Bulan Agustus adalah surganya pecinta sound horeg. Berbagai karnaval di Jawa Timur dan pantura timur akan menghadirkan parade sound horeg ini.
Sebagai orang Blora, saya sudah mengenal sound horeg sejak lama. Terutama sejak tradisi tersebut mulai melintas dari Jawa Timur bagian selatan ke Jawa Tengah bagian utara.
Awalnya saya merasa heran dengan adanya event di mana orang berbondong-bondong untuk menikmati dentuman tumpukan box. Namun, lambat laun saya mencoba sedikit memahami titik kebahagiaan dari penghobi tersebut.
Ketika banyak kritik datang, saya masih relatif agak neral. Bagi saya waktu itu, selama panitia menggelar acara sound horeg di tempat yang tidak mengganggu masyarakat, maka biarlah para penikmat menikmati hobi mereka.
Namun belakangan, substansi tradisi ini perlahan bergeser dari yang awalnya “didengar”, menjadi “dilihat”. Di situlah saya mulai mempertanyakan apakah tradisi ini masih sekadar hobi audio atau diskotik yang dipaksa masuk ke ranah publik?
Ketika suara dari tradisi sound horeg bukan lagi bintang utama
Jika kalian mengamatinya, event sound horeg sekarang banyak yang tidak hanya menawarkan pengalaman pendengaran. Pada awal kemunculannya, fokus perhatian berada pada kualitas sistem audio. Bahkan ada agenda tahunan battle yang sangat terkenal di Sumbersewu, Banyuwangi.
Namun, dalam perkembangannya, elemen-elemen di luar audio mulai mengambil peran yang tidak kalah besar. Variabel fisik yang lebih interaktif seperti panggung, lighting megah, hingga DJ mulai ada.
Bahkan, sekarang pakai dancer, yang dulunya merupakan rombongan karnaval. Sekarang berganti mendatangkan orang dari luar yang memang dibayar untuk berdansa.
Perubahan ini mungkin tampak seperti inovasi di industri hiburan. Akan tetapi, hal ini juga menandai adanya pergeseran pusat perhatian penonton.
Mereka tidak lagi hanya datang untuk mendengarkan dentuman bass atau menilai kualitas speaker. Ada sesuatu yang kini harus mereka lihat. Mulai dari penampilan DJ, gemerlap lampu, dan dancer yang berjoget mengikuti musik. Sound horeg perlahan berubah dari pertunjukan audio menjadi pertunjukan audiovisual.
Alasan sound horeg mulai menyerupai diskotik
Kalimat pada judul sub-pembahasan bagian ini tidak terjadi hanya karena hadirnya satu atau dua elemen tambahan. Namun, ini semua akumulasi dari berbagai elemen.
Secara fisik, beberapa event sound horeg adalah replikasi sempurna dari sebuah klub malam. Namun, tradisi ini tanpa tembok dan atap kedap suara.
Dentuman audio jedag-jedug berdaya ribuan watt, tata cahaya moving head yang menembus langit malam, dancer, serta panggung statis yang menempatkan DJ dan dancer sebagai center of attraction adalah cetak biru diskotik yang dipindahkan utuh ke tengah ruang publik desa.
Bahkan, klaim ini dipertegas oleh materi promosinya sendiri. Di berbagai sudut desa, baliho dan poster acara tak lagi menampilkan nuansa hiburan rakyat tradisional, melainkan terang-terangan mengusung label “Night Party” yang dihiasi foto para dancer dan DJ.
Dalih “hiburan rakyat” yang makin basi
Ketika semua fakta visual sudah terpampang jelas, pasti akan ada pihak yang denial dengan berdalih “hiburan rakyat” atau “karnaval kebudayaan”. Pembelaan tersebut tidak hanya basi, tetapi juga bentuk pengabaian atas realitas yang sudah melenceng.
Hiburan rakyat mana yang esensinya adalah merusak dinding rumah, telinga lansia, balita ketakutan, bahkan di beberapa tempat ada yang tega membebani warganya sendiri dengan iuran wajib hingga ratusan ribu rupiah hanya untuk merusak ketenangan. Jika seperti ini, diskotik saja masih lebih sopan karena tidak mengganggu masyarakat secara luas
Karnaval sound horeg dengan format diskotik dewasa ini sejatinya hanyalah pemuasan ego segelintir orang yang ingin merasakan atmosfer diskotik, namun terhalang oleh norma maupun biaya.
Event yang seharusnya menjadi ajang menunjukkan kearifan lokal justru melenceng menjadi arena simulasi clubbing yang memamerkan aksi penari di ruang terbuka.
Sungguh ironis dan kontradiktif. Masyarakat yang katanya menjunjung tinggi tradisi ketimuran, justru secara terang-terangan memboyong kultur party ala Barat tepat ke tengah permukiman warga.
Penulis: Habib V
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













