Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
7 Agustus 2026
A A
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Melabeli Tulungagung sebagai kota atau kabupaten pesugihan sebenarnya juga memperlihatkan cara berpikir yang terlalu sederhana dalam membaca budaya. Seolah-olah keberadaan ritual tertentu otomatis mencerminkan karakter seluruh masyarakat. Padahal logika seperti itu jelas bermasalah.

Orang lebih cepat mengingat kisah gunung angker, pohon keramat, atau ritual malam tertentu daripada mengingat bahwa Tulungagung adalah salah satu daerah penghasil marmer terbesar di Indonesia. Cerita mistis memang lebih mudah viral. Sayangnya, viral tidak selalu berarti benar.

Stigma tersebut terus direproduksi hingga akhirnya lebih terkenal daripada identitas Tulungagung sebagai daerah industri marmer, sentra perikanan, pertanian, UMKM, hingga kekayaan wisata alam dan budayanya. Ketika sebuah daerah lebih sering dibicarakan karena mitos daripada prestasi, citra publik ikut terdistorsi.

Pesugihan selalu menjadi cerita yang paling laris dijual

Di era media sosial, cerita tentang pesugihan hampir selalu punya pasar. Judul yang mengandung kata “pesugihan”, “tumbal”, “ritual”, atau “jalan gaib” jauh lebih cepat menarik perhatian dibandingkan pembahasan mengenai UMKM, pendidikan, atau ekonomi daerah. Akibatnya, algoritma ikut memperkuat persepsi bahwa Tulungagung identik dengan hal-hal mistis.

Padahal banyak konten semacam itu hanya mengulang cerita turun-temurun tanpa pernah melakukan verifikasi. Satu video mengutip video lain. Satu artikel mengutip artikel lama. Lama-kelamaan cerita tersebut dianggap sebagai fakta hanya karena terus diulang. Inilah yang disebut efek pengulangan, ketika sesuatu terasa benar bukan karena bukti, melainkan karena terlalu sering didengar.

Lebih parah lagi, sebagian kreator konten sengaja membangun narasi yang dramatis demi mengejar jumlah penonton. Lokasi biasa diberi musik mencekam. Bangunan tua langsung disebut tempat ritual. Makam tua dikaitkan dengan pesugihan tanpa bukti. Semua dilakukan agar penonton bertahan sampai akhir video.

Yang dirugikan bukan hanya citra daerah. Masyarakat lokal juga harus menerima stereotip yang sebenarnya tidak mereka pilih. Tidak sedikit warga yang justru merasa risih karena kampungnya lebih dikenal lewat cerita mistis daripada hasil kerja keras masyarakatnya.

Budaya Kejawen tidak sama dengan pesugihan

Kesalahan lain yang sering muncul adalah menyamakan budaya Kejawen dengan praktik pesugihan. Padahal keduanya berbeda jauh. Kejawen merupakan tradisi budaya dan spiritual yang sangat luas. Di dalamnya ada nilai penghormatan kepada leluhur, filosofi hidup, laku batin, tata krama, hingga pelestarian tradisi.

Baca Juga:

Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

Mengambil satu bagian yang menyimpang lalu menganggap itulah wajah Kejawen merupakan bentuk penyederhanaan budaya. Sama seperti menganggap seluruh tradisi keagamaan identik dengan tindakan ekstrem hanya karena dilakukan oleh segelintir orang. Cara berpikir seperti ini jelas tidak adil.

Masyarakat Tulungagung sendiri menjalankan kehidupan yang sangat beragam. Ada yang religius, ada yang memegang tradisi Jawa, ada pula yang menggabungkan keduanya dalam kehidupan sehari-hari. Keragaman seperti ini merupakan hal yang wajar di banyak daerah di Jawa, bukan ciri khusus Tulungagung.

Karena itu, menghubungkan kuatnya budaya Kejawen dengan anggapan bahwa Tulungagung adalah pusat pesugihan merupakan lompatan kesimpulan yang tidak memiliki dasar kuat. Budaya adalah identitas kolektif. Sementara praktik pesugihan, jika memang ada, merupakan tindakan individual yang tidak bisa digeneralisasi menjadi identitas seluruh masyarakat.

Industri rumahan tidak pernah menjadi bukti adanya pesugihan di Tulungagung

Ada pula anggapan bahwa banyaknya industri rumahan yang berkembang di Tulungagung merupakan bukti adanya pesugihan. Logika ini bahkan lebih aneh. Seolah setiap usaha yang cepat berkembang pasti memiliki hubungan dengan praktik gaib.

Padahal keberhasilan industri rumahan lebih mudah dijelaskan melalui faktor ekonomi. Ada pengalaman turun-temurun, jaringan pemasaran, kerja keras keluarga, modal yang diputar kembali, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar. Semua itu merupakan penjelasan yang jauh lebih rasional daripada langsung mengaitkannya dengan pesugihan.

Kalau setiap usaha sukses dianggap hasil pesugihan, maka penghargaan terhadap kerja keras masyarakat menjadi hilang. Orang tidak lagi melihat proses panjang membangun usaha, tetapi hanya mencari cerita mistis di balik kesuksesan tersebut. Ini jelas merugikan para pelaku UMKM yang bertahun-tahun membangun usahanya dengan cara yang jujur.

Narasi seperti ini juga bisa menimbulkan rasa curiga yang tidak sehat. Kesuksesan seseorang tidak lagi dipandang sebagai hasil inovasi atau ketekunan, melainkan langsung dikaitkan dengan hal-hal gaib tanpa bukti. Akibatnya, masyarakat lebih sibuk membangun prasangka daripada menghargai proses.

Stigma pesugihan menutup prestasi nyata Tulungagung

Masalah terbesar dari label pesugihan bukan terletak pada benar atau tidaknya cerita yang beredar. Masalah utamanya adalah citra tersebut perlahan mengalahkan identitas Tulungagung yang sesungguhnya. Ketika nama Tulungagung muncul, sebagian orang justru lebih dulu teringat kisah-kisah mistis daripada potensi daerahnya.

Padahal Tulungagung memiliki begitu banyak hal yang layak dibanggakan. Industri marmernya dikenal luas. Sektor perikanannya berkembang. Pertaniannya menjadi penopang ekonomi ribuan keluarga. UMKM terus bermunculan dengan berbagai produk unggulan. Sayangnya, semua itu sering kalah menarik dibandingkan cerita pesugihan yang lebih sensasional.

Inilah kelemahan masyarakat modern. Fakta sering kalah oleh cerita yang mampu membangkitkan rasa penasaran. Kisah mistis lebih cepat menyebar daripada laporan ekonomi daerah. Padahal dampaknya nyata. Citra yang buruk dapat memengaruhi cara orang luar memandang sebuah daerah, bahkan sebelum mereka pernah datang langsung.

Stigma juga sulit dihapus karena terus diwariskan dari mulut ke mulut. Orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Tulungagung bisa saja sudah memiliki prasangka tertentu hanya karena sering mendengar cerita yang sama. Padahal pengalaman langsung sering kali menunjukkan kenyataan yang sangat berbeda.

Pesugihan selalu menarik karena menawarkan jalan pintas

Cerita pesugihan sebenarnya tidak hanya hidup di Tulungagung. Hampir setiap daerah di Jawa memiliki kisah serupa. Ada yang dikaitkan dengan gunung, pantai, gua, makam, pohon tua, hingga bangunan tua. Artinya, pesugihan bukan identitas khas Tulungagung, melainkan bagian dari cerita rakyat yang tersebar luas.

Yang membuat cerita seperti ini terus bertahan adalah daya tariknya. Pesugihan menawarkan imajinasi tentang kekayaan instan tanpa proses panjang. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, narasi seperti itu selalu menemukan pendengarnya. Cerita tersebut memanfaatkan harapan manusia untuk memperoleh hasil besar dengan usaha yang sedikit.

Karena itu, kisah pesugihan akan selalu memiliki tempat dalam budaya populer. Film mengangkatnya. Konten media sosial membahasnya. Podcast menceritakannya. Kanal YouTube menjadikannya tema utama. Namun, popularitas sebuah cerita tidak otomatis menjadikannya representasi sebuah daerah.

Sudah saatnya masyarakat membedakan antara folklor, mitos, hiburan, dan identitas daerah. Tulungagung tidak bisa direduksi hanya menjadi kabupaten pesugihan hanya karena ada cerita yang terus diulang selama puluhan tahun. Sebuah daerah jauh lebih kompleks daripada sekadar legenda yang hidup di tengah masyarakat.

Pesugihan mungkin akan terus menjadi bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Mitos seperti itu hampir mustahil benar-benar hilang karena sudah menjadi bagian dari tradisi lisan dan budaya populer. Namun, membiarkan cerita tersebut berubah menjadi identitas utama Tulungagung adalah persoalan yang berbeda.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Tipe Orang yang Dipastikan Akan Merana kalau Tinggal di Tulungagung

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2026 oleh

Tags: industri di tulungagungmitos di tulungagungpesugihantulungagung
Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

Tulungagung

Suwung dan Kosakata Khas Tulungagung Lainnya

27 November 2021
Tradisi Memanggil Hujan dari Tulungagung: Mulai dari Ritual Tiban yang Berdarah-darah hingga Manten Kucing Menggemaskan

Tradisi Memanggil Hujan dari Tulungagung: Mulai dari Ritual Tiban yang Berdarah-darah hingga Manten Kucing Menggemaskan

11 Desember 2024
Keluh Kesah Mahasiswa UIN SATU Tulungagung: Tempat Parkiran yang "Diserang" Tahi Burung Dara Sampai Sistem Pembayaran UKT yang Bikin Ngelus Dada

Keluh Kesah Mahasiswa UIN SATU Tulungagung: Tempat Parkiran yang “Diserang” Tahi Burung Dara Sampai Sistem Pembayaran UKT yang Bikin Ngelus Dada

7 Februari 2025
5 Hal yang Sering Disalahpahami dari Kabupaten Trenggalek kediri

5 Hal yang Sering Disalahpahami dari Kabupaten Trenggalek

26 Januari 2024
6 Pantai Tulungagung yang Memukau, tetapi Menyimpan Bahaya bagi Wisatawan Mojok.co

6 Pantai Tulungagung yang Memukau, tapi Menyimpan Bahaya bagi Wisatawan

3 Juli 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026
Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

3 Agustus 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Setelah akad KPR rumah, saya baru sadar bahwa beli rumah bukannya jadi solusi, tapi justru jadi masalah baru

1 Agustus 2026
Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara dangdut D’Academy Mojok.co

Dear Indosiar, terima kasih sudah menghibur ibu saya lewat acara Dangdut Academy

5 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026
Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

2 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.