Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
27 Januari 2026
A A
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Waktu pertama kali tinggal di Solo, saya sempat merasa kota ini seperti berjalan di tempo yang berbeda dari hidup saya. Kalau di kota lain orang-orang kelihatan sibuk ke mana-mana, di sini banyak yang seperti nggak terlalu tergesa, tapi juga nggak benar-benar santai. Awalnya saya kira ini cuma perasaan perantau yang belum adaptasi. Ternyata, ini memang soal kebiasaan.

Semakin lama tinggal di Solo, saya mulai sadar ada banyak hal yang dulu saya anggap aneh, tapi pelan-pelan malah saya tiru. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena kebiasaan itu ternyata bikin hidup lebih ringan. Ini lima di antaranya.

Orang Solo suka ngobrol lama, padahal intinya cuma mau nanya sedikit

Di Solo, nanya alamat atau pesan makanan bisa jadi pembuka obrolan panjang. Yang saya mau cuma tahu arah ke warung makan, tapi malah dapat cerita soal pemilik warungnya, anaknya sekolah di mana, sampai harga cabai yang naik turun.

Awalnya saya bingung, ini kenapa jadi panjang banget. Dalam kepala saya, interaksi ideal itu singkat, jelas, selesai. Tapi di Solo, ngobrol itu bukan sekadar alat tukar informasi, tapi bagian dari relasi sosial.

Lama-lama saya ikut kebawa. Kalau ketemu bapak-bapak di warung, saya nggak lagi buru-buru cabut setelah bayar. Duduk sebentar, dengar cerita, meski sering nggak tahu harus merespons apa selain, “nggih, nggih.”

Dan anehnya, setelah itu hari terasa sedikit lebih manusiawi.

Jalan santai, padahal nggak sedang libur

Saya pernah heran kenapa banyak orang di Solo jalan seperti nggak punya deadline. Nyebrang santai, naik motor juga nggak terlalu ngebut, bahkan kalau telat pun ekspresinya tetap kalem. Sebagai orang yang terbiasa hidup pakai jam dan alarm, ini terasa aneh. Saya selalu mikir bukannya kita semua sama-sama dikejar waktu?

Tapi lama-lama, ritme kota ini memaksa saya menurunkan kecepatan. Bukan jadi malas, tapi jadi lebih sadar kalau nggak semua hal harus diselesaikan dengan panik.

Baca Juga:

Jatuh di Rel Bengkong Purwosari Solo Bukan Kejadian Mistis, tapi Apes Aja

Solo dan Jogja Nggak Cocok untuk Frugal Living, Mending ke Delanggu Aja! 

Sekarang, kalau jalan ke minimarket atau kampus, saya nggak lagi merasa harus terburu-buru. Toh, Solo juga nggak sejauh itu ke mana-mana. Capek iya, tapi capek yang nggak ditambah cemas.

Makan manis tanpa banyak protes

Soal makanan, ini mungkin yang paling sering jadi bahan debat kenapa hampir semua makanan di Solo rasanya manis.

Waktu awal datang, saya termasuk tim yang sering protes dalam hati. Soto kok manis, nasi liwet manis, bahkan sambal pun kadang terasa ada manis-manisnya. Rasanya seperti lidah saya sedang diuji kesabarannya. Tapi entah bagaimana, setelah beberapa bulan, saya berhenti komplain. Bukan karena rasanya berubah, tapi karena lidah saya yang menyesuaikan.

Sekarang malah aneh kalau makan makanan yang rasanya terlalu asin atau pedas ekstrem. Ada bagian dari diri saya yang mulai merasa, “kok nggak ada manis-manisnya, ya?”

Di titik ini, saya sadar bahwa saya sudah resmi kena infiltrasi budaya rasa.

BACA JUGA: Panduan Mengenal Kota Solo, Solo Raya, Solo Coret, dan Surakarta untuk Perantau yang Sering Bingung

Bilang “nggih” untuk hampir semua situasi di Solo

Di Solo, kata “nggih” itu multifungsi. Bisa berarti setuju, bisa berarti paham, bisa juga berarti, “saya dengar, tapi belum tentu sepakat.”

Awalnya saya bingung, ini orang sebenarnya setuju atau cuma sopan? Karena terbiasa bicara langsung dan tegas, saya sering merasa komunikasi di Solo terlalu muter-muter. Tapi lama-lama saya paham ini bukan soal menghindari kejujuran, tapi soal menjaga suasana tetap adem.

Sekarang, tanpa sadar, saya juga sering pakai “nggih” buat meredam konflik kecil. Bukan karena takut beda pendapat, tapi karena nggak semua perbedaan harus langsung dibenturkan.

Ternyata, hidup lebih tenang kalau nggak semua hal diperdebatkan sampai tuntas.

Nyebut semua orang dengan “Mas” dan “Mbak”, termasuk pada yang lebih muda

Di Solo, semua orang adalah “Mas” dan “Mbak”. Nggak peduli dia lebih muda, lebih tua, atau sebaya. Bahkan bocah SD pun bisa dipanggil “Mas” kalau dia lagi jual gorengan.

Pertama kali denger temen saya manggil anak kuliahan dengan “Mbak”, padahal temen saya jelas lebih tua, saya langsung protes.

“Lho, dia kan lebih muda dari kamu!”

“Ya gak papa, lebih sopan aja.”

Saya mikir ini aneh banget. Tapi ternyata kebiasaan ini tuh bikin komunikasi jadi lebih akrab dan menghormati siapa pun, tanpa harus ribet mikir siapa yang lebih senior. Semua orang merasa dihargai.

Sekarang? Saya sudah otomatis manggil tukang ojek yang masih ABG dengan “Mas”. Bahkan waktu pulang kampung, saya sempat manggil adik sepupu saya dengan “Dek Mas”, yang langsung bikin keluarga besar saya ngakak.

BACA JUGA: 8 Aturan Tak Tertulis di Solo yang Wajib Kalian Tahu Sebelum Datang ke Sana

Nongkrong tanpa tujuan yang jelas

Di banyak kota, nongkrong sering punya tujuan, seperti diskusi, kerja, meeting, atau minimal foto buat story. Di Solo, nongkrong bisa sesederhana duduk, pesan teh, lalu bengong. Awalnya saya ngerasa ini buang waktu. Duduk lama tapi nggak ngapa-ngapain, terus buat apa?

Sampai suatu titik, saya ikut duduk di angkringan, dengar motor lewat, dengar orang ngobrol, dan menyadari ternyata ini bentuk istirahat yang jarang kita beri ke diri sendiri. Bukan istirahat fisik, tapi istirahat dari keharusan untuk selalu produktif.

Sekarang saya paham, kenapa banyak orang betah lama-lama di sini. Karena kota ini memberi ruang buat nggak selalu jadi siapa-siapa.

Tinggal di Solo pelan-pelan mengubah cara saya hidup. Bukan lewat nasihat besar atau slogan motivasi, tapi lewat kebiasaan kecil yang awalnya terasa aneh, lalu terasa masuk akal, dan akhirnya jadi bagian dari keseharian.

Mungkin memang begitu cara kota ini bekerja. Nggak memaksa kita berubah cepat, tapi mengajak pelan-pelan menurunkan nada hidup. Sampai suatu hari, saya sadar bahwa saya sudah bukan orang yang sama seperti waktu pertama datang.

Dan anehnya, saya nggak keberatan sama sekali.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Solo, Kota yang Hanya Ramah ke Wisatawan, tapi Tidak ke Warga Lokal 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2026 oleh

Tags: kebiasaan warga solokuliner solosolo
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Jalan Kabut UNS, Jalan yang Bikin Maba UNS Merinding dan Kena Plot Twist

Sisi Gelap Jalan Kabut, Jalan yang Bikin Maba UNS Merinding dan Kena Plot Twist

29 Agustus 2024
3 Kuliner Solo yang Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

3 Kuliner Solo yang Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

24 November 2024
Berlagak Tuli dan Benci Pengamen di Tongkrongan Adalah Budaya Bajingan para Tukang Nongkrong terminal mojok.co

Fenomena Pengamen Galak yang Meresahkan di Solo: Cari Rezeki kok Pakai Marah-marah? Kalau Ada yang Nggak Terima Gimana?

4 Juli 2023
tommy shelby peaky blinders mojok

Seandainya Tommy Shelby, Tokoh Serial ‘Peaky Blinders’, Berkarier di Solo

15 Februari 2021
Surat Terbuka untuk Elite UNS yang Suka Berantem (Wikimedia Commons) pkkmb tempat ibadah

UNS, Kampus Pertama dengan 6 Tempat Ibadah

13 September 2023
4 Makanan di Solo yang Bikin Kaget Orang Jawa Timur

4 Makanan di Solo yang Bikin Kaget Orang Jawa Timur

27 Juni 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan Mojok.co

5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan

26 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

27 Januari 2026
Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran Mojok.co honda civic fd

Honda Civic FD: Mobil Ganteng yang Dibayar dengan Pahitnya Harga Perawatan Mahal

21 Januari 2026
UT, Kampus yang Paling Mengerti Mahasiswa. Nggak Perlu Panggung untuk Bisa Berprestasi

UT, Kampus yang Paling Mengerti Mahasiswa. Nggak Perlu Panggung untuk Bisa Berprestasi

27 Januari 2026
Sidoarjo dan Surabaya Isinya Salah Paham, Bikin Kecewa Saja (Unsplash)

Kebohongan Surabaya yang Bikin Sidoarjo Kelihatan Terbelakang Padahal Lebih Lengkap Sebagai Sebuah Daerah

21 Januari 2026
Cerita para Penyintas Cedera ACL: Masa Pemulihan yang Menyiksa Raga dan Batin, hingga Terpaksa Harus Pensiun Dini  

Cerita para Penyintas Cedera ACL: Masa Pemulihan yang Menyiksa Raga dan Batin, hingga Terpaksa Harus Pensiun Dini  

23 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Pertama Kali Jalan-jalan ke “Negeri Tiongkok Kecil” Lasem, Banyak Situs Sejarah Mangkrak Tak Terawat
  • Honda Scoopy Adalah Bukti Bahwa Perempuan Memilih Motor Berdasarkan Kode Warna Lipstik, Bukan Berdasarkan Kemampuan Mesin
  • Kesialan Bertubi yang Bikin Saya Merenung dan Nyaris Menyesal Pindah ke Jogja yang Penuh dengan Kebohongan
  • The Authentic Alwi Farhan: Gen Z Muda dan Berbahaya, Mental Baja tapi Suka Belajar dari Kritik
  • Mimpi Masa Kecil “The Next Minions” yang Masih Tertunda
  • Series “Trio Bintang Lima”: Saat Arwah Eyang Turun Tangan Ingatkan Gen Z yang Lupa Soal Tata Krama Orang Jogja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.