run.
Alhasil, banyak sambat di setiap langkah. Syukurnya, perjalanan ini disuguhi view Gunung Andong yang menyegarkan mata dengan vegetasi hijau dan pemandangan kota.
Tektok 4 jam dengan banyak istirahat karena kami semua pemula
Pemilihan metode tektok tanpa ngecamp ini didasari berbagai alasan, salah satunya agar tidak ribet mendirikan tenda dan bawa banyak perlengkapan. Sebenarnya ini ide agak nekat untuk pemula ya, tapi saya optimis karena sebagian besar dari kami sudah persiapan fisik jauh-jauh hari. Bawaan juga ringan, jadi ya optimis nggak akan terlalu banyak kendala.
Namun, ekspektasi tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Belum sampai di Pos 1, kami sudah banyak berhenti. Mengatur nafas, minum sedikit, atau sekedar menyemangati diri sendiri. Trek via Pendem katanya cocok untuk newbie tapi malah bikin kaki cekit-cekit karena banyak tangga berundak. Nafas sih nggak terlalu engap tapi lutut ini rasanya ngilu. Apa karena faktor u? Hehehe.
Total perjalanan kami 4 jam lamanya dan diwarnai drama tentunya. Meskipun begitu, tektok versi pemula ini patut diapresiasi. Tidak perlu terburu-buru, asal selamat sampai puncak dan bisa menghirup udara segar Gunung Andong dengan perasaan bahagia.
Akhirnya sampai di puncak Gunung Andong, menikmati kopi dan gorengan panas
Setelah pendakian penuh drama, akhirnya saya dan rombongan sampai di puncak dengan bahagia. Ternyata di puncak sudah ramai pengunjung yang didominasi oleh anak muda, tapi ada anak kecil juga dengan orang tuanya yang masih muda pula. Ada yang langsung berfoto, bengong sambil atur nafas, bikin konten, dan ngopi di warung. Gunung Andong ini terlalu ramah pemula, jadi kesan menantang agak berkurang.
Kami memilih warung dengan view Gunung Merbabu yang megah. Saking laparnya, cukup banyak yang kami pesan, seperti aneka gorengan, mie rebus, teh hangat, dan kopi. Nikmat mana lagi yang kau dustai, ngopi enak sambil menikmati gorengan panas dari ketinggian 1.724 mdpl. Menghirup dalam-dalam udara sejuk yang tak dapat ditemui di perkotaan. Menatap hamparan hijau yang menyegarkan mata dan pikiran. Lupa kalau masih harus turun gunung yang tidak kalah menguras tenaga. Hehehe.
Apakah akan ke Gunung Andong lagi untuk ketiga kalinya?
Pertanyaan ini sebenarnya agak susah dijawab ya. Pertama, meskipun sudah dua kali ke sana, tapi kaki tetap saja gemetaran dan nafas agak megap-megap. Kedua, ingin jawab cukup sekian dan terima kasih, tapi Gunung Andong sukses membuat saya ketagihan dengan keindahannya. Belum lagi momen bersama teman-teman ketika saling membantu jika ada yang kelelahan atau hampir menyerah.
Jadi intinya gimana, Kak? Ya saya tetap mau menyambangi Gunung Andong dan tidak akan kapok. Walaupun harus menghabiskan waktu 2-3 jam untuk menaklukkan tanjakan, rasa puas ketika sampai di puncak mengalahkan segalanya. Kaki dan badan pegal-pegal bisa hilang dalam waktu kurang dari seminggu, tapi memori seru di Andong tidak akan bertahan lebih lama dalam ingatan. Ya sambat di setiap langkah wajar ya, namanya juga pendaki fomo.
Buat kamu yang baru pertama kali mau ke Andong, tenang saja karena pasti kamu akan menaklukkan setiap tanjakan dengan bahagia. Latihan dulu ya sebelum nanjak, minimal jalan kaki setiap hari. Sampai ketemu di warung puncak!
Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Gunung Andong, Gunung yang Kerap Diremehkan Pendaki Pemula, padahal Medannya Tetap Saja Tak Mudah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.