Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Saya Gagal Kuliah di Surabaya meski Persyaratan Sudah 95%. Saya Terhalang Perubahan Restu Ibu karena Kiai Sekolah Tidak Setuju

Zubairi oleh Zubairi
20 Maret 2024
A A
Gagal Kuliah di Surabaya- Ibu dan Kiai Kompak Tidak Merestui (Unsplash)

Gagal Kuliah di Surabaya- Ibu dan Kiai Kompak Tidak Merestui (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saat kelas 3 MA, banyak guru bertanya saya mau kuliah di mana setelah lulus. Saya selalu tegas menjawab, “Di Surabaya.”

Untuk meringankan beban kuliah, saya berusaha mendapatkan beasiswa. Nah, setelah bertanya ke banyak orang, akhirnya saya menemukan orang yang tepat. 

Dia adalah kakak tetangga saya, seorang dosen, sekaligus guru madrasah. Sejauh ini, dia sering berhasil membantu calon mahasiswa mendapatkan beasiswa S1. 

Singkat cerita orang yang saya panggil kakak itu berhasil menemukan salah satu kampus di Surabaya yang cocok dengan saya. Jurusannya ada, sekaligus ada peluang mendapatkan beasiswanya. Setelah mengatur strategi, kakak meminta saya agar segera memenuhi persyaratannya.

Ibu saya sempat merestui untuk kuliah di Surabaya

Saya bilang ke ibu kalau sudah menemukan kampus di Surabaya. Insyaallah, saya akan kuliah dan dapat beasiswa. Ibu bangga dan memberi restu setelah mendengar kabar itu. Misal nantinya diterima atau tidak, dapat beasiswa atau tidak, saya pikir belakangan. Pokoknya coba dulu. 

Saya langsung mengumpulkan berkas. Mulai dari fotokopi KTP hingga SK Tidak Mampu dari desa. Dari 100% berkas, 95% persen sudah terkumpul. Bahkan, saya sudah membeli map kancing sebagai wadah persyaratan itu untuk disetor ke kampus yang saya tuju. Siap dikirim lewat pos saat itu.

Dipanggil kiai di sekolah, awal mula saya gagal kuliah di Surabaya

Waktu itu, siang hari, sebelum masuk kelas jam ketiga, saya tertidur di ruangan kelas. Salah satu teman membangunkan saya. Katanya, kiai sekolah, sekaligus yang punya lembaga, memanggil saya ke kantor. 

Setibanya di kantor, beliau bertanya, saya mau kerja apa kuliah? 

Baca Juga:

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep

4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan

Tegas saya menjawab, “Mau kuliah.” 

“Ke mana?” 

Saya bilang, “Di Surabaya dan sedang berusaha mendapatkan beasiswa.” 

Beliau bertanya lagi, dapat info dari mana. Saya bilang dari kakak. Kebetulan beliau kenal. 

“Oooh dari dia. Kamu kira-kira kuat nggak seperti dia kuliah di luar Madura. Karena, di luar Madura, banyak tantangan selain kamu harus betul-betul serius berkuliah,” ucap beliau menghadap ke arah timur duduk di kursi empuk dalam kantor. 

“Insyaallah,” jawab saya. 

“Ini lho, hatimu takut nggak kuat. Kuliah di luar Madura itu sungguh berat,” ujar beliau sambil memegang dadanya. 

Saya diam. Menunduk. Membatin, “Ya Allah. Bukannya memberi semangat, kok malah begini.” 

Sesaat kemudian, saya bilang baik-baik ke beliau kalau persyaratan sudah hampir lengkap. Usaha untuk kuliah ke Surabaya, sudah bulat.

Namun, beliau tetap menyarankan saya untuk kuliah di tanah kelahiran, Sumenep. Beliau ngasih opsi beberapa kampus. Salah satunya, kampus yang menerapkan Bidikmisi alias beasiswa juga. Tapi, saya menolak secara halus karena nggak ada jurusan yang saya inginkan.

Akhirnya, beliau tetap kurang setuju jika saya kuliah di Surabaya. Beliau ngasih saran lagi agar saya kuliah di kampus yang ada di Sumenep. 

Adalah kampus Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) yang menjadi opsi terakhir. Sebab di sanalah ada jurusan yang saya inginkan seperti di kampus di Surabaya tadi. 

Ibu berubah sikap, manut kiai

Pulang dari sekolah, saya bilang ke ibu kalau saya nggak mendapatkan restu dari kiai untuk kuliah di Surabaya. Ibu yang semula mendukung, langsung berubah. 

“Yaudah, mau gimana lagi, Cong jika kiai kamu sudah begitu, aku ikut apa kata beliau saja. Siapa tahu, nanti, itu menjadi yang terbaik bagi kamu,” kira-kira begitu ucap ibu. 

Di situlah saya tak bisa membantah. Semangat saya untuk kuliah di Surabaya merosot. Bagi saya, jika ibu tak mengizinkan, saya juga berat untuk berangkat. 

Jika anak sudah tak mendapat restu ibu, ada perasaan tak lega dan hidup terasa sempit. Jelas, di titik itu, saya tak bisa melawan. Dan, memang tak ada niatan untuk melawan.

Kiai mengajarkan muridnya untuk kalah sebelum berperang

Andai saja kiai memberi semangat, mendoakan yang terbaik, bukan malah mengkerdilkan mental muridnya, mungkin ibu juga akan mengizinkan. Saya tak bisa menebak perasaan beliau kenapa tak mengizinkan saya ke Surabaya. Padahal, tujuan saya kuliah di luar Madura karena meyakini kualitas pendidikan di sana lebih unggul ketimbang di Sumenep.  

Saya tak bermusuhan dengan beliau lantaran itu. Hanya, bagi saya, keputusannya tidak tepat. Beliau mengajarkan muridnya untuk kalah sebelum berperang.

Apakah semua muridnya dikira akan ugal-ugalan dalam menempuh pendidikan? Belum tentu. Dan niat saya kuliah ke Surabaya bukan untuk ugal-ugalan karena jauh dari orang tua. 

Apakah beliau berkaca ke mahasiswa yang kuliah ke luar Madura tapi bikin orang tua tersiksa? Saya tidak tahu pasti. Misal acuannya ke situ, duh, kek nggak ada acuan yang lain aja yang lebih memotivasi.

Mencoba memahami perasaan ibu

Saat itu, saya hanya bisa merenungi nasib melihat teman sekolah yang sukses kuliah di Jogja, Jember, dan Malang. Sementara saya, hanya mencoba memahami perkataan ibu yang berlandaskan atas ketidaksetujuan sang kiai itu. 

Barangkali dalam pikiran ibu, jika tetap mengizinkan, sementara guriu saya tidak setuju, ibu mungkin takut dicap orang tua yang kekuatannya kalah atas kemauan anaknya. Dan takut dicap sebagai orang tua yang mengajari anaknya untuk tidak patuh kepada dawuh gurunya.  

Saya tak berkutik. Kakak juga tak bisa berbuat apa-apa mendengar hal itu. Akhirnya, usaha untuk kuliah di Surabaya kandas di awal perjalanan. 

Itulah kisah saya pada 2019 silam. Kini, saya sudah lulus S1 tepat waktu di Kampus Instika tadi.

Penulis: Zubairi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bagi Orang Sidoarjo, Surabaya Adalah Kota yang Penuh Kenikmatan, Asal Kamu Betah Panas dan Nggak Baperan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2024 oleh

Tags: bidikmisikampus di surabayakiai sumenepkuliah di surabayamadurasumenepSurabaya
Zubairi

Zubairi

Pemuda asli Sumenep, Madura yang biasa makan nasi jagung dan gengan kelor.

ArtikelTerkait

Malang di Mata Perantau: Akan Lebih Baik kalau Fasilitasnya Selengkap Surabaya Mojok.co

Malang di Mata Perantau: Akan Lebih Baik kalau Fasilitasnya Selengkap Surabaya

18 Januari 2024
Pengalaman Naik DayTrans dari Surabaya ke Jogja yang Menuntut Kesabaran Terminal Mojok

Pengalaman Naik DayTrans dari Surabaya ke Jogja yang Menuntut Kesabaran

17 November 2022
Terminal Bungurasih Momok bagi Pengguna Jalan Raya Waru Sidoarjo, Macet Ora Umum! Mojok terminal bungurasih surabaya

Terminal Bungurasih Momok bagi Pengguna Jalan Raya Waru Sidoarjo, Bikin Macet Ora Umum!

24 Februari 2024
Repotnya Warga Kecamatan Pasongsongan Sumenep ketika Belanja Online, Perlu "Pindah" Kecamatan Dulu Mojok.co

Repotnya Warga Pasongsongan Sumenep ketika Belanja Online, Perlu “Pindah” Kecamatan Dulu

12 Januari 2024
Stasiun Wonokromo Surabaya Tampak Semenjana di Hadapan Stasiun Gubeng Baru yang Istimewa

Stasiun Wonokromo Surabaya Tampak Semenjana di Hadapan Stasiun Gubeng Baru yang Istimewa

11 Januari 2025
Warung Madura Bernama Madura Kitchen Sukses Jajah London (Unsplash)

Madura Kitchen, Warung Madura yang sukses Menginvasi Kota London Malah Kena Nyinyir Orang Indonesia Sendiri

21 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar Mojok.co

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar

26 Januari 2026
Ilustrasi Desa Sriwulan Kendal, Desa dengan Omzet Rp1,5 Miliar per Tahun (Wikimedia Commons)

Desa Sriwulan Kendal Bangkit Tanpa Berisik, Kini Menjadi Desa Wisata dengan Omzet Hampir Rp1,5 Miliar per Tahun

25 Januari 2026
5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan Mojok.co

5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan

26 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Kalau Saya Nggak Merantau ke Sidoarjo, Saya Nggak Tahu 3 Sisi Gelap Sidoarjo Ini

26 Januari 2026
Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

30 Januari 2026
Sidoarjo Mengajarkan Saya untuk Melambat dan Lebih Menikmati Hidup Mojok.co

Sidoarjo Mengajarkan Saya untuk Melambat dan Lebih Menikmati Hidup

28 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe
  • Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup
  • Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa
  • Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.