Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang Memang Indah, tapi Apa-apa Serba Bayar

Nurhadi Mubarok oleh Nurhadi Mubarok
29 Juli 2024
A A
Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang Memang Indah, tapi Apa-apa Serba Ditarik Retribusi Mojok.co

Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang Memang Indah, tapi Apa-apa Serba Ditarik Retribusi (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya gemar berwisata ke air terjun. Dari sekian banyak tempat yang pernah dikunjungi, Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang yang paling memikat. Indah dan megah. 

Air terjun yang dikenal juga sebagai Coban Sewu ini punya ketinggian hingga 120 meter. Bentuk aliran airnya seperti tirai yang melebar. Di kalangan pecinta air terjun, bentuk aliran seperti ini termasuk tipe tiered. Betul-betul indah. 

Nama Tumpak Sewu berarti “naik seribu”. Penamaan itu terinspirasi dari aliran air yang turun berjejer dari tebing, bentuknya jadi mirip seperti tirai. Di taraf internasional, Air Terjun Tumpak Sewu mirip seperti Air Terjun Niagara di Amerika Utara. Bedanya, Air Terjun Tumpak Sewu memiliki ketinggian melebihi Air Terjun Niagara yang hanya setinggi 50 meter.

Ketipu tarif parkir

Sayangnya, keindahan itu ternodai oleh banyaknya retribusi ketika masuk ke kawasan wisata. Saya nggak mempermasalahkan retribusi di tempat wisata ya. Toh tarif semacam ini memang diperlukan untuk pengelolaan wisata. Persoalannya, Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang terlalu banyak retribusi. Kesannya, apa-apa harus bayar!

Beberapa waktu lalu, saya dengan teman-teman kuliah mengunjungi Tumpak Sewu untuk liburan. Begitu memasuki jalan menuju tempat parkir, kami ditarik Rp2.000 per motor dan diberi semacam tiket kecil berwarna kuning. Dalam hati saya “Wah, ternyata cukup murah biaya parkir di tempat wisata seperti ini”.

Sesampainya di parkiran, kami memarkirkan motor, menaruh helm, dan memasukkan Jaket ke dalam bagasi. Tak berselang lama, ada seorang mas-mas berjalan ke arah kami dan memberikan kami tiket berwarna biru yang bertuliskan “Parkir Sepeda Motor Rp10.000”. Lah, bukannya tadi sudah bayar per motor Rp.2000 kok sekarang malah bayar lagi Rp10.000?

Untuk memastikan agar bisa protes ke mas-mas tadi, saya cek kembali tiket kuning pas awal masuk yang belum sempat saya baca. Di situ tertulis “karcis untuk perawatan jalan”. Peh, saya kira karcis yang awal itu buat karcis parkir. Padahal karcis parkir dan tiket masuk itu juga sudah bisa buat perawatan jalan.

Retribusi Tampak Sewu yang nggak praktis

Setelah nggrundel di parkiran, kami berjalan menuju loket masuk Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang. Harga tiket masuk Rp10.000 per orang. Saya pikir harga ini masih wajar, mirip seperti tempat-tempat wisata air terjun lain. 

Baca Juga:

Bukannya Menghilangkan Penat, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri perkebunan warga sejauh kurang lebih 500 meter untuk sampai di Panorama Tumpak Sewu. Spot ini menawarkan pemandangan Air Terjun Tumpak Sewu dari atas. Sangat indah sekali hingga kami berkeinginan untuk turun menuju bawah air terjun tersebut.

Kami turun ke arah air terjun melewati ratusan anak tangga dari besi sejauh kurang lebih 700 meter. Sungai Glidik tempat di mana Air Terjun Tumpak Sewu mengalir. Kami sempatkan foto-foto terlebih dahulu karena lokasinya yang cukup bagus.

Sepuluh menit berselang kami melanjutkan perjalanan ke arah Air Terjun Tumpak Sewu. Eh ternyata, sebelum memasuki bawah air terjun ada sebuah loket dan kami harus bayar lagi Rp20.000 per orang. Haduh gusti, saya kira tiket masuk tadi sudah mencakup semua fasilitas. Karena dana yang kami bawa adalah dana mahasiswa yang minimalis, kami tidak jadi pergi ke bawah air terjun. Padahal udah capek-capek turun ke sungai ternyata malah bayar lagi.

Apa-apa harus bayar bikin malas berkunjung ke sana

Karena tidak jadi ke bawah air terjun, kami pun menghabiskan waktu di sungai tersebut untuk foto-foto. Saya dan satu orang teman saya mencari spot foto di area sungai tersebut. Dari kejauhan, terlihat ada sebuah tebing yang sisinya ditumbuhi tanaman dan mengalir air dari atasanya. Sangat bagus sekali untuk spot foto.

Saat berjalan kesana, kami melewati dua orang bapak-bapak yang sedang duduk santai di tepi sungai. Tiba-tiba kami diteriaki, “Heh mas udah punya tiket? Kok main nyelonong aja”. Saya jawab “Sudah pak tadi di atas udah beli tiket”. Dengan nada agak keras bapak-bapak tersebut mengatakan kalau tebing  yang saya maksud tadi sudah beda kawasan dengan tiket awal, namanya Goa Tetes. Jadi harus bayar lagi per orang Rp10.000.

Waduh, banyak banget tiket masuknya. Padahal semua tadi ada dalam 1 kawasan “Tumpak Sewu”. Padahal seharusnya 1 tiket masuk sudah bisa akses ke semua spot wisata, apalagi ini wisata alami bukan buatan manusia. Kalau seperti ini, bisa jadi wisatawan jadi malas ke sana karena terkesan banyak sekali yang harus dibayar. Sebaiknya pengelola air terjun Tumpak Sewu Lumajang memikirkan kembali sistem retribusi yang nggak praktis seperti ini. 

Penulis: Nurhadi Mubarok
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pantai Sendang Asih: Pantai Potensial di Kendal yang Terbengkalai, Banyak Sampah dan Bau

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2024 oleh

Tags: air terjunLumajangTumpak SewuTumpak Sewu Lumajang
Nurhadi Mubarok

Nurhadi Mubarok

melepaskan diri dari belenggu overthinking

ArtikelTerkait

Cara Saya Jelaskan Letak Kabupaten Lumajang biar Mudah Dipahami

Anomali Lumajang: Punya Banyak Tempat Wisata, tapi Banyak yang Nggak Tahu Lumajang di Mana

2 Juli 2024
Jember dan Banyuwangi Patah Hati 21 Tahun karena Pemerintah (Unsplash)

Jalur Selatan Jember: Mega Proyek JLS Mangkrak 21 Tahun yang Memupus Impian Indah Bersama Banyuwangi

18 September 2023
5 Wisata Air di Jogja yang Cocok untuk Tradisi Padusan Terminal Mojok

5 Wisata Air di Jogja yang Cocok untuk Tradisi Padusan

29 Maret 2022
Romantisnya Rute Jogja-Purworejo-Kebumen yang Penuh Jalan Berlubang Sana-sini terminal mojok.co Lumajang

Keadaan JLT Lumajang yang Memprihatinkan: Pesona Alamnya sih Indah, tapi Lubang Jalannya Bikin Celaka

5 Juli 2023
Lumajang Bikin Sinting. Slow Living? Malah Tambah Pusing (Unsplash)

Lumajang Sangat Tidak Cocok Jadi Tempat Slow Living: Niat Ngilangin Pusing dapatnya Malah Sinting

19 Desember 2025
Sumber Maron, Destinasi Wisata Tersembunyi di Malang

Sumber Maron, Destinasi Wisata Tersembunyi di Malang

14 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

31 Mei 2026
Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

4 Juni 2026
Pendekar Kopi dan Rojali, Musuh Alami Coffee Shop. Yang Satu Bikin Keder, yang Satu Bikin Pusing Owner

Pendekar Kopi dan Rojali, Musuh Alami Coffee Shop. Yang Satu Bikin Barista Keder, yang Satu Bikin Pusing Owner

3 Juni 2026
Bahaya di Gamping Sleman- Ketika Anak Muda Pesimis Hidup (Unsplash)

Bahaya yang Saya Lihat di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Pesimis dengan Kondisi Ekonomi dan Lari ke Judol Sebagai Pelampiasan

1 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.