Halo, kalian yang masih memilih es matcha daripada oli Mesran Super. Bagaimana kabar motor kalian? Mulai kasar saat melaju? Atau mulai muncul asap seperti kebakaran hutan? Jika seperti itu, kemarilah. Duduklah, dan dengarkan aku baik-baik.
SEGERA GANTI OLI GOK NDLOGOK!
Aku tahu, harga oli hari ini makin mahal. Bahkan sampai 15-20 ribu per botol, tergantung merek. Tapi percayalah, ganti oli dua bulan sekali masih lebih murah daripada bencana yang kualami. Ganti oli yang tidak lebih dari 15 menit bisa menyelamatkan dompetmu. 70 ribu yang mungkin setara jajanmu di coffee shop bisa mencegah kehilangan uang 1,3 juta dalam semalam.
Aku ceritakan kisah piluku yang harus mondok 3 hari di bengkel. Menjalani operasi besar yang menyakitkan. Hanya gara-gara tuanku, Prabu Yudianto, malas ganti oli setahun lalu. Dan membuatnya badmood seharian karena harus membayar sejuta lebih agar aku sembuh lagi.
Berawal dari kemalasan ganti oli
Mungkin kamu pernah membaca curhatanku tahun lalu. Tentang takdirku, Honda Blade Repsol 110, dikendarai pengemudi biadab. Ternyata pengemudiku lebih dari biadab!
Tahun lalu, dapur pacuku berasap. Bukan karena Aku mengonsumsi solar yang jelas bukan bahan bakar yang tepat. Tapi karena pengemudiku lupa ganti oli setelah 4 bulan. Cairan pelumas di gearbox habis terbakar. Piston bergesekan kasar dengan blok silinder. Kalau kamu ingin tahu rasanya, bayangkan tanganmu masuk ke pipa peralon sempit tanpa pelicin. Pasti perih saat kamu tarik.
Gesekan itu melukai mesinku. Dan membuat pembakaran masuk ke area gearbox. Gigi-gigi penggerakku terbakar dan sisa oli kotor menjadi arang. Asap mengepul keluar melalui knalpot. Dan pengendaraku, si bajingan itu, hanya melongo dan bilang, “waduh!”
Akhirnya mesinku kehilangan efisiensi. Juga makin ringkih karena api membakar seluruh isinya. Pengendaraku hanya rutin mengisi oli yang selalu habis terbakar tiap bulan. Tidak ada rencana memperbaiki Aku karena… Ekonomi sulit. Yah, alasan yang klise. Tapi Aku tahu pengendaraku tidak pernah memegang uang lebih dari seratus ribu di dompetnya.
Seingatku, kerusakanku terjadi saat Joko Widodo masih jadi presiden. Berarti hampir dua tahun aku dibiarkan merana dan cacat. Asap di knalpot makin banyak dan berbau busuk. Suhu mesinku mulai melelehkan sandal karet pengendaraku. Tapi dia masih bertahan, atau tak acuh, pada kondisiku. Hingga harinya tiba Aku ambruk.
Kerusakan yang mengerikan
Siang itu cukup terik di Jogja. Aku sudah ngos-ngosan melaju membelah kemacetan. Si pengendara bajingan itu tidak memberiku oli layak. Hanya membelikan oli diskon di Shopee yang ternyata palsu. Hanya dalam tiga hari, oli itu habis terbakar di mesinku.
Tanpa pelumas dan pendingin, mesinku meronta panik. Akhirnya, “KRAK!” Leher pistonku patah. Pecahannya masuk ke gearbox. Aku kehilangan kekuatan dan melambat. Bukannya segera menuntun ke bengkel, pengendaraku malah mencoba menginjak kick-starter. Pecahan logam mulai mengunci roda-roda gigi transmisi. Dan dia hanya bilang, “walah.”
WALAH GA TUH. WALAH.
Kalau kamu mau tahu seberapa sakit, bayangkan kamu dehidrasi dan kelaparan. Lalu dadamu dihantam palu godam hingga tulang rusukmu hancur. Pecahannya menusuk jantung, paru-paru, bahkan turun ke lambung dan usus. Apakah kamu bisa bilang ‘walah’ setelah itu?
Habis tandas tabungan tuan
Akhirnya aku dilarikan (baca: dituntun) sampai bengkel dekat rumah. Pengendaraku yang biadab itu masih sempat curhat kalau uangnya sangat minim. Kalau aku bisa teriak, sudah kumaki-maki si penulis pemalas itu. Kalau dulu dia rutin ganti oli setiap 3000 kilometer, mungkin aku tidak harus dirawat di bengkel!
Akhirnya aku dibedah. Pecahan piston dan klep dikeluarkan. Sang montir dengan lembut mengganti organku yang hancur dengan sparepart baru. Beberapa original dan baru, sebagian hasil kanibal motor malang lain. Tentu karena pengendaraku, Prabu Yudianto bajingan itu, meminta budget semurah mungkin.
Tiga hari kemudian, Aku sudah kembali menyala. Sang montir membiarkan mesinku hidup sehari penuh dan membakar dua liter BBM. Tujuannya agar organ baruku beradaptasi dengan mesin. Sembari memantau kesehatanku, si montir ramah itu mulai mencatat pengeluaran pada selembar kuitansi.
Angka total biaya ditetapkan. 1,3 juta untuk membiayai kesembuhanku. Pengendaraku datang dengan wajah pias dan terus mengeluh. Menyerahkan tiga belas lembar uang merah dengan mata berkaca-kaca. Batinku hanya bisa bilang ‘modharo’. Toh kerusakan ini bukan karena kualitasku yang buruk.
Rata-rata motor Honda keluaran di bawah 2015 terkenal karena daya tahannya. Bahkan seri Supra X jadi pilihan Ekspedisi Indonesia Baru keliling Nusantara. Jadi kerusakan ini murni karena kecerobohan pengendara pemalas yang kini menatapku dan menggerutu. Masih menghakimi Aku yang menghabiskan uang tabungan untuk beli IEM baru dan jersey PSIM. Itu pun dia kadang masih scrolling Facebook melihat motor CB di Marketplace, ckckck.
Peringatan untuk semua pemilik motor, GANTI OLI
Hari ini Aku sudah kembali ke garasi. Selama sebulan Aku dilarang membawa beban berat. Juga harus menghindari putaran mesin lebih dari 5000 RPM. Pengendaraku yang kerepotan. Harus berangkat kerja 30 menit lebih awal. Pilihannya sekarang adalah mengajakku melaju kurang dari 60 km/jam, atau Aku kembali menghabiskan tabungannya dan rawat inap.
Ah, menceritakan ini semua membuatku lelah. Dan hanya ada pertalite di tangki BBM-ku. Si bajingan itu tetap membelikan BBM termurah setelah semua ini!
Apakah kalian masih berpikir kalau ganti oli itu boros dan merepotkan? Mungkin kalian punya uang sejuta yang menganggur? Tapi apa susahnya sih untuk ganti oli rutin? Rawatlah motormu, bahkan dalam taraf minimum saja cukup. Ganti oli dan servis ringan dua bulan sekali sudah membuat motormu tetap bugar. Daripada motormu berakhir sepertiku yang kini merana dan tertatih-tatih menyibak aspal Jogja.
Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Saya Pria, dan Saya Pernah Lupa Ganti Oli Motor hingga Motor Saya Rusak dan Turun Mesin
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.