Bagi orang kota, mobil bak terbuka atau pick-up mungkin hanya kendaraan penunjang ekonomi untuk mengangkut karung kubis, tumpukan pasir, atau kambing kurban. Namun, bagi kami masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, mobil bak terbuka adalah segalanya. Kami menyebutnya Dolak.
Di saat orang kota meributkan kenyamanan AC mobil pribadi yang kurang dingin, kami di Bumijawa dan Bojong sudah terbiasa bertaruh nyawa di atas bak dolak. Kendaraan multifungsi ini adalah nadi kehidupan kami: pagi mengangkut sayur, siang mengangkut anak sekolah, dan sore bisa berubah fungsi untuk mengantar atau menjenguk tetangga yang sakit di RSUD Slawi.
Pagar besi dolak: fitur keamanan atau wahana uji nyali?
Jika Anda berkunjung ke daerah pegunungan Tegal, Anda akan menemui pemandangan ajaib di mana mobil pick-up dipasangi pagar besi tinggi mengelilingi baknya. Jangan salah, itu bukan kandang singa sirkus. Itu adalah fasilitas “kelas eksekutif” bagi penumpang manusia.
Naik dolak tanpa pagar besi adalah ujian keseimbangan tingkat dewa. Penumpang harus berdiri saling berpegangan pada pundak orang di depannya. Salah kalkulasi saat sopir ngerem mendadak, Anda bisa pindah ke dimensi lain.
Sekarang, berkat inovasi pagar besi tersebut, kapasitas penumpang naik dua kali lipat. Fungsinya mirip pegangan tangan di KRL Commuter Line, bedanya jalur KRL itu lurus dan rata, sedangkan jalur Bumijawa dan Bojong dipenuhi tanjakan ekstrem. Naik dolak di sini memberikan sensasi off-road yang membuat perut terguncang dan isi kepala bergeser beberapa milimeter. Sebuah wahana Dufan gratis yang menguji iman dan ketakwaan penumpang sepanjang jalan.
Nah, meskipun sudah dipasangi pagar besi, tetap tidak mengubah fakta bahwa dolak bukan diperuntukkan untuk mengangkut manusia.
Pengalaman saya sebagai penumpang dolak selama 3 tahun
Saya sendiri pernah menjadi penumpang setia dolak selama tiga tahun ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama. Setiap pagi, saya biasa menaiki dolak langganan milik Om Dirno untuk berangkat dari rumah saya di Desa Jejeg menuju sekolah di Desa Bumijawa.
Ketika kelas satu SMP, tarifnya masih Rp1.500 sebelum naik menjadi Rp2.000 di kelas dua. Menariknya, dolak Om Dirno saat itu belum menggunakan pagar besi. Barulah ketika saya duduk di kelas tiga, bagian belakang dolak diberi pagar keliling. Masa SMP saya seolah menjadi saksi perubahan dolak di daerah saya, dari bak terbuka biasa menuju modifikasi yang mampu membawa lebih banyak massa.
Jika berangkat sekolah saya biasa naik dolak Om Dirno, lain cerita ketika pulang. Saat siang hari, dolak Om Dirno biasanya dikhususkan untuk penumpang perempuan demi kenyamanan mereka. Alhasil, saya lebih sering menumpang dolak Om Andi.
Om Andi sering kali melewati rute Bumijawa-Cintamanik yang terjal. Bukan ruten Bumijawa-Jejeg. Dengan kata lain rutenya memutar untuk sampai Desa Jejeg. Karena teman saya, Wildan, adalah kerabatnya, kami sering diajak ikut duduk di ruang kemudi. Alasan Om Andi sederhana: “Jalan yang terjal dan berkelok-kelok bikin nggak fokus. Supaya fokus harus ada teman ngobrol.” Bagi anak SMP, tawaran menemani sopir ini adalah berkah, ongkos gratis, makanan ringan, plus bonus pemandangan hijau perbukitan dan gemercik Curug Putri di perbatasan Tegal-Brebes. Masa tersebut tentu sangat saya rindukan.
Kode sosial orang Tegal dan sindiran untuk pemerintah
Eksistensi dolak ini sebenarnya melahirkan sebuah kearifan lokal yang unik. Orang Tegal kota atau Slawi sudah punya kesepakatan tidak tertulis (kode sosial). Kalau mereka melihat rombongan mobil bak terbuka yang penuh sesak oleh orang-orang berwajah tegang melintas di jalan protokol, mereka tidak perlu bertanya. Itu pasti rombongan warga gunung yang sedang “wisata medis” alias menjenguk kerabat di rumah sakit.
Namun, di balik romantisme dan keguyuban itu, ada tamparan keras bagi pemerintah daerah. Di tahun yang sudah serba digital ini, masyarakat pegunungan Tegal masih harus bertaruh nyawa di atas bak terbuka hanya untuk mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan. Keberadaan dolak yang lestari adalah bukti nyata bahwa transportasi publik yang layak dan aman belum pernah benar-benar menyentuh wilayah pelosok.
Selama pemerintah masih abai, dan selama sayur-mayur harus turun dari kaki Gunung Slamet, dolak akan tetap bertahan. Kendaraan ini akan selalu dicintai sekaligus diratapi oleh penggunanya. Sebuah angkutan yang mengajarkan kami bahwa batas antara berangkat sekolah dan menghadap Yang Maha Kuasa itu terkadang hanya sebatas pegangan pada pagar besi berkarat.
Penulis: Malik Ibnu Zaman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Culture Shock Berkendara di Tegal: Nyala Lampu APILL yang Agak Laen dan Bau Teh di Mana-mana
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.