Honda Civic FD adalah salah satu mobil yang sejak kemunculannya langsung mencuri perhatian. Desainnya timeless, futuristis, dan terlihat “mahal” meski usia tak lagi muda. Garis bodinya tegas, lampu sipit, serta interior yang terasa berbeda dari mobil Jepang kebanyakan di zamannya. Tak heran jika banyak orang—termasuk Adi—menjadikan Civic FD sebagai mobil impian.
Adi bukan tipe orang yang asal membeli mobil. Bertahun-tahun ia memendam keinginan memiliki Civic FD, sambil membaca forum, menonton review, dan mendengarkan cerita para pemiliknya. Ia tahu mobil ini tak semata jadi alat transportasi, tapi juga simbol pencapaian.
Namun seperti banyak mimpi lain, ada harga yang harus dibayar. Dan pada Honda Civic FD, harga itu datang dalam bentuk konsumsi bahan bakar yang boros dan biaya perawatan yang tak ramah kantong.
Mimpi yang akhirnya terwujud
Saat akhirnya Adi membeli Honda Civic FD bekas, perasaannya campur aduk. Senang, bangga, sekaligus waswas. Senang karena mobil idaman akhirnya terparkir di garasi. Bangga karena Civic FD masih punya aura prestise. Tapi waswas karena ia tahu cerita-cerita pahit soal perawatan mobil ini bukan isapan jempol semata.
Di bulan-bulan awal, Civic FD memang terasa sempurna sekali. Suspensi empuk tapi tetap stabil, handling mantap, dan mesin i-VTEC terasa halus saat dipacu. Setiap kali diparkir, selalu ada rasa puas saat menoleh ke belakang. Namun kebahagiaan itu perlahan diuji saat jadwal perawatan rutin datang.
BACA JUGA: Honda Civic Genio: Tampan, Nyaman, Harga 30 Jutaan, tapi Menuntut Kesabaran
Pahitnya merawat Civic FD: sparepart mahal dan tak bisa asal
Masalah utama Civic FD bukan karena mobilnya rewel, melainkan karena standar perawatannya tinggi. Banyak komponen yang harganya jauh di atas mobil Jepang sekelasnya. Adi mulai merasakan “tamparan” pertama saat harus mengganti kaki-kaki depan.
Shockbreaker depan Civic FD, misalnya. Untuk unit original, harganya bisa menyentuh Rp3–4 juta per buah. Jika diganti satu set depan-belakang, biayanya bisa menembus Rp12–15 juta. Alternatif aftermarket memang ada, tapi tetap tak bisa dibilang murah, apalagi jika ingin kenyamanan mendekati standar pabrik.
Belum selesai di situ. Lower arm, ball joint, dan bushing kaki-kaki juga jadi penyakit umum Civic FD, terutama yang sudah berumur di atas 10 tahun. Satu set lower arm depan bisa menghabiskan Rp4–5 juta. Bushing trailing arm belakang sekitar Rp1–2 juta, belum termasuk ongkos pasang yang juga tidak murah karena pengerjaannya rumit.
Masuk ke sektor mesin, Adi kembali mengelus dada. Engine mounting Civic FD terkenal cepat aus. Untuk satu buah engine mounting original, harganya berkisar Rp1,5–2,5 juta. Total ada beberapa titik mounting, dan jika diganti semua, dana Rp6–8 juta bisa melayang.
Sistem pengereman juga tak kalah mahal. Kampas rem depan original Civic FD bisa berada di kisaran Rp1,2–1,8 juta. Piringan cakramnya? Sekitar Rp2–3 juta per buah. Bagi Adi, ini bukan biaya kecil, apalagi jika dibandingkan dengan mobil lain yang kampas remnya bisa diganti dengan setengah harga.
Belum lagi soal sensor-sensor. Civic FD dikenal “manja” soal sensor. Sensor O2, misalnya, harganya bisa mencapai Rp2–3 juta. Jika throttle body kotor dan perlu servis atau penggantian sensor TPS, biaya kembali membengkak.
Di titik ini, Adi sadar kalau Civic FD bukan mobil untuk orang yang ingin hidup tenang tanpa dana cadangan.
BACA JUGA: Niat Hati Beli Mobil Honda Civic Genio buat Nostalgia, Malah Berujung Sengsara
Honda Civic FD boros BBM!
Jika perawatan mahal adalah satu luka, konsumsi bahan bakar adalah luka lainnya. Civic FD, terutama varian 1.8 dan 2.0, terkenal boros di dalam kota. Dengan kondisi macet, konsumsi BBM bisa berada di angka 1:6 hingga 1:8 km per liter. Bahkan dengan gaya berkendara santai, sulit berharap angka lebih irit.
Untuk perjalanan luar kota memang sedikit lebih baik. Namun tetap saja, angka ini kalah jauh dibandingkan sedan lain yang lebih bersahabat di dompet.
Adi sering berkelakar, “Civic FD itu gantengnya mahal, minum BBM-nya banyak.” Setiap kali mengisi bensin, ia sadar bahwa mobil ini menuntut kompromi. Bukan hanya uang perawatan, tapi juga uang harian.
Menyerah?
Pada satu titik, Adi sempat berpikir untuk menjual Civic FD. Rasanya lelah. Setiap bunyi aneh membuatnya waswas. Setiap jadwal servis membuatnya menghitung ulang saldo rekening. Namun ada satu hal yang membuatnya bertahan: perasaan saat mengemudi.
Civic FD memberinya sensasi berbeda. Setiap kali gas diinjak, ada kepuasan tersendiri. Setiap kali melewati tikungan, handling-nya seperti mengingatkan bahwa mobil ini memang diciptakan untuk pengemudi, bukan sekadar penumpang.
Lebih dari itu, Civic FD justru menjadi cambuk bagi Adi. Mobil ini mengajarkannya tentang tanggung jawab. Tentang mimpi yang memang tak selalu murah. Tentang kenyataan bahwa gengsi dan kenyamanan sering datang bersama konsekuensi.
Alih-alih menyesali pilihannya, Adi menjadikan Civic FD sebagai motivasi. Ia bekerja lebih keras, mencari penghasilan tambahan, dan lebih disiplin mengatur keuangan. Setiap biaya servis bukan lagi keluhan, tapi pengingat bahwa ia pernah berani bermimpi dan berani membayar harganya.
Civic FD bukan sekadar mobil bagi Adi. Ia adalah pelajaran hidup. Tentang keinginan yang tercapai, lalu diuji. Tentang tampilan luar yang memukau, tapi menyimpan tuntutan di baliknya. Tapi bagi Adi, semua itu sepadan. Karena dari mobil inilah ia belajar bahwa mimpi tak pernah gratis. Dan justru karena mahal itulah, mimpi terasa lebih berarti.
Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Mobil Bekas di Bawah 100 Juta yang Sebaiknya Nggak Dibeli Pemula
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

















