Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Saya Iri dengan Jalanan di Jawa yang Selalu Diperhatikan Presiden, Tak Seperti Jalanan di Kabupaten Bengkayang

Daniel Pradina Oktavian oleh Daniel Pradina Oktavian
1 Februari 2024
A A
Saya Iri dengan Jalanan di Jawa yang Selalu Diperhatikan Presiden, Tak Seperti Jalanan di Kabupaten Bengkayang

Saya Iri dengan Jalanan di Jawa yang Selalu Diperhatikan Presiden, Tak Seperti Jalanan di Kabupaten Bengkayang (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jawa itu begitu spesial. Jalan tak kelar direnovasi beberapa tahun saja pemerintah sudah bete. Sedangkan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, banyak daerah yang nggak pernah punya jalan yang layak

Pekan lalu presiden ngomel-ngomel (lagi) karena progres perbaikan jalan Solo-Purwodadi tidak selesai bertahun-tahun. Mimik wajahnya sangat serius, sepertinya beliau memang kesal dengan hal ini. Kalau diingat, ini sudah kedua kali Presiden ngecek langsung di ruas jalan ini.

Tidak sekali ini aja Presiden tinjau langsung jalan rusak. Beberapa kali, termasuk jalan yang (viral duluan) terletak di Lampung beliau cek langsung. Luar biasa ya Presiden kita ini?

Menurut catatan Kementerian PUPR, sejak 2014, lebih dari 1.150 km jalan nasional yang sudah dibangun. Sedangkan untuk jalan tol yang beroperasi di era Jokowi ada lebih dari 1.713 km. Capaian fantastis!

Tapi, saya tidak sedang memuji berapa jalan yang dibangun Jokowi. Saya hanya membayangkan betapa beruntungnya tinggal di Jawa. Sebab, jalan tak selesai beberapa tahun saja sudah bisa bikin petinggi cemberut. Sedangkan di tempat saya, Bengkayang, jalan malah tak pernah selesai.

Kabupaten Bengkayang, luput dari media, luput dari pembangunan

Kebetulan, selama lebih dari setahun ini, saya tinggal di salah satu wilayah terpencil di Provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Bengkayang. Mungkin buat banyak dari pembaca, nama kabupaten ini asing ya? Ya, karena jarang terliput media.

Sebagai orang yang selama 27 tahun hidup di tanah Jawa, hidup di wilayah terpencil di Kalimantan ini termasuk tantangan tersendiri. Mengapa? Ya betul, karena akses yang minim. Untuk gambaran, saya akan menjelaskan secara ringkas wilayah tempat saya tinggal.

Kabupaten Bengkayang berjarak kurang lebih 170 km dari ibu kota provinsi, yaitu Pontianak. Perjalanan biasa ditempuh dengan mobil selama 4-5 jam dengan kecepatan sedang. Jarak dan waktu tempuh segitu, termasuk biasa saja di sini, tidak jauh, tapi tidak juga dekat. Jalan yang menghubungkan kedua wilayah ini cukup ramai untuk setengah perjalanannya, karena banyak pasar. Lalu setengahnya lagi seperti menembus hutan belantara.

Baca Juga:

9 Jenis Kucing Terbaik yang akan Mendatangkan Rezeki Menurut Serat Katuranggan Kucing

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

Jalannya juga nggak lebar seperti di Jawa, hanya dua ruas yang cukup dilalui 2 truk yang berpapasan. Bandingkan saja dengan Jawa yang jalan tol saja bisa sampai 4 ruas untuk satu sisinya.

Jalan di pusat kabupaten Bengkayang pun juga kurang lebih sama lebarnya. Anda tahu? Melintasi pusat kabupaten ini tak lebih dari 10 menit. Sekali lewat, sudah selesai. Disebut pusat pun karena ada pasar, kalau tidak? Ya seperti jalanan lain yang dikelilingi hutan.

Wilayah Bengkayang cukup luas, dengan desa yang menyebar sampai bersebelahan dengan Malaysia. Kondisi topografinya mirip-mirip; tanah gambut, dominasi vegetasi oleh jagung dan sawit. Banyak tanah yang masih belum dikelola dan dibiarkan begitu saja.

Nggak banyak aspal di sini

Sebagian besar desa di Bengkayang harus ditempuh dengan perjuangan. Jalan yang berliku, banyak yang masih tanah dan batu, serta cukup jauh dari pusat kota. Jadi, jalan aspal (atau sering disebut jalan hitam) memang tak banyak.

Tanah di sini, jangan dibayangkan seperti tanah di Jawa ya. Lagi-lagi ini tanah yang susah dilewati kalau musim hujan. Rasanya seperti terjebak lumpur kalau Anda lewat. Tanahnya yang kemerahan bisa membuat Anda frustrasi untuk sekadar melewatinya. Kalau musim kemarau, ya siap berhadapan dengan batu dan debu yang luar biasa jumlahnya. Jalan pakai mobil saja serasa naik kapal di atas samudera, goyang-goyang dan bisa memabukkan.

Saya pernah punya pengalaman, masuk ke suatu kampung. Kampung ini terletak di ujung gunung terpencil di Bengkayang. Kami berangkat pagi-pagi benar dengan mempersiapkan motor dan perlengkapan tempur. Kami perlu masuk ke desa dulu, kurang lebih 30 menit perjalanan dari jalan hitam.

Setelah berjalan di trek batu selama 30 menit, kami mulai menanjak melewati jalanan yang super becek. Benar-benar menembus hutan belantara. Tidak menyangka kalau ada kampung yang seterpencil itu. Oh ya, jangan harap motor Supra yang biasa kamu parkir di ruang tamu bisa dengan elegan lewat sini ya. Motor trail saja pontang panting lewatinya.

Motor yang saya kendarai harus jatuh berkali-kali karena tak mampu lewat jalan yang super licin dan lumpur yang melumuri kedua ban. Kami bergantian saling menolong untuk membantu teman yang jatuh, motor mati, sampai adegan kecemplung rawa gambut.

Perjalanan seperti ini kami tempuh kurang lebih dua setengah jam. Padahal, jaraknya tidak lebih dari 15 km. Di ujung perjalanan mulai terlihat rumah-rumah penduduk yang jaraknya jarang-jarang. Kurang lebih ada 40 rumah. Betul, cukup banyak untuk ukuran kampung terpencil di Bengkayang.

Jasa ongkir material lebih mahal dari materialnya

Sesampainya saya di sana, saya mulai berkeliling dari rumah ke rumah yang umumnya terbuat dari kayu, anyaman bambu, dan ada juga yang sudah tembok. Ini yang membuat penasaran. Bagaimana caranya material bangunan dibawa dari kota ke sini?

Rupanya itu dilakukan hanya di musim kemarau, menggunakan mobil yang memang khusus untuk jalanan seperti itu. Ongkirnya pun amat mahal, bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah sekali angkut. Rata-rata penduduknya juga tak punya kendaraan karena mereka bekerja pun cari hewan atau tanam sayur di hutan.

Bagaimana kalau cari hiburan? Mereka tak mengenal hiburan macam orang kota. Bagaimana dengan listrik dan sinyal HP? Tidak ada listrik PLN, dan jaringan SOS. What do you expect, jalanan Bengkayang aja kayak gitu.

Bagaimana kalau sakit? Ya, ini bagian yang pahit. Kalau sakit, mereka lebih banyak memilih menahan diri dan berusaha sembuh dengan obat-obatan tradisional. Kalau parah bagaimana? Jika parah, masyarakat bisa saling bantu untuk gotong sampai ke puskesmas terdekat dengan medan yang sudah saya ceritakan tadi. Ada selentingan yang masih saya ingat, “Di sini kalau bisa jangan sakit keras, karena pilihannya bisa mati”

Jauh dan sulitnya akses membuat masyarakat mending memilih di rumah saja, dirawat seadanya. Kuat-kuatlah doa mereka agar selalu diberi kesehatan. Kalaupun sakit, banyak yang lebih memilih ditahan saja, karena perlu effort tenaga dan biaya yang besar sekadar untuk berobat.

Sekolah kalau ada gurunya aja

Lalu, bagaimana dengan pendidikan? Ada satu bangunan kecil di pinggir kampung yang berfungsi sebagai Sekolah Dasar. Mungkin ukurannya 8×4 meter saja dan di dalamnya disekat menjadi 4. Tiga untuk ruang kelas, satu untuk ruang guru. Kelas 1, 2, dan 3 masuk pagi selebihnya masuk siang dengan ruangan yang bergantian.

Karena sekat tak sampai atas, berisik tak bisa dihindari. Tapi Anda tahu? Tak setiap hari sekolah ini ada KBM karena tergantung dari guru datang atau tidak. Bayangkan saja, guru harus melewati jalan yang seekstrem itu untuk bisa mengajar. Nyampe sekolah pasti sudah tak berbentuk atau bahkan sudah habis waktunya.

Kebanyakan anak-anak menunggu di depan rumah kalau pagi, menunggu apakah gurunya lewat atau tidak. Jika lewat, berarti ada KBM, kalau tidak ya mereka libur. Keren, bukan?

Iri dengan Jawa, miris melihat Bengkayang

Ya itulah realitas. Itu saya baru cerita singkat satu kampung ya.

Saya miris, ketika Jawa, dengan segala kelas infrastrukturnya dibangun sedemikian masif, kuat, berkualitas, dan diperhatikan betul oleh Presiden. Seperti cerita saya di awal, ruas jalan yang sama saja dicek dua kali dan diukur betul-betul kualitasnya oleh beliau langsung. Sementara, di depan mata saya, ada kampung yang terputus dari dunia karena akses jalan yang tak memadai.

Ah, andaikan saja jalanan di sini dimanjakan sama seperti Presiden memanjakan jalan Solo-Purwodadi. Apakah karena di sini tidak ada potensi ekonomi atau tidak ada laju bisnis sehingga tak terlalu penting diperhatikan?

By the way, mumpung masa pilpres, saya akan memilih capres yang mau masuk ke wilayah-wilayah seperti ini. Syukur-syukur mau jatuh bergelimang lumpur dan menikmati sunyinya dunia tanpa listrik dan sinyal. Ya, mumpung belum pemilu, siapa tau tulisan ini dibaca oleh capres-cawapres kita yang terhormat ya.

Penulis: Daniel Pradina Oktavian
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kalimantan itu Isinya Nggak Cuma Hutan, Kuyang, dan Perdukunan, Bos

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Februari 2024 oleh

Tags: jalan rusakJawakabupaten bengkayangpresiden
Daniel Pradina Oktavian

Daniel Pradina Oktavian

Seorang pekerja kemanusiaan yang lagi belajar nulis. Menyukai isu-isu kedaerahan dan politik

ArtikelTerkait

jalan rusak tanah vertisol mojok bupati sumenep

Pajak Kendaraan Boleh Ganti, namun Jalan Rusak Tetap Abadi

27 Juni 2022
Sistem Pembayaran dengan Sebungkus Rokok dalam Masyarakat Jawa, Solusi sekaligus Masalah dalam Satu Paket

Sistem Pembayaran dengan Sebungkus Rokok dalam Masyarakat Jawa, Solusi sekaligus Masalah dalam Satu Paket

1 Maret 2024
Belajar dari Kasus Netflix Malaysia, Orang Jawa Harus Bangga Berbahasa Jawa terminal mojok.co

Belajar dari Kasus Netflix Malaysia, Orang Jawa Harus Bangga Berbahasa Jawa

3 Februari 2021
bahasa jawa krama inggil syekh subakir jawa tumbal ki semar mojok

Sabda Palon, Sebuah Perjanjian Antara Syekh Subakir dengan Mbah Semar

24 Oktober 2020
3 Alasan Orang Wonosobo Malas Berwisata ke Dieng Mojok.co

Pemimpin Boleh Berganti, tapi Masalah Jalan Rusak di Wonosobo Tetaplah Abadi

23 Februari 2025
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Sebaiknya, Setiap Jalan Berlubang di Lamongan Diisi dengan Lele, Itung-itung Memperkuat Branding Lamongan sebagai Kota Pecel Lele

22 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated (Unsplash)

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated: Kombinasi Rasa yang Memanjakan Lidah dan Semua Cocok Jadi Buah Tangan

21 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.