Informasi
ADVERTISEMENT

Sulitnya perempuan Minang yang pernah merantau menemukan jodoh di kampung halaman

Sulitnya perempuan Minang yang pernah merantau menemukan jodoh di kampung halaman Mojok.co

Saya perempuan Minang dan pekan ini sudah dua kali dihubungi oleh sejawat soal urusan pasar jodoh. Ada yang berinisiatif mencarikan jodoh untuk saudaranya, ada yang menawarkan iparnya. Bahkan, ada yang terang-terangan mencoba mencarikan untuk dirinya sendiri. 

Saya jadi berpikir, ternyata urusan perjodohan masih punya jaringan distribusinya sendiri. Bedanya, kalau dulu mungkin lewat keluarga dan tetangga, sekarang bisa lewat teman kantor, grup WhatsApp, Instagram, sampai obrolan santai sambil ngopi.

Ironisnya, kita hidup di zaman ketika pilihan pasangan seharusnya jauh lebih banyak, tetapi terdistraksi oleh digitalisasi. Era digital memungkinkan kita berkenalan dengan orang yang tinggal di kota lain, bahkan negara lain. 

Kini ada aplikasi kencan, media sosial, komunitas daring, dan berbagai platform yang membuat jarak geografis seolah tidak lagi menjadi persoalan. Kita bisa PDKT dengan orang yang belum pernah ditemui, tinggal ratusan kilometer jauhnya, bahkan berbeda zona waktu.

Akan tetapi, banyaknya pilihan ternyata melahirkan paradoks. Ketika pilihan terasa tidak terbatas, kita justru semakin sulit merasa yakin bahwa pilihan yang ada di depan mata adalah pilihan yang tepat. Selalu ada bayangan bahwa mungkin masih ada yang lebih cocok di luar sana.

Cari jodoh di zaman dahulu

Kalau mundur ke zaman kakek-nenek kita, ceritanya mungkin jauh lebih sederhana. Pilihan pasangan tidak sebanyak sekarang. Kalau bukan teman sekolah atau teman kerja, ya paling tidak teman satu kampung, tetangga, atau kenalan keluarga. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya berjodoh dengan saudara jauh. 

Di beberapa daerah, hubungan kekerabatan juga ikut menjadi bagian dari mekanisme mencari pasangan. Dalam kultur Minang misalnya, ada konsep baliak ka bako yang menjaga kedekatan hubungan dengan keluarga dari garis ibu. Lingkaran sosial tempat seseorang mencari pasangan memang lebih sempit, tetapi justru karena itulah orang-orang yang tersedia lebih mudah dikenali.

Sekarang situasinya berbeda. Kita bisa mengenal siapa saja. Masalahnya, banyaknya pilihan tidak selalu berarti banyaknya pasangan yang benar-benar kompatibel.

Ketika pulang, radius jodoh perempuan Minang mengecil

Bagi perempuan Minang yang merantau dan kemudian kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan pendidikan, urusan jodoh sering kali bukan bagian dari pertimbangan ketika memutuskan pulang. 

Dalam keluarga Minangkabau, merantau merupakan salah satu cara untuk mendorong anak kemenakan agar memperoleh pendidikan, pengalaman, dan kehidupan yang lebih baik. Setelah menamatkan SMA, banyak anak muda didorong untuk melanjutkan pendidikan ke luar daerah, termasuk ke kota-kota besar. 

Akan tetapi, ada perbedaan harapan yang kerap menyertai perjalanan laki-laki dan perempuan Minang. Jika laki-laki relatif lebih leluasa melanjutkan kehidupan di rantau, perempuan sering kali diharapkan kembali ke kampung halaman untuk kembali bersama keluarga, menjaga keberlanjutan adat, dan mengambil bagian dalam kehidupan rumah gadang serta garis keturunan matrilineal.

Ketika perempuan telah menyelesaikan pendidikan, membangun karier, dan memasuki usia yang dianggap tepat untuk menikah oleh standar sosial, ruang mereka mencari pasangan bisa jadi sudah tidak seluas ketika berada di rantau. Teman-teman sebaya telah berpencar, sebagian menetap di kota lain, dan sebagian telah membangun keluarga.

Perempuan diminta pulang untuk memenuhi harapan keluarga, tetapi kepulangan itu juga dapat mempersempit kesempatan untuk bertemu dengan calon pasangan yang memiliki latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan aspirasi yang relatif sejalan.

Asal tahu saja, Padang bukan pusat industri besar. Ekosistem pekerjaan profesional di sana relatif lebih terbatas. Ada pemerintahan, pendidikan, kesehatan, jasa, perdagangan, dan tentu saja wirausaha. Tetapi, profesi-profesi seperti engineer, pekerja startup, konsultan, pekerja teknologi, manajer perusahaan multinasional, dan berbagai pekerjaan profesional lainnya tidak memiliki ekosistem sebesar di kota metropolitan.

Bukan sok selektif, memang pilihannya semakin sedikit

Dalam masyarakat modern, pemilihan pasangan dipengaruhi oleh faktor yang sangat unik dan personal. Ada yang merasa cukup jika pasangannya memiliki pekerjaan dan agama yang baik. Ada yang ingin punya pasangan yang memiliki selera humor yang sama, sama-sama cat lovers, atau bahkan ada yang harus menyamakan suhu AC kamar.

Menetap di kota kecil akan memperkecil pilihan-pilihan personal tersebut. Jika berani bertaruh, maka menjalani hubungan jarak jauh akan menjadi opsi. Namun, hubungan jarak jauh tetap berisiko jika kedua pihak memiliki gaji mentok UMR, apalagi biaya transportasi sekarang telah naik cukup signifikan di tengah gejolak ekonomi politik global.

Jadi, mungkin persoalannya bukan karena sok selektif. Bisa jadi, mereka hanya sedang terjebak berdomisili di tempat yang pilihan jodohnya memang lebih sedikit. Pada akhirnya, alasan geografis juga menjadi hambatan yang cukup serius. Apalagi Kota Padang merupakan kota yang memiliki masalah di akses dan transportasi yang cukup serius.

Jadi kalau perempuan Minang di kota kecil masih belum menemukan jodoh, mungkin sebelum bertanya, “Kamu terlalu pilih-pilih, ya?”, coba tanyakan dulu, “Di kotamu, memang ada berapa pilihan?”

Penulis: Indah Sari Rahmaini
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Rispek dengan orang Padang yang pandai mengembangkan banyak usaha di perantauan. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 September 2026 oleh .

Indah Sari Rahmaini

Uni-uni dosen yang lagi S3. Menaruh perhatian akan isu anak muda dan masyarakat digital.