Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

Nur Khabib Fitriansyah oleh Nur Khabib Fitriansyah
17 Agustus 2026
A A
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Bulan Agustus adalah surganya pecinta sound horeg. Berbagai karnaval di Jawa Timur dan pantura timur akan menghadirkan parade sound horeg ini. 

Sebagai orang Blora, saya sudah mengenal sound horeg sejak lama. Terutama sejak tradisi tersebut mulai melintas dari Jawa Timur bagian selatan ke Jawa Tengah bagian utara. 

ADVERTISEMENT

Awalnya saya merasa heran dengan adanya event di mana orang berbondong-bondong untuk menikmati dentuman tumpukan box. Namun, lambat laun saya mencoba sedikit memahami titik kebahagiaan dari penghobi tersebut. 

Ketika banyak kritik datang, saya masih relatif agak neral. Bagi saya waktu itu, selama panitia menggelar acara sound horeg di tempat yang tidak mengganggu masyarakat, maka biarlah para penikmat menikmati hobi mereka.

Namun belakangan, substansi tradisi ini perlahan bergeser dari yang awalnya “didengar”, menjadi “dilihat”. Di situlah saya mulai mempertanyakan apakah tradisi ini masih sekadar hobi audio atau diskotik yang dipaksa masuk ke ranah publik?

Ketika suara dari tradisi sound horeg bukan lagi bintang utama

Jika kalian mengamatinya, event sound horeg sekarang banyak yang tidak hanya menawarkan pengalaman pendengaran. Pada awal kemunculannya, fokus perhatian berada pada kualitas sistem audio. Bahkan ada agenda tahunan battle yang sangat terkenal di Sumbersewu, Banyuwangi. 

Namun, dalam perkembangannya, elemen-elemen di luar audio mulai mengambil peran yang tidak kalah besar. Variabel fisik yang lebih interaktif seperti panggung, lighting megah, hingga DJ mulai ada.

Bahkan, sekarang pakai dancer, yang dulunya merupakan rombongan karnaval. Sekarang berganti mendatangkan orang dari luar yang memang dibayar untuk berdansa.

Baca Juga:

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

Perubahan ini mungkin tampak seperti inovasi di industri hiburan. Akan tetapi, hal ini juga menandai adanya pergeseran pusat perhatian penonton. 

Mereka tidak lagi hanya datang untuk mendengarkan dentuman bass atau menilai kualitas speaker. Ada sesuatu yang kini harus mereka lihat. Mulai dari penampilan DJ, gemerlap lampu, dan dancer yang berjoget mengikuti musik. Sound horeg perlahan berubah dari pertunjukan audio menjadi pertunjukan audiovisual.

Alasan sound horeg mulai menyerupai diskotik

Kalimat pada judul sub-pembahasan bagian ini tidak terjadi hanya karena hadirnya satu atau dua elemen tambahan. Namun, ini semua akumulasi dari berbagai elemen. 

Secara fisik, beberapa event sound horeg adalah replikasi sempurna dari sebuah klub malam. Namun, tradisi ini tanpa tembok dan atap kedap suara.

ADVERTISEMENT

Dentuman audio jedag-jedug berdaya ribuan watt, tata cahaya moving head yang menembus langit malam, dancer, serta panggung statis yang menempatkan DJ dan dancer sebagai center of attraction adalah cetak biru diskotik yang dipindahkan utuh ke tengah ruang publik desa. 

Bahkan, klaim ini dipertegas oleh materi promosinya sendiri. Di berbagai sudut desa, baliho dan poster acara tak lagi menampilkan nuansa hiburan rakyat tradisional, melainkan terang-terangan mengusung label “Night Party” yang dihiasi foto para dancer dan DJ.

Dalih “hiburan rakyat” yang makin basi

Ketika semua fakta visual sudah terpampang jelas, pasti akan ada pihak yang denial dengan berdalih “hiburan rakyat” atau “karnaval kebudayaan”. Pembelaan tersebut tidak hanya basi, tetapi juga bentuk pengabaian atas realitas yang sudah melenceng. 

Hiburan rakyat mana yang esensinya adalah merusak dinding rumah, telinga lansia, balita ketakutan, bahkan di beberapa tempat ada yang tega membebani warganya sendiri dengan iuran wajib hingga ratusan ribu rupiah hanya untuk merusak ketenangan. Jika seperti ini, diskotik saja masih lebih sopan karena tidak mengganggu masyarakat secara luas

Karnaval sound horeg dengan format diskotik dewasa ini sejatinya hanyalah pemuasan ego segelintir orang yang ingin merasakan atmosfer diskotik, namun terhalang oleh norma maupun biaya. 

Event yang seharusnya menjadi ajang menunjukkan kearifan lokal justru melenceng menjadi arena simulasi clubbing yang memamerkan aksi penari di ruang terbuka.

Sungguh ironis dan kontradiktif. Masyarakat yang katanya menjunjung tinggi tradisi ketimuran, justru secara terang-terangan memboyong kultur party ala Barat tepat ke tengah permukiman warga.

Penulis: Habib V

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2026 oleh

Tags: battle sound horegbloraiuran sound horegjawa timurkarnaval sound horegsisi buruk sound horegsisi negatif sound horegsound horegsound horeg 17-ansound horeg agustusan
Nur Khabib Fitriansyah

Nur Khabib Fitriansyah

Mahasiswa Biologi Kampus Jogja yang memiliki ketertarikan dengan memati fenomena kelompok sosial menggunakan kacamata orang awal.

ArtikelTerkait

5 Hal yang Bisa Dibanggakan oleh Warga Pasuruan Terminal Mojok

5 Hal Soal Pasuruan yang Bisa Dibanggakan oleh Warganya

25 Oktober 2022
Paiton Probolinggo Menyimpan 5 Sisi Gelap yang Memprihatinkan (Unsplash)

Di Balik Indahnya Gemerlap Lampu PLTU, Ternyata Paiton Probolinggo Memiliki Sisi Gelap yang Tak Banyak Diketahui Orang

9 Januari 2025
Bondowoso Layak Dipertimbangkan sebagai “Tempat Menepi” di Jawa Timur Mojok.co

Bondowoso Layak Dipertimbangkan sebagai “Tempat Menepi” di Jawa Timur

30 Oktober 2025
Paiton Probolinggo Memang Aneh Desa Bukan, Kota Juga Bukan (Unsplash)

Paiton Probolinggo Memang Aneh: Desa Bukan, Kota Juga Bukan

24 Desember 2024
Ironi Dusun Bunten, Daerah Terpencil di Bojonegoro yang Jarang Diketahui Orang dan Nyaris Tidak Pernah Dikunjungi Pejabat Daerahnya

Dusun Bunten Bojonegoro, Dusun Ironis yang Nyaris Tidak Pernah Dikunjungi Pejabat Daerahnya

4 Februari 2024
Gate Otomatis Terminal Purabaya Nggak Berguna, Pengelola Sebaiknya Fokus Membasmi Calo Saja!

Gate Otomatis Terminal Purabaya Nggak Berguna, Pengelola Sebaiknya Fokus Membasmi Calo Saja!

19 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 istilah hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang Mojok.co

5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang

12 Agustus 2026
5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia saja Mojok.co

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

10 Agustus 2026
Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
Nasib Sidoarjo: Ketika Ibu Kotanya Kalah Tenar Dibanding Kecamatan Krian, Pusat Pemerintahan Kalah Telak Sama Pasar Tradisional

Nasib Sidoarjo: ketika ibu kotanya kalah tenar dibanding Kecamatan Krian, pusat pemerintahan kalah telak sama pasar tradisional

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.