Jika Anda adalah tipe penikmat drama Korea yang gampang mewek cuma karena urusan father-daughter relationship, sebaiknya jauhkan remote Netflix Anda dari drakor Agent Kim: Reactivated.
Memasuki pertengahan 2026 ini, jagat perdrakoran memang lagi giat-giatnya memanjakan mata penonton lewat fenomena kembalinya para ahjussi. Jika beberapa waktu lalu lini masa dipenuhi wajah Kim Mu-yeol, kini So Ji-Sub “mengawasi” kita lewat peran Agent Kim.
Agent Kim: Reactivated diangkat dari webtoon berjudul Manager Kim, yang lumayan terkenal di Korea Selatan. Jika kalian pembaca Lookism, seharusnya tidak asing dengan Kim, ahli close-quarter combat terbaik sekaligus jadi gurunya Warren Chae.
Jangan terkecoh dengan adegan action, infiltrating yang keren, dan kebodohan Seong Han-su dan Park Jin-cheol. Cerita ini tidak hanya tentang 66, code name-nya Kim. Tapi tentang seorang ayah yang rela melipat dunia dan menantang langit demi keselamatan putrinya.
Inilah yang bikin Agent Kim: Reactivated jadi drakor yang berbeda. Kita dipaksa menahan rembesan air mata karena ceritanya yang benar-benar meninju ulu hati.
Agent Kim: Reactivated, bukti bapak dingin ternyata penuh cinta
Di balik semua skill bertarungnya yang mematikan, Agent Kim pada hakikatnya hanyalah seorang single dad yang clueless saat membesarkan seorang anak gadis yang mulai memasuki masa pubertas. Adegan membesarkan anak tunggal sama menegangkannya dengan aksinya melumpuhkan lawan-lawannya.
Sebagai orang tua tunggal, Agent Kim mengerjakan semua tugas rumah tangga sendiri tanpa mengeluh. Dia adalah tipe ayah yang bakal pulang tepat waktu demi memastikan rumah selalu bersih dan masakan hangat sudah tersedia di meja. Dia selalu mengetuk pintu kamar anaknya secara berkala hanya untuk memastikan sang putri baik-baik saja, meski sering dibalas dengan sikap dingin khas remaja umur belasan tahun. Paling banter cuma lontaran kata, “Ayah, jangan ganggu.”
Tapi di situlah kita diberi kehangatan yang tidak terduga, serta momen seorang bapak yang kerap luput dari pandangan. Kekhawatiran yang tak biasanya muncul dari seorang bapak yang terlihat dingin, bagaimana dia kebingungan mencari anaknya, dan bagaimana dia memilih melanggar aturan dan mendobrak batas demi keselamatan anak.
Di sinilah gong-nya. Mode bapak-bapak protektif Agent Kim mendadak aktif. Dia jadi seseorang yang selama ini sudah ditinggalkan, bukan demi personal atau negara, melainkan murni demi menemukan anak gadisnya. Jika kalian menonton sampai 8 episode (2 sisanya belum rilis), maka kalian akan paham, So Ji-sub benar-benar gila.
Hingga kemudian, pikiran itu berkembang menjadi sebuah pertanyaan balasan yang agak pedih di dalam kepala saya:
“Andaikan saya yang hilang, apakah bapak saya bakal segila Agent Kim ini, ya?”, pertanyaan sederhana yang berhasil menikam dada.
Gimana dengan bapakmu?
Pertanyaan reflektif itulah yang membuat saya berani menyimpulkan bahwa drakor Agent Kim: Reactivated ini sangat tidak ramah bagi kaum yatim pasif.
Bagi yang belum familiar dengan istilah ini, mari kita perjelas kasta penderitaannya.
Yatim ori (sebenarnya) adalah kondisi di mana sosok ayah memang sudah dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Sementara itu, “Yatim Pasif” memegang takhta tertinggi dalam urusan kesedihan. Ini adalah istilah untuk anak-anak yang raga ayahnya masih ada di dunia, tapi fungsinya sebagai seorang ayah dipertanyakan—untuk tidak mengatakannya tidak ada.
Jangankan soal kasih sayang, untuk sekadar memenuhi tanggung jawab dasarnya saja tidak.
Yang lebih ironis lagi, banyak yatim pasif akhirnya memilih pergi sejauh mungkin dari rumah. Merantau, bekerja di kota lain, kuliah lintas pulau, lalu pelan-pelan menyadari bahwa jarak ternyata tidak mengubah apa-apa.
Tak ada ucapan kangen, tak ada telepon bernada hangat, bahkan putus komunikasi pun tak bisa dianggap jarang. Makanya, gimana para yatim pasif nggak tambah nangis sesenggukan di pojokan kamar saat menonton Agent Kim: Reactivated ini?
Di saat mereka terbiasa hidup dengan sosok ayah yang dingin, abai, atau bahkan menjadi sumber trauma terbesar di dalam rumah, drakor ini malah menyuguhkan figur ayah yang begitu gentle, proporsional, dan menjadikan anak perempuannya sebagai pusat dari dunianya.
Menjelang dua episode terakhir, tensi menguras air mata ini makin tidak bisa dikontrol. Terutama di momen dramatis ketika Agent Kim harus berpisah dengan anaknya tepat setelah mereka bersatu. Silakan tonton sendiri, dan biarkan air matamu mengalir, jangan ditahan. Mau nahan juga percuma, dialog Kim Min-ji selalu menohok tepat di ulu hati.
Skip saja kalau bapakmu cuma punya skill pasif
Pada akhirnya, Agent Kim: Reactivated memang berhasil membuktikan bahwa seorang bapak tidak diukur dari kekuatan fisik, tapi bagaimana menunaikan tugasnya, dan rasa cinta yang begitu tulus.
Nah, bagi Anda para pejuang status yatim pasif yang selama ini kebal dengan dinginnya hubungan keluarga, saran saya cuma satu: kalau sekiranya mental Anda tidak siap untuk diteror oleh rasa iri, mending skip saja drakor yang satu ini.
Alih-alih terhibur oleh aksi So Ji-sub, Anda malah makin tenggelam dalam krisis eksistensial sambil mempertanyakan keberadaan bapak sendiri di rumah. Atau malah jadi sibuk mempertanyakan satu hal yang selama bertahun-tahun sudah berusaha Anda kubur: “Sebenarnya, saya ini pernah benar-benar punya bapak, nggak, sih?”
Sabar, ada Park Jin-cheol yang akan menghiburmu.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













