Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Wulida Musarop oleh Wulida Musarop
7 Agustus 2026
A A
Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Cita-cita saya sewaktu kecil tampak terlalu sederhana untuk direnungi di masa dewasa. Atau mungkin jawaban lantang dan polos “ingin jadi guru, ingin jadi pilot, dokter, dan sebagainya” adalah jawaban optimis yang saya rindukan, tepat setelah jawaban “ingin gaji di atas UMK” menyerang pola pikir atas reaksi melihat kenyataan. Pelan-pelan saya sadar bahwa mimpi tentang masa depan cerah bisa jadi cuman bualan murah.

Saya hidup di Purwokerto, yang sering menjadi gorengan destinasi berjudul kota “slow living” dan “kota murah”. Dengan meminjam term Marxisme, bagi saya klaim tersebut adalah sebuah bentuk komodifikasi desa yang dijadikan taman bermain dan tempat istirahat bagi kaum pemilik modal.

Selayaknya tempat bermain pemilik modal, kota ini seakan-akan dirancang memenuhi kebutuhan pelancong, tanpa menghilangkan unsur desa. Bagi warga lokal, julukan kota murah beriringan juga dengan murahnya upah pekerja. 

Dan kita tahu betul, upah murah ini adalah masalah. Sebab, gaji UMK tentu saja tidak bisa menjamin masa depan yang cerah.

Saya tidak terlalu jago matematika, tapi saya tahu gaji UMK segitu tidak bisa membeli mimpi saya

Saya memang bukan sarjana akuntansi, apalagi ahli matematika keuangan. Tapi untuk tahu seberapa sesaknya hidup dengan gaji UMK, kita tidak butuh rumus kalkulus yang rumit. Cukup menerapkan sebuah ritual wajib saban bulan setelah gajian rutin, yaitu memasukan angka 2,5 juta rupiah dalam kalkulator dan menghitung kapan mimpi saya bisa tercapai.

Dari uang Rp2.500.000 itu, sebesar Rp500.000 langsung melayang untuk bayar kos standar berfasilitas seadanya. Porsi terbesar jelas habis di meja makan: Rp1.350.000 terkuras untuk makan tiga kali sehari dengan patokan Rp15.000 sekali makan. Tarik lagi Rp250.000 untuk bensin dan servis motor tipis-tipis, Rp200.000 untuk paket internet dan listrik kos, plus Rp100.000 untuk sabun dan kebutuhan mandi dasar. Total pengeluaran pokok mencapai Rp2.400.000. 

Itu pun dihitung dengan asumsi hidup yang teramat ideal. Kamu adalah manusia sakti yang tidak pernah mendapat undangan pernikahan teman, ban motor tidak pernah bocor samping, dan kamu cukup tertib untuk tidak tergiur membeli es kopi susu gula aren demi menambal kesehatan mental yang terkikis.

Sekarang mari selesaikan persamaan matematikanya: dengan sisa seratus ribu rupiah per bulan dari gaji UMK dua setengah juta itu, butuh berapa abad untuk membeli rumah, membangun usaha, atau melanjutkan studi? 

Baca Juga:

7 kuliner Purwokerto yang menurut saya pantas dikenal lebih banyak orang, jangan jajan mendoan melulu

Hal-hal yang Membuat Saya Sedikit Menyesal Masuk Prodi PAI UIN Saizu, meski Tidak Sampai Ingin Pindah Kampus

Dari sinilah saya sadari bahwa arti “mimpi” perlahan mengalami devaluasi

Saya mungkin hanya merindukan masa-masa remaja saya dengan angan-angan yang wajar: mempunyai rumah yang tak harus besar, cukup terjangkau untuk saya beli, tapi memiliki sedikit halaman luas dengan tanaman aglaonema di depannya. Atau memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi buku anak yang dipajang rapi dan dibuka gratis untuk umum. Jika ada sedikit uang lebih, saya hanya ingin membelikan mobil classic Suzuki Baleno untuk dipakai pergi mengajar di perguruan tinggi. 

Mimpi seorang pekerja dengan gaji UMK terdevaluasi menjadi deretan kecemasan mikro yang defensif. Saya mendadak memimpikan hal-hal yang teramat kecil: berharap jarum penunjuk bensin tidak mentok di pojokan kiri dan mesin motor tua di parkiran tak mendadak merengek menuntut biaya turun mesin.

Saya berharap sesekali bisa menekan tombol checkout untuk barang seharga lima puluh ribu rupiah di keranjang e-commerce, sekadar baju murahan atau buku bekas, tanpa harus dibayangi rasa bersalah dan tatapan menghakimi dari layar kalkulator. Lalu yang paling krusial, Saya berdoa agar tubuh ini tetap tangguh dan tak boleh mendadak rubuh, menghindari dinginnya bangku antrean rumah sakit saat dokumen dan klaim BPJS yang prosesnya cukup rumit.

TOLONG, jangan singgung mengenai “kerja keras” ke kami, pekerja dengan gaji UMK

Tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada mendengar ocehan dungu yang menuding bahwa kemiskinan dan kemandekan hidup adalah buah dari “kurang kerja keras”. Tudingan semacam itu bukan saja dangkal, tapi juga bentuk kemalasan berpikir yang menutupi kenyataan pahit di lapangan. Saya yakin semua orang sudah membanting tulang, membangun martabatnya sendiri sebelum matahari terbit, memeras keringat di bilik-bilik kerja, dan pulang dengan punggung yang remuk saban hari. Dan itu pun cuma diganjar gaji yang seadanya.

Masalahnya bukan pada seberapa keras seseorang bekerja. Melainkan pada struktur upah yang ditekan seirit mungkin sementara harga kebutuhan pokok ikut latah naik karna melemahnya nilai mata uang. Ketika upah minim dipatok di bawah standar kelayakan dan biaya hidup terus meroket, saya kira itu bukan kegagalan personal. Itu adalah bukti telanjang bahwa sistem yang ada memang tidak dirancang untuk membiarkan kita sejahtera. Sistem ini hanya menuntut tenaga kita habis terkuras dan tidak memberi kita sedikit ruang untuk bernapas, apalagi menabung.

Inilah alasan utama mengapa mimpi menjadi barang yang teramat mahal hari ini. Membicarakan mimpi kadang kala seperti membual. Bagaimana mungkin kita bisa memelihara optimisme jika setiap usaha untuk melangkah maju selalu dijegal oleh hitung-hitungan ekonomi yang mencekik? Bagaimana bisa sejahtera dengan gaji UMK yang semenjana?

Tidak ada optimisme yang bisa tumbuh secara organik dari tanah yang gersang dan penuh ketimpangan. Yang tersisa hanyalah keputusasaan yang dibungkus rapi. Sementara kita dipaksa terus berjalan sambil menelan mentah-mentah stigma bahwa kita “kurang berusaha”.

Apakah saya masih membual mengenai mimpi?

Pada akhirnya, Purwokerto akan tetap meliuk anggun di mata para pelancong yang datang membawa uang tabungan kota besar. Bagi mereka, kota ini adalah suaka “slow living”. Tempat melamun yang murah, romantis, dan menenangkan. Namun bagi kami yang menggantungkan napas pada gaji UMK, “slow living” hanyalah eufemisme dari hidup yang tertahan dan bergerak lambat karena dompet kami yang tipis.

Saya mungkin masih akan terus mengelus dada setiap kali menatap sisa angka seratus ribu di layar kalkulator. Saya mungkin masih harus menunda angan-angan memiliki perpustakaan buku anak, atau impian menaiki Suzuki Baleno tua menuju ruang kuliah.

Namun, mengeluh bukan berarti menyerah, dan bersuara bukan berarti tak bersyukur. Kami hanya menolak untuk terus dininabobokan oleh romantisme semu. Tulisan ini juga bagian dari usaha saya. Sebuah manifesto kecil untuk menolak tunduk pada narasi tunggal yang memojokkan kami lewat stigma “kurang kerja keras”. 

Penulis: Wulida Musarop
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2026 oleh

Tags: cara hidup dengan gaji umkgaji UMKpurwokertoumk purwokerto
Wulida Musarop

Wulida Musarop

Saya desainer grafis dan mahasiswa Sastra Indonesia Unsoed yang menaruh minat besar pada isu sosial, politik, kebudayaan, hingga pop culture. Di tengah realitas yang makin menjepit, tidak ada yang bisa saya lakukan selain terus menuliskan kesadaran saya.

ArtikelTerkait

Purwokerto, Kota Wisata Underrated yang Tak Kalah Ciamik Terminal Mojok

Purwokerto, Kota Wisata Underrated yang Tak Kalah Ciamik

5 Januari 2021
Meluruskan Keresahan Purwokerto Perihal Mendoan (Unsplash)

Meluruskan Keresahan Purwokerto Perihal Mendoan

2 Januari 2023
Karanganyar Nggak Kalah dari Purwokerto Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Karanganyar Nggak Kalah dari Purwokerto: Daerah Terbaik di Jawa Tengah

26 Februari 2023
Menolak Bayar, Warga Purwokerto Dipukul Tukang Parkir Liar (Unsplash)

Tukang Parkir Liar Purwokerto Ternyata Ada yang Beringas, Suka Main Pukul ketika Teman Saya Nggak Mau Membayar

20 April 2024
Purwokerto Semakin Maju dan Kekinian tapi Tak Semua Orang Bisa Menikmatinya, apalagi Jika Hanya Bergaji UMR

Purwokerto Semakin Maju dan Kekinian tapi Tak Semua Orang Bisa Menikmatinya, apalagi Jika Hanya Bergaji UMR

5 September 2025
5 Tempat Main Gratis di Area Kampus Unsoed Purwokerto yang Jarang Disadari Mahasiswa

5 Tempat Main Gratis di Area Kampus Unsoed Purwokerto yang Jarang Disadari Mahasiswa

17 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya Mojok.co

Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya

1 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026
Sadar nggak, hampir tiap stasiun punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya Mojok.co

Sadar nggak, hampir tiap stasiun kereta punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya

5 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.