Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

Fauzia Sholicha oleh Fauzia Sholicha
4 Februari 2026
A A
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai ibu dua anak yang setiap bulan harus menyisihkan uang belanja demi menabung untuk biaya pendidikan masa depan si Kakak dan si Adik, hati saya rasanya seperti disayat sembilu—atau lebih tepatnya, disayat struk tagihan UKT—setiap kali membuka aplikasi Twitter (sekarang X). Bukan, saya tidak sakit hati melihat berita politik. Saya sakit hati melihat betapa terbukanya, betapa vulgarnya, dan betapa “normalnya” iklan jasa joki skripsi berseliweran di linimasa.

“Open Jasa Skripsi. Garansi Revisi. Harga Mahasiswa. Testimoni Melimpah. DM for details.” Lengkap dengan tangkapan layar chat klien yang puas: “Makasih Kak, aku lulus Cum Laude padahal aku nggak ngerti apa-apa.”

Dulu, di zaman saya kuliah Sastra Arab, praktik joki itu dilakukan secara sirri (sembunyi-sembunyi). Pelakunya malu, pemesannya lebih malu lagi. Transaksinya di pojokan tukang fotokopi yang gelap dan bau toner. Sekarang para joki melakukan dan mempromosikan praktiknya secara terang-terangan. 

Banyak orang marah dan menyalahkan mahasiswa sebagai “generasi malas”. Tapi, tunggu dulu. Sebagai pengamat dinamika sosial amatir yang sehari-hari mengamati perilaku anak-anak saya, saya melihat fenomena ini bukan sekadar kemalasan individu.

Ini adalah gejala dari penyakit sistemik yang lebih kronis: pendidikan kita telah berubah menjadi pasar transaksional. Kampus adalah Penjual. Mahasiswa adalah Pembeli. Dan joki skripsi adalah Third-Party Vendor yang melancarkan transaksi tersebut.

Kampus yang menjual kertas, bukan ilmu

Mari kita jujur. Kenapa mahasiswa berani bayar joki? Karena mereka merasa yang mereka butuhkan hanyalah ijazah, bukan ilmu. Dan siapa yang mengajarkan mereka berpikir begitu? Secara tidak sadar, ya kampus itu sendiri.

Kampus menjalankan praktik layaknya sebuah korporasi. Kampus memperlakukan mahasiswa layaknya nasabah bank. Yang penting bayar UKT tepat waktu. Telat dikit, mereka mengunci portal akademik. Biaya kuliah naik terus tiap tahun, tapi fasilitasnya begitu-begitu saja. Dosennya sibuk mengejar proyek luar atau sibuk mengurus administrasi akreditasi yang tumpukannya setinggi jabal Uhud.

Dosen kerap menghilang saat mahasiswa semester akhir butuh bimbingan. Chat tidak dibalas. Dosen membatalkan janji bimbingan secara sepihak. Mereka mencorat-coret skripsi tanpa memberi tahu salahnya di mana.

Baca Juga:

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas, Semuanya Jadi Lebih Lancar

Dalam situasi putus asa seperti itu, mahasiswa berpikir pragmatis. “Saya sudah bayar mahal-mahal ke kampus, tapi pelayanannya buruk. Dosen mempersulit skripsi saya. Kalau saya telat lulus, saya harus bayar UKT lagi semester depan. Ah, mending bayar joki 2 juta, beres, wisuda, daripada bayar UKT 5 juta lagi.”

Hitungan ekonominya masuk akal, bukan? Ini adalah muamalah (transaksi) dagang murni. Mahasiswa sedang melakukan efisiensi biaya. Mahasiswa akhirnya memaknai skripsi sebagai hambatan birokrasi dan menyingkirkannya dengan uang.

BACA JUGA: Sisi Lain Jasa Joki Skripsi yang Nggak Banyak Orang Tahu, dari Hukum sampai Elitenya Remuk Bukan Main!

Hilangnya ‘sanad’ keilmuan

Dalam tradisi keilmuan Islam yang saya pelajari, ada konsep bernama sanad (rantai transmisi ilmu). Ilmu itu harus jelas sumbernya. Gurunya siapa, muridnya siapa, proses belajarnya bagaimana. “Al Isnad minad Diin” (sanad itu bagian dari agama). Tanpa sanad, siapa saja bisa ngomong seenaknya.

Nah, penggunaan joki skripsi ini adalah bentuk pemutusan sanad yang paling brutal. Di atas kertas, tertulis nama mahasiswa A sebagai penulis skripsi. Tapi hakikatnya, yang menulis adalah si Joki B. Ilmunya ada di kepala si Joki, tapi gelarnya ada di tangan si Mahasiswa.

Ini adalah bentuk tadlis (penipuan kualitas) atau gharar (ketidakjelasan) dalam skala akademis. Gelar sarjana yang didapat itu menjadi syubhat, bahkan mungkin haram keberkahannya. Bayangkan sarjana tersebut melamar kerja dengan gelar palsunya. Dia diterima kerja karena gelar itu. Lalu dia dapat gaji. Apakah gajinya berkah? Wallahu a’lam.

Tapi masalahnya, di era kapitalisme pendidikan ini, siapa yang peduli soal berkah? Yang penting cuan, Bos. Yang penting hired, yang penting status sosial naik. Kampus masa bodoh,yang penting mahasiswa lulus dan akreditasi prodi aman. Mahasiswa masa bodoh, yang penting dapat kerja). Joki masa bodoh, yang penting dapur ngebul. Sama-sama untung. Win-win solution di atas kebohongan.

Normalisasi Ketidakmampuan

Yang paling mengerikan bagi saya sebagai seorang ibu adalah dampak jangka panjangnya: normalisasi ketidakmampuan.

Kita sedang memproduksi generasi “Sarjana Kopong”. Casing-nya sarjana, isinya nol besar. Mereka tidak punya kemampuan riset, tidak punya kemampuan analisis, tidak punya kemampuan menulis logis—karena semua itu “diwakilkan” ke joki.

Bayangkan anak-anak saya nanti. Bayangkan dokter yang memeriksa anak saya adalah dokter hasil joki. Dia salah diagnosis, anak saya celaka. Insinyur yang merancang apartemen anak saya lulus hasil joki skripsi. Gedungnya roboh. Guru yang mengajari anak saya hasil joki skripsi, dia mau mengajari anak saya apa?

Joki skripsi bukan sekadar kenakalan remaja. Itu adalah sabotase masa depan bangsa. Kita sedang menanam bom waktu. Kita sedang mengisi posisi-posisi penting di negeri ini dengan orang-orang yang—maaf—sebenarnya tidak kompeten, tapi punya uang untuk membeli kompetensi palsu.

Legalkan joki skripsi sekalian

Kalau memang kita sudah tidak sanggup memberantas joki skripsi (karena pasarnya besar dan pelakunya pintar sembunyi), dan kalau memang kampus sudah berubah jadi pabrik ijazah… Saran saya, sekalian saja legalkan.

Bikin loket resmi di kampus: “Loket Pembelian Skripsi Premium”. Tarifnya menyesuaikan paket. Paket Bronze (Cukup Lulus): 5 Juta. Paket Silver (Memuaskan): 10 Juta. Terakhir, paket Gold (Cum Laude + Dijamin tidak ditanya sulit pas sidang): 20 Juta.

Uangnya masuk kas kampus. Bisa buat nambah gaji dosen biar nggak ghosting lagi. Bisa buat perbaiki fasilitas toilet yang pesing. Transparan. Akuntabel. Daripada uangnya lari ke joki-joki anonim di Twitter yang nggak bayar pajak?

Terdengar gila? Ya memang. Tapi bukankah situasi sekarang juga sudah gila? Kita cuma pura-pura waras saja melihat wisuda yang isinya ratusan “klien joki” tersenyum lebar memakai toga.

BACA JUGA: Joki Skripsi Lebih Memahami Mahasiswa Adalah Sesat Pikir Paling Percaya Diri yang Tak Seharusnya Dimiliki Manusia Normal

Pesan untuk mahasiswa (dari emak-emak yang peduli)

Wahai adik-adik mahasiswa. Saya tahu kalian lelah. Juga, saya tahu dosen kalian menyebalkan. Saya tahu godaan joki skripsi itu manis seperti diskon Shopee 12.12.

Tapi ingatlah satu hal. Kamu tidak bisa membeli rasa bangga mengerjakan sesuatu dengan tangan sendiri. Kamu belajar dengan menghadapi pusing, kebuntuan, dan mengolah perasaan saat revisi ditolak. Dan itulah yang membentuk mental kalian jadi tangguh.

Kalau skripsi saja kalian tidak sanggup hadapi dan memilih jalan pintas, bagaimana kalian mau menghadapi dunia kerja yang jauh lebih kejam? Di kantor nanti nggak ada joki yang bisa menggantikan kalian dimarahin bos.

Dan buat para bapak/ibu dosen serta pejabat kampus: tolonglah introspeksi. Jangan cuma menyalahkan mahasiswa. Kalau dagangan kalian (pendidikan) berkualitas, kalau layanan kalian memanusiakan manusia, mahasiswa tidak akan lari ke “pasar gelap” untuk mencari solusi.

Ciptakan lingkungan di mana jujur itu dihargai, dan proses itu dibimbing. Bukan lingkungan di mana yang penting bayar, yang penting lulus, urusan kualitas nomor sekian.

Sekian. Saya mau kembali mengajari anak saya mengeja huruf Hijaiyah. Setidaknya, dia belajar “Alif Ba Ta” dengan jujur, tidak menyuruh temannya untuk membacanya. Karena saya tahu, pondasi yang kuat dimulai dari kejujuran hal-hal kecil.

Penulis: Fauzia Sholicha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Petaka Terbesar Dunia Kampus adalah ketika Dosen Menjadi Joki Skripsi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2026 oleh

Tags: bimbingan skripsidosen pembimbing skripsiharga joki skripsijasa joki skripsijoki skripsi
Fauzia Sholicha

Fauzia Sholicha

Warga Malang yang percaya bahwa mengurus dua anak laki-laki, membalas chat pembeli, dan menulis artikel adalah bentuk multitasking level dewa. Menulis untuk menyalurkan hobi, jualan online untuk menyalurkan hobi checkout keranjang sendiri.

ArtikelTerkait

Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

19 Januari 2026
4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres magang

4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres

17 Januari 2025
Dosen Pembimbing Nggak Minta Draft Skripsi Kertas ke Mahasiswa Layak Masuk Surga kaprodi

Dosen Pembimbing yang Nggak Minta Draft Skripsi Kertas ke Mahasiswa Layak Masuk Surga

11 Januari 2024
Dosen Pembimbing yang Nggak Becus Tak Bisa Jadi Pembenaran Jasa Joki Skripsi. Mahasiswa kok Mentalnya Pengecut? Aneh! joki tugas

Joki Skripsi Lebih Memahami Mahasiswa Adalah Sesat Pikir Paling Percaya Diri yang Tak Seharusnya Dimiliki Manusia Normal

24 Januari 2024
Mahasiswa Kesayangan Dosen Hidupnya kayak Budak (Unsplash)

Status Mahasiswa Kesayangan Dosen Justru Menjadi Beban, Mahasiswi Ini Malah kayak Budak yang Nggak Bisa Menolak

28 Maret 2024
Selain Niat Mahasiswa, Dosen Pembimbing Adalah Kunci Mulusnya Proses Skripsi Mojok.co

Selain Niat Mahasiswa, Dosen Pembimbing Adalah Kunci Mulusnya Proses Skripsi

10 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Kos LV di Jogja Isinya Maksiat, tapi Tetap Laku Diburu Mahasiswa (Unsplash) kos campur

Pindah dari Kos LV ke Kos Campur Ternyata Keputusan Buruk, Bukannya Tenang dari Desahan, Malah Tambah Sengsara

29 Januari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”
  • Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.