Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Panduan Berpikir Pakai Otak Biar Kamu Nggak Pekok

Nia Lavinia oleh Nia Lavinia
8 Maret 2020
A A
berpikir

Panduan Berpikir Pakai Otak Biar Kamu Nggak Pekok

Share on FacebookShare on Twitter

“When you are dead, you don’t know you are dead. It’s pain only for others. It’s the same thing when you are stupid.” Richard Feynman

Seorang teman yang beragama Buddha pernah bercerita kepada saya bahwa dosa paling besar di agamanya bukan pembunuhan atau perzinahan, tapi kebodohan. Dia bilang, ketika seseorang bodoh, dia bukan hanya menyulitkan dirinya sendiri, tapi juga menyulitkan orang lain. Apalagi misal, ketika dia sendiri tidak menyadari bahwa dia sedang menjadi bodoh.

Cerita teman saya ini saya pikir sangat relevan untuk menjelaskan keadaan kita (hah, kita?) sekarang. Sadar nggak sih gara-gara ke-pekok-an orang penting yang ngambil kebijakan di Indonesia, kita sebagai rakyat harus menanggung beban-beban tambahan seperti memikirkan masa depan negara ketika beban hidup kita pribadi saja sudah sangat memberatkan.

Bu Sitty Hikmawatty, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang bilang kalau perempuan bisa hamil ketika berenang bersama laki-laki itu hanya satu contoh kecil saja karena kenyataannya, ini bukan pertama kali orang penting ngomong pekok di Indonesia.

Makanya bodoh yang saya maksudkan di sini, bukan masalah IQ yang rendah atau tingkat Pendidikan yang tidak tinggi. Karena kebodohan nggak punya korelasi dengan itu semua. Buktinya, banyak orang pintar, bahkan sekelas doktor yang juga sering pekok.

Bodoh yang saya maksud di sini adalah kegagalan dalam melakukan proses berpikir. Mulai dari terkena bias, menyimpan prasangka, sampai yang paling ekstrem yaitu dengan sengaja melewati tahapan-tahapan berpikir yang kompleks alias nggak pakai mikir sama sekali, langsung percaya begitu saja.

Karena berpikir itu sulit, saya percaya kalau nggak semua sudut pandang diciptakan setara karena ada yang berangkat dari pemikiran kompleks, dan ada yang asalnya hanya dari “apa kata orang” saja.

Sayangnya, nggak semua orang suka berpikir dengan kompleks, inilah yang jadi akar permasalahan orang-orang penting yang pekok itu. Mereka antara melakukan oversimplifikasi atau merumitkan sesuatu.

Karena kita setiap hari bisa jadi berhadapan dengan ke-pekok-an orang lain, penting untuk kita mempunyai kemampuan berpikir yang baik biar kita punya penilaian yang jelas terhadap suatu masalah dan nggak ikut pekok kayak mereka.

Baca Juga:

Rekomendasi Tempat Berpikir dan Mencari Inspirasi Selain Nongkrong di WC

Mengungkap Misteri: Kamar Mandi Jadi Tempat Munculnya Ide-ide Brilian

Cara berpikir yang baik dan benar:

Proses berpikir adalah proses mencari tahu. Dari yang awalnya tidak tahu, menjadi tahu. Yang kita inginkan adalah, hal yang kita ketahui ini, sedekat mungkin dengan realita.

Nah, dalam perjalanan untuk mencari fakta ini, kita harus siap jika berhadapan dengan kenyataan yang berkebalikan dengan apa yang kita percayai sebagai kenyataan.

Misal, kita mungkin berpikir kalau bu Sitty itu pekok karena mikir berenang bisa bikin hamil, eh pas kita (((menggali))) untuk mencari tahu realita, ternyata dalam sejarah umat manusia banyak contoh orang hamil karena berenang, itu artinya, perkataannya bu Sitty ternyata sesuai dengan realita, kita yang salah. Waduh.

Nah, untuk menghindari tamparan keras seperti itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjadi humble dan jangan sotoy. Kecuali kamu expert di dalam ilmu biologi, seksologi, dst dst kita harus mengakui kita sebenarnya nggak tahu apa-apa tentang hal itu.

Hal kedua yang harus kita lakukan adalah bikin hipotesis. Gimana cara bikin hipotesis? Ya dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi, mengevaluasi dengan cermat dan seksama informasi-informasi itu apakah sesuai dengan fakta, lalu menyatukannya menjadi sebuah pra-pengetahuan (disebut pra-pengetahuan karena dia belum bisa jadi pengetahuan ketika belum diuji dengan menjalani verifikasi dan falsifikasi).

Oke, kita pelan-pelan saja, saya bahas satu per satu lagi.

Ketika kita memutuskan untuk mencari tahu tentang sesuatu, dan kita sejak awal memosisikan diri kita hanya tahu sedikit hal tentang hal itu, maka kita harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi yang bisa membantu kita.

Ketika saya bilang sebanyak-banyaknya, artinya banyak secara literal. Bahkan informasi yang kita yakin kita nggak sepakat kayak perkataan Bu Sitty tentang ada sperma super yang bisa bertahan lama di kolam yang penuh kaporit dan bisa masuk ke vagina tanpa harus melakukan penetrasi. Informasi aneh kayak gitu juga bentuk informasi karena dia juga bisa mengajarkan kita sesuatu (untuk jangan berpikir seperti itu).

Setelah mengumpulkan informasi, selanjutnya mengevaluasi informasi tersebut.

Untuk mayoritas orang yang tidak expert, cara kita mengetahui informasi itu valid atau tidak valid adalah dengan percaya pada orang yang sudah expert di bidangnya. Expert yang memang berbicara fakta, dan kita percaya dengan dia karena dia mendalami ilmu itu. Dalam kasus ini, seorang dokter kandungan, seksolog, atau atau saintis.

Setelah memisahkan mana yang valid dan yang tidak, kita harus menerapkan filter terakhir yaitu skeptisme. Skeptisme menjaga kita dari kecurangan berpikir seperti cherry picking (cuma percaya sama yang mendukung realitas apa yang ingin kita dengar dan menolak informasi yang berkontradiksi).

Kalau kita nggak skeptis dan langsung percaya-percaya aja, nanti kita bakal dibikin bingung sendiri saat menemukan pendapat yang berkontradiski. Baca pendapat A percaya. Terus pas baca pendapat B yang bilang pendapat A salah juga langsung percaya. Tapi jangan terlalu skeptis sampai paranoid juga. Soalnya kalau paranoid dan mencurigai semua informasi yang kita terima, nanti kita nggak akan belajar apa-apa.

Nah, setelah dapat informasi dan mengevaluasi mana yang bisa dipercaya tadi, saatnya menggabungkan pecahan informasi itu untuk bisa dapat hipotesis deh.

FYI, hipotesis ini belum bisa disebut fakta. Untuk membuktikan keabsahan hipotesis yang kita buat ini, kita harus mengujinya dengan menyampaikannya atau malah memperdebatkannya kepada orang lain agar mereka (((mempreteli))) apa saja yang salah dari hipotesis kita. Masukan atau sanggahan dari orang lain akan jadi masukan yang berharga untuk kita merevisi apa yang tidak kita tahu sebelumnya.

Setelah direvisi, baru deh kita bisa punya satu pengetahuan baru dari proses berpikir yang baik. Hadeh, panjang ya prosesnya? Bikin capek aja berpikir itu tuh.

Ya gitulah kenyataannya. Makanya nggak heran kalau banyak orang yang lebih milih jadi pekok daripada susah-susah mikir.

BACA JUGA Google yang Serba Tahu dan Kemalasan Manusia Untuk Berpikir atau tulisan Nia Lavinia lainnya. Follow Twitter Nia Lavinia.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Maret 2020 oleh

Tags: berpikirberpikir ilmiahbodohpekok
Nia Lavinia

Nia Lavinia

Bercita-cita jadi pakar terorisme

ArtikelTerkait

Rekomendasi Tempat Berpikir dan Mencari Inspirasi Selain Nongkrong di WC terminal mojok.co

Rekomendasi Tempat Berpikir dan Mencari Inspirasi Selain Nongkrong di WC

27 Januari 2021
kamar mandi

Mengungkap Misteri: Kamar Mandi Jadi Tempat Munculnya Ide-ide Brilian

21 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

27 Januari 2026
Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

27 Januari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain Mojok.co

4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain

27 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT
  • Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punahnya Musik Analog
  • FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi
  • 4 Jenis Orang yang Harus Dilarang Nyetir Motor di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan, Biang Nyawa Melayang
  • Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat
  • Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.