Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
1 Februari 2026
A A
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai (Ecoteee via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Batang, sebuah kabupaten di jalur pantura yang bisa dibilang nggak lebih terkenal dari Alas Roban. Yah jalur mistis itu terletak di Kabupaten Batang, dan banyak orang yang nggak tahu soal itu. Meski sering dilewati, Kabupaten Batang ini jarang dipedulikan orang. Jalurnya lurus, penuh dengan hutan yang dilalui oleh tronton.

Kalau dari timur, memasuki kabupaten ini rasa-rasanya sepi dan membosankan sehingga ingin cepat-cepat sampai di Pekalongan. Oleh karena itu, Kabupaten ini pun mendapatkan label daerah yang sepi, sunyi, dan mistis (karena ada Alas rOban). Rasanya kayak nggak punya alasan mendasar gitu untuk berhenti di Kabupaten ini.

ADVERTISEMENT

Apalagi semenjak ada Toll. Ya sudah, Batang ini benar-benar kayak gapura di gang masuk kampung yang kelihatan jelas tapi nggak dianggap

Kepadatan yang adalah pokoknya

Label tersebut sebetulnya wajar. Selain karena dipenuhi hutan, kepadatan penduduk di Batang juga bisa dibilang renggang dan lengang. Badan Pusat Statistik mencatat kepadatan penduduk Batang tahun 2024 sekitar 978 jiwa/km². Sementara tetangga dekat seperti Kabupaten Kendal disebut memiliki kepadatan tahun 2024 sekitar 1.068 jiwa/km. Lalu Kabupaten Pekalongan ada di angka sekitar 1.218,72 jiwa/km² pada 2024. Mungkin berbeda sedikit dengan Kendal, tapi suasananya terasa berbeda.

Kendal, meski agak renggang tapi dia nggak lengang. Sebab jalur utamanya dipenuhi pemukiman. Sementara Batang, ya seperti yang saya bilang sebelumnya. Lebih banyak hutan. Beberapa pusat keramaiannya hanya nampak di alun-alun kota yang nempel dengan pekalongan (sisi barat), dan kawasan industri terpadu batang yang berbatasan dengan Kendal (sisi timur).

Padahal, secara biaya hidup, kabuptan ini nggak mahal-mahal banget meski sudah mulai dimasuki beberapa perusahaan atau pabrik. Harga tanah pun bisa dibilang sedikit lebih rendah daripada di Kendal. Beberapa situs menyebut kalau harga tanah di batang masih di kisaran ± Rp300 ribu–Rp4 juta/m² dan ada yang menyebut “harga pasaran” sekitar Rp1,6 juta/m². Sementara di Kendal, rata-rata sudah sekitar Rp2,5 juta/m².

Tapi terlepas dari itu, kabupaten ini sebetulnya punya potensi untuk jadi lebih ramai. Beberapa strategi ini saya rasa bisa dipertimbangkan.

BACA JUGA: Kendal dan Batang, 2 Kabupaten yang Terjebak dalam Bayang-bayang Semarang dan Pekalongan

Baca Juga:

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

Harus ada titik magnet

Begini, masalah sepi dan sunyinya batang itu dikarenakan Batang belum punya banyak titik magnet yang membuat orang sengaja berhenti. Dan sebetulnya, titik magnet itu nggak harus selalu yang mewah atau aneh.

Pertama, bisa dengan membuat sentra bisnis UMKM dari produk asli Batang. Mungkin akan direspons, “Sentra seperti itu kan sudah ada, contoh di Limpung.” Masalahnya, Limpung dengan alun-alunnya itu terlalu masuk ke dalam sehingga nggak terjamah bagi mereka yang melewati pantura.

Dan saya rasa, durian jadi salah satu komoditas unggulan yang harusnya bisa dimanfaatkan. Sebab, Batang juga punya durian yang nggak kalah dari Kendal dan Pekalongan. Coba bayangkan, di area pantura Batang itu, ada satu sentra durian dari berbagai kecamatan. Itu bisa jadi daya tarik biar pengguna jalur pantura nggak hanya lewat, tapi juga berhenti.

Yah kalau Pekalongan punya Setono sebagai sentra batik, Batang punya sentra durian. Ini hanya contoh. Tentu nggak cuma durian tapi banyak produk atau hal lain yang bisa dipamerkan di jalur pantura yang serba hutan itu. Pada intinya, satu sentra atau kawasan yang punya daya tawar sehingga membuat orang ngeh ada sesuatu di Batang.

Kedua, perbanyak agenda-agenda semacam festival berkala. Bisa festival budaya, festival produk, atau festival kesenian. Biar orang punya alasan untuk menjadikan Batang sebagai tujuan, bukan cuma sebagai rest area.

Memang, beberapa waktu lalu, Batang sempat mulai menggelar Festival of Light (Lentera) di Alun Alun Batang mulai 27 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Ada juga festival Ekraf Batang, tapi kampanyenya kurang masif sehingga yang tahu hanya warga lingkup Batang dan sekitarnya.

Jadi bisa tetapkan 1 event tahunan sebagai puncak. Kemudian bikin saja 3-4 event berkala untuk mengisi sebelum menyambut festival puncak. Banyak hal kok yang bisa dijadikan festival. Contoh kayak kendal yang sudah menjadikan festival durian sebagai event tahunan.

Batang harus jual cerita

Ketiga adalah soal cerita, media, dan fasilitas. Batang itu punya potensi wisata yang nggak kalah sama tetangganya. Persoalannya hanya soal cerita dan narasinya kurang kuat di telinga warga luar. Kawasan hutan dan pantainya pun lumayan. Tinggal itu diceritakan dengan baik di media sosial. Di-branding agar orang tahu. Sisipkan cerita-cerita unik.

Contoh saja taman Djawatan Forest Banyuwangi. Dia cuma hutan kota yang isinya pohon trembesi. Tapi dia dipublikasikan bersamaan dengan sejarah dan cerita sehingga orang tertarik mengunjungi. Sampai jadi destinasi yang wajib di paket tour wisata.

Batang punya kebun teh, punya hutan pinus, tinggal diperbagus fasilitasnya. Sehingga banyak yang datang. Dinas pariwisata daripada kerjaannya nggak jelas, berdayakan jasa open trip yang bisa memandu siapapun yang ingin mengelilingi Batang. Kalau sudah ramai, baru dah tuh dikomersilkan. That’s simple.

BACA JUGA: Orang INFJ Jangan Tinggal di Perbatasan Batang dan Pekalongan kalau Mau Tetap Waras

Kawasan industri Batang siap jadi daya tarik

Keberadaan Kawasan Industri Terpadu Batang juga sudah menjadi daya tarik tersendiri. Kalau banyak investor masuk, tentu membuka banyak lapangan pekerjaan. Membuat Batang bisa jadi tujuan orang mencari kerja.

Tapi di sisi lain, keberadaan kawasan industri tersebut juga perlu menyadari soal tata ruang, transportasi lokal, ruang publik, dan strategi UMKM dari sekarang, Sebab kalau industri itu hidup, maka ramai truk lewat, ramai pekerja datang, ramai pembangunan perumahan, ramai warung dadakan, harga tanah pun jadi naik.

Pada kondisi itu, Batang akan dihadapkan pada dilema yang sering dihadapi oleh daerah lain. Tumbuh dengan ramai bersama dengan meningkatnya kualitas hidup warga, layanan publik, ruang aman, kegiatan budaya, dan ekonomi lokal. Atau ramai bersamaan dengan aktivitas pabrik yang menguntungkan pihak luar sementara warga lokal hanya kebagian debu dan peradaban yang bisa jadi tak lagi tenang.

Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kabupaten Batang Kastanya di Jawa Tengah Sudah Berbeda, dan Nggak Miskin seperti Kabupaten yang Lain

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Februari 2026 oleh

Tags: durian batangKabupaten BatangkendalSemarangwisata di batang
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Dawung, Dusun Terpencil di Kabupaten Semarang yang Dicari para Pencinta Olahraga Ekstrem

Dawung, Dusun Terpencil di Kabupaten Semarang yang Dicari para Pencinta Olahraga Ekstrem

2 September 2023
4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya Mojok.co

4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya

16 April 2025
Pengalaman Meresahkan Nonton di Bioskop Cinepolis Java Supermall Semarang

Pengalaman Meresahkan Nonton di Bioskop Cinepolis Java Supermall Semarang

3 Juli 2024
Tertipu Tempat Servis Laptop di Plaza Simpang Lima Semarang, Nggak Diperbaiki Malah Digadaikan Mojok.co

Tertipu Tempat Servis Laptop di Plaza Simpang Lima Semarang, Nggak Diperbaiki Malah Digadaikan

29 Mei 2025
3 Spot Jogging di Kota Semarang yang Cocok untuk Pemula Mojok.co

3 Spot Jogging di Kota Semarang yang Cocok untuk Pemula

28 November 2025
Masjid di dekan kawasan simpang lima semarang underground city bekasi

4 Masjid Terdekat dari Simpang Lima Kota Semarang

7 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

4 Agustus 2026
5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu pindah ke Salatiga (Unsplash)

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

2 Agustus 2026
Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026
Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026
Menguak cara kerja dan cuan jasa war tiket konser yang mencapai jutaan rupiah Mojok.co

Menguak cara kerja dan cuan jasa war tiket konser yang bisa mencapai jutaan rupiah

30 Juli 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.