Sebagai guru, saya sering menyuruh siswa membaca. Membaca buku pelajaran, cerita, artikel, apa pun. Semata, karena saya tahu itu penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Tapi semakin saya memberi instruksi, saya menemukan satu persoalan yang lebih besar.
Saya bisa menyuruh mereka membaca di sekolah, tapi di rumah, urusannya beda lagi. Dan inilah persoalan selanjutnya.
Begini. Siswa hanya bersama saya selama beberapa jam. Setelah itu mereka kembali kepada keluarganya. Mereka kembali kepada kebiasaan yang sudah terbentuk di rumah. Di situlah masalahnya.
Di rumah, belum tentu mereka membaca. Bisa jadi mereka les, itu bagus. Tapi bagaimana kalau doomscrolling? Bagaimana kalau mereka ternyata di rumah tak buka buku sama sekali, semata karena keluarga di rumah tak punya kebiasaan yang sama?
Kontradiksi sekolah vs rumah
Menurut saya, di sinilah masalahnya. Anak diminta mencintai buku, tapi tak punya role model yang jelas terkait ini. mereka diminta membangun kebiasaan membaca, tapi orang tuanya sendiri tak pernah membaca. Ya gimana kebiasaan terbangun kalau mereka sendiri tak punya role modelnya?
Masalahnya, ketika siswa malas membaca, sekolah biasanya (diminta untuk) langsung bergerak. Guru diminta membuat kegiatan literasi. Perpustakaan diminta lebih aktif. Siswa kembali diberi tugas membaca. Tapi, mengapa pembicaraan tentang membaca hampir selalu berhenti pada siswa dan guru?
Pertanyaan utama justru mengapa orang tua tidak menjadi bagian utama dari persoalan ini. Padahal anak lebih lama berada di rumah daripada di sekolah.
Guru bukan pengawas kehidupan siswa
Saya cuma seorang guru, bukan pengawas kehidupan siswa selama 24 jam. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah meninggalkan sekolah. Jelas tidak tahu berapa lama mereka bermain gawai di rumah. Saya juga tidak tahu apakah ada buku yang benar-benar mereka baca.
Oleh karena itu, saya merasa aneh ketika masalah membaca sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Guru diminta membuat anak rajin membaca. Tetapi guru jelas tidak mempunyai kendali atas seluruh kehidupan anak.
Padahal, jelas-jelas masa anak-anak itu penuh dengan kegiatan meniru. Kegiatan negatif yang dilakukan seorang anak jelas datang dari meniru sekitarnya. Hal positif pun juga bisa dibangun dengan meniru. Andai bapak ibunya di rumah suka membaca, yakin betul anaknya punya urgensi untuk melakukan hal yang sama.
Setidaknya, anak melihat ada habit yang terbangun, yang bisa ditiru. Kalau di rumah semua orang sibuk dengan gawai, anak juga melihat itu sebagai sesuatu yang normal. Nasihat guru akhirnya berhadapan dengan kebiasaan yang jauh lebih kuat.
Membaca akhirnya menjadi tugas sekolah
Masalah lainnya adalah membaca sering dianggap sebagai tugas sekolah. Siswa membaca karena disuruh guru. Siswa membuka buku karena ada tugas. Setelah tugas selesai, buku kembali ditutup. Sudah, begitu saja. Penting nilai bagus, entah gimana caranya. Nyontek lah, menghafal hingga stres lah, apa saja.
Sekolah yang terus mengemas membaca sebagai kewajiban akan membuat siswa menganggap hal tersebut sebagai pekerjaan. Jadi bagian dari kehidupan mereka, nah itu jelas tidak. Kalau kebutuhan tidak dibangun, ya peningkatan kemampuan berpikir hanyalah mimpi di siang bolong.
Bukan salah siswa kalau mereka malas membaca
Saya kurang setuju jika siswa langsung disebut malas membaca. Memberi label itu kelewat mudah, tak ada bedanya dengan cari kambing hitam. Yang terlibat dari karut-marut ini banyak. Sekolah, jelas. Siswa, tentu punya andil. Tapi orang tua, lagi-lagi, adalah orang yang benar-benar bertanggung jawab.
Kau tidak bisa meminta anakmu melahap banyak buku jika satu artikel berisi 500 kata sudah bikin kepalamu pusing. Jelas kamu tidak bisa menuntut anakmu pintar jika yang kamu lakukan adalah melahap informasi hoax di medsos seakan kebenaran tunggal. Kau, jelas tidak bisa meminta hal-hal baik dilakukan anakmu jika yang kau tunjukkan adalah habit buruk.
Sebagai guru, saya bisa berusaha membuat siswa tertarik membaca. Tetapi percuma jika pertemuan yang hanya berapa jam itu kudu beradu banteng dengan kemalasan yang dipupuk subur di rumah.
Menyalahkan siswa yang tak mau baca itu mudah. Amat mudah malah. Tapi sebaiknya, tahu diri. Kalau jadi bagian dari kekacauan, sebaiknya tak perlu menuntut.
Saya tetap akan mengajak siswa membaca sebagai bagian dari tugas saya sebagai guru. Tetapi saya tahu usaha itu mempunyai batas. Lagi-lagi, pendidikan tak berhenti sekeluarnya dari gerbang sekolah. Justru rumah punya andil yang lebih besar, dan memang seharusnya begitu.
Pada akhirnya, persoalan literasi bukan hanya tentang seberapa sering guru menyuruh siswa membaca. Tapi tentang bagaimana rumah, sebagai sekolah pertama, membentuk habit siswa. Kalau kepercayaan hidupmu disetir FYP, ya, maaf saja, tak perlulah menuntut banyak.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.