Sebagai ibu dua anak yang setiap bulan harus menyisihkan uang belanja demi menabung untuk biaya pendidikan masa depan si Kakak dan si Adik, hati saya rasanya seperti disayat sembilu—atau lebih tepatnya, disayat struk tagihan UKT—setiap kali membuka aplikasi Twitter (sekarang X). Bukan, saya tidak sakit hati melihat berita politik. Saya sakit hati melihat betapa terbukanya, betapa vulgarnya, dan betapa “normalnya” iklan jasa joki skripsi berseliweran di linimasa.
“Open Jasa Skripsi. Garansi Revisi. Harga Mahasiswa. Testimoni Melimpah. DM for details.” Lengkap dengan tangkapan layar chat klien yang puas: “Makasih Kak, aku lulus Cum Laude padahal aku nggak ngerti apa-apa.”
Dulu, di zaman saya kuliah Sastra Arab, praktik joki itu dilakukan secara sirri (sembunyi-sembunyi). Pelakunya malu, pemesannya lebih malu lagi. Transaksinya di pojokan tukang fotokopi yang gelap dan bau toner. Sekarang para joki melakukan dan mempromosikan praktiknya secara terang-terangan.
Banyak orang marah dan menyalahkan mahasiswa sebagai “generasi malas”. Tapi, tunggu dulu. Sebagai pengamat dinamika sosial amatir yang sehari-hari mengamati perilaku anak-anak saya, saya melihat fenomena ini bukan sekadar kemalasan individu.
Ini adalah gejala dari penyakit sistemik yang lebih kronis: pendidikan kita telah berubah menjadi pasar transaksional. Kampus adalah Penjual. Mahasiswa adalah Pembeli. Dan joki skripsi adalah Third-Party Vendor yang melancarkan transaksi tersebut.
Kampus yang menjual kertas, bukan ilmu
Mari kita jujur. Kenapa mahasiswa berani bayar joki? Karena mereka merasa yang mereka butuhkan hanyalah ijazah, bukan ilmu. Dan siapa yang mengajarkan mereka berpikir begitu? Secara tidak sadar, ya kampus itu sendiri.
Kampus menjalankan praktik layaknya sebuah korporasi. Kampus memperlakukan mahasiswa layaknya nasabah bank. Yang penting bayar UKT tepat waktu. Telat dikit, mereka mengunci portal akademik. Biaya kuliah naik terus tiap tahun, tapi fasilitasnya begitu-begitu saja. Dosennya sibuk mengejar proyek luar atau sibuk mengurus administrasi akreditasi yang tumpukannya setinggi jabal Uhud.
Dosen kerap menghilang saat mahasiswa semester akhir butuh bimbingan. Chat tidak dibalas. Dosen membatalkan janji bimbingan secara sepihak. Mereka mencorat-coret skripsi tanpa memberi tahu salahnya di mana.
Dalam situasi putus asa seperti itu, mahasiswa berpikir pragmatis. “Saya sudah bayar mahal-mahal ke kampus, tapi pelayanannya buruk. Dosen mempersulit skripsi saya. Kalau saya telat lulus, saya harus bayar UKT lagi semester depan. Ah, mending bayar joki 2 juta, beres, wisuda, daripada bayar UKT 5 juta lagi.”
Hitungan ekonominya masuk akal, bukan? Ini adalah muamalah (transaksi) dagang murni. Mahasiswa sedang melakukan efisiensi biaya. Mahasiswa akhirnya memaknai skripsi sebagai hambatan birokrasi dan menyingkirkannya dengan uang.
Hilangnya ‘sanad’ keilmuan
Dalam tradisi keilmuan Islam yang saya pelajari, ada konsep bernama sanad (rantai transmisi ilmu). Ilmu itu harus jelas sumbernya. Gurunya siapa, muridnya siapa, proses belajarnya bagaimana. “Al Isnad minad Diin” (sanad itu bagian dari agama). Tanpa sanad, siapa saja bisa ngomong seenaknya.
Nah, penggunaan joki skripsi ini adalah bentuk pemutusan sanad yang paling brutal. Di atas kertas, tertulis nama mahasiswa A sebagai penulis skripsi. Tapi hakikatnya, yang menulis adalah si Joki B. Ilmunya ada di kepala si Joki, tapi gelarnya ada di tangan si Mahasiswa.
Ini adalah bentuk tadlis (penipuan kualitas) atau gharar (ketidakjelasan) dalam skala akademis. Gelar sarjana yang didapat itu menjadi syubhat, bahkan mungkin haram keberkahannya. Bayangkan sarjana tersebut melamar kerja dengan gelar palsunya. Dia diterima kerja karena gelar itu. Lalu dia dapat gaji. Apakah gajinya berkah? Wallahu a’lam.
Tapi masalahnya, di era kapitalisme pendidikan ini, siapa yang peduli soal berkah? Yang penting cuan, Bos. Yang penting hired, yang penting status sosial naik. Kampus masa bodoh,yang penting mahasiswa lulus dan akreditasi prodi aman. Mahasiswa masa bodoh, yang penting dapat kerja). Joki masa bodoh, yang penting dapur ngebul. Sama-sama untung. Win-win solution di atas kebohongan.
Normalisasi Ketidakmampuan
Yang paling mengerikan bagi saya sebagai seorang ibu adalah dampak jangka panjangnya: normalisasi ketidakmampuan.
Kita sedang memproduksi generasi “Sarjana Kopong”. Casing-nya sarjana, isinya nol besar. Mereka tidak punya kemampuan riset, tidak punya kemampuan analisis, tidak punya kemampuan menulis logis—karena semua itu “diwakilkan” ke joki.
Bayangkan anak-anak saya nanti. Bayangkan dokter yang memeriksa anak saya adalah dokter hasil joki. Dia salah diagnosis, anak saya celaka. Insinyur yang merancang apartemen anak saya lulus hasil joki skripsi. Gedungnya roboh. Guru yang mengajari anak saya hasil joki skripsi, dia mau mengajari anak saya apa?
Joki skripsi bukan sekadar kenakalan remaja. Itu adalah sabotase masa depan bangsa. Kita sedang menanam bom waktu. Kita sedang mengisi posisi-posisi penting di negeri ini dengan orang-orang yang—maaf—sebenarnya tidak kompeten, tapi punya uang untuk membeli kompetensi palsu.
Legalkan joki skripsi sekalian
Kalau memang kita sudah tidak sanggup memberantas joki skripsi (karena pasarnya besar dan pelakunya pintar sembunyi), dan kalau memang kampus sudah berubah jadi pabrik ijazah… Saran saya, sekalian saja legalkan.
Bikin loket resmi di kampus: “Loket Pembelian Skripsi Premium”. Tarifnya menyesuaikan paket. Paket Bronze (Cukup Lulus): 5 Juta. Paket Silver (Memuaskan): 10 Juta. Terakhir, paket Gold (Cum Laude + Dijamin tidak ditanya sulit pas sidang): 20 Juta.
Uangnya masuk kas kampus. Bisa buat nambah gaji dosen biar nggak ghosting lagi. Bisa buat perbaiki fasilitas toilet yang pesing. Transparan. Akuntabel. Daripada uangnya lari ke joki-joki anonim di Twitter yang nggak bayar pajak?
Terdengar gila? Ya memang. Tapi bukankah situasi sekarang juga sudah gila? Kita cuma pura-pura waras saja melihat wisuda yang isinya ratusan “klien joki” tersenyum lebar memakai toga.
Pesan untuk mahasiswa (dari emak-emak yang peduli)
Wahai adik-adik mahasiswa. Saya tahu kalian lelah. Juga, saya tahu dosen kalian menyebalkan. Saya tahu godaan joki skripsi itu manis seperti diskon Shopee 12.12.
Tapi ingatlah satu hal. Kamu tidak bisa membeli rasa bangga mengerjakan sesuatu dengan tangan sendiri. Kamu belajar dengan menghadapi pusing, kebuntuan, dan mengolah perasaan saat revisi ditolak. Dan itulah yang membentuk mental kalian jadi tangguh.
Kalau skripsi saja kalian tidak sanggup hadapi dan memilih jalan pintas, bagaimana kalian mau menghadapi dunia kerja yang jauh lebih kejam? Di kantor nanti nggak ada joki yang bisa menggantikan kalian dimarahin bos.
Dan buat para bapak/ibu dosen serta pejabat kampus: tolonglah introspeksi. Jangan cuma menyalahkan mahasiswa. Kalau dagangan kalian (pendidikan) berkualitas, kalau layanan kalian memanusiakan manusia, mahasiswa tidak akan lari ke “pasar gelap” untuk mencari solusi.
Ciptakan lingkungan di mana jujur itu dihargai, dan proses itu dibimbing. Bukan lingkungan di mana yang penting bayar, yang penting lulus, urusan kualitas nomor sekian.
Sekian. Saya mau kembali mengajari anak saya mengeja huruf Hijaiyah. Setidaknya, dia belajar “Alif Ba Ta” dengan jujur, tidak menyuruh temannya untuk membacanya. Karena saya tahu, pondasi yang kuat dimulai dari kejujuran hal-hal kecil.
Penulis: Fauzia Sholicha
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Petaka Terbesar Dunia Kampus adalah ketika Dosen Menjadi Joki Skripsi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















