Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Rahasia Kerja di Coffee Shop Jadi Lebih Produktif

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
25 Juni 2023
A A
Rahasia Kerja di Coffee Shop Jadi Lebih Produktif

Rahasia Kerja di Coffee Shop Jadi Lebih Produktif (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Apakah kamu adalah salah satu orang yang beranggapan kalau otak kayaknya lebih moncer pas bikin kerjaan atau tugas kuliah di coffee shop atau kedai kopi modern? Nggak heran, banyak orang lebih suka menyelesaikan pekerjaan mereka di kafe langganan meski harus mengeluarkan sekian rupiah ketimbang kudu bergelut dengan tumpukan garapan di kantor atau rumah.

Akui saja, bisa melewati satu hari produktif itu menjadi suatu pencapaian yang dapat memuaskan ego. Nyatanya, korelasi antara performa kerja dan coffee shop tersebut bukan sekadar isapan jempol atau sugesti, melainkan ada penjelasannya, bahkan secara ilmiah, lho!

#1 Ogah rugi

Alasan pertama yang paling umum adalah enggan untuk merugi. Jelas, menjatuhkan pilihan work from coffee shop membutuhkan usaha yang nggak sepele, di luar biaya isi perut dan ongkos transportasi. Mustahil juga kalau niat ke kafe tanpa memikirkan penampilan yang pantas dilihat di tengah-tengah banyak pasang mata. Segala pengorbanan tersebut akan sia-sia belaka jika nggak dibayar dengan penyelesaian tanggungan hari itu.

Bagi orang yang penuh pertimbangan, latar belakang ini menjadi alasan kuat bagi mereka untuk mau nggak mau harus mampu menuntaskan daftar pekerjaan di hari yang sama. Ya biar nggak rugi.

#2 Serasa punya banyak penonton

Datang seorang diri ke tempat umum memang bukan lagi menjadi hal yang aneh. Akan tetapi, perasaan seperti menjadi pusat perhatian karena berani pergi sendiran kerap kali masih menghinggapi. Ibaratnya, orang-orang lain di sekitar kita seolah menjadi penonton yang siap mengamati setiap gerak-gerik yang kita lakukan. Suka nggak suka, akhirnya kita harus jadi sibuk supaya nggak salah tingkah karena merasa dipelototi.

Faktanya, secara nggak langsung, perasaan diawasi yang timbul dari perspektif personal ini dapat meningkatkan kinerja seseorang. Apalagi bila kita dikelilingi oleh sekumpulan orang yang terlihat sangat termotivasi, semangat, dan asyik tenggelam dalam kesibukan kerja mereka masing-masing. Kondisi demikian akan mendorong seseorang untuk berkompetisi menjadi pribadi yang lebih produktif dibandingkan orang-orang lain di sekitarnya.

#3 Minim gangguan

Dulu, di awal-awal dicetuskannya WFH, banyak pencari cuan yang menyambut baik usulan ini. Bekerja dari rumah seakan membawa angin segar untuk melepaskan diri dari kepenatan dan rutinitas kantor. Saat itu, WFH terdengar mengasyikan. Orang mungkin berpikir bisa lebih rileks sembari tetap produktif.

Sialnya, WFH nggak seindah angan-angan semula. Banyak gangguan datang silih berganti ketika WFH diterapkan. Misalnya saja, hasrat beberes rumah atau resah mendengar rengekan anak. Dijamin, fokus ambyar seketika.

Baca Juga:

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

4 Alasan Saya Lebih Memilih Ice Americano Buatan Minimarket ketimbang Racikan Barista Coffee Shop

Percayalah, talenta multitasking adalah mitos. Alih-alih dapat menghemat waktu karena mengerjakan beberapa to do list sekaligus, tindakan ini malah nggak efisien. Sebab, otak memerlukan waktu sekitar setengah jam untuk berkonsentrasi kembali setelah mengalami distraksi. Belum lagi, rata-rata seseorang akan kehilangan kurang lebih 25 menit setiap beralih aktivitas. Inilah yang menyebabkan metode WFH nggak lagi dianggap efektif dan efisien.

Lain halnya jika menggarap kerjaan di kafe. Tujuan orang datang ke tempat tersebut hanya ada satu dan sangat jelas, yaitu menyelesaikan tugas. Adanya kejelasan target, membuat tindakan seseorang menjadi lebih terarah sebagaimana anak panah yang melesat menuju pusat papan sasaran. Ditambah lagi, interupsi yang terjadi tidak terlalu intens seperti jika di rumah. Maka lumrah saja, momentum yang senantiasa terjaga ini menjadikan seseorang lebih fokus dan produktif dalam bekerja.

#4 Suasana baru

Walaupun kantor memang diciptakan sebagai wadah bagi karyawan untuk bekerja, rutinitas yang dihadapi sering kali malah membuat pikiran makin ruwet. Sesuatu yang rutin biasanya memicu kebosanan. Efeknya, kemampuan individu untuk berpikir inovatif menjadi macet dan menemui kebuntuan sehingga pekerjaan terbengkalai. Bukan karena malas, tetapi karena nggak ada gagasan yang muncul.

Hambatan kerja ini bisa diatasi dengan mengalihkan seseorang pada suasana anyar. Mengerjakan kerjaan di coffee shop, contohnya. Lingkungan kerja yang baru dan nggak dibatasi kubikel inilah yang menjadi faktor timbulnya ide segar. Ditambah lagi, percakapan random dari pengunjung coffee shop nggak jarang justru memancing kreativitas yang berguna dalam pekerjaan. Jika ide mengalir lancar, pekerjaan pun jadi lebih cepat terselesaikan, kan?

#5 Intensitas suara yang pas

Pernah mendengar ada tipe orang yang kudu menyalakan televisi tanpa ditonton ketika mengerjakan tugas? Pokoknya ada suara buat nemenin aja. Ternyata, terdapat penjelasan logis atas fenomena ini, Gaes.

Menurut suatu penelitian, orang memerlukan keributan kecil dengan kisaran suara sebesar 70 desibel untuk menstimulasi otak dan memunculkan inspirasi. Nah, suasana di coffee shop dirasa mendekati kebutuhan tersebut sehingga banyak orang merasa lebih terbantu menggarap kerjaan mereka ketika berada di sana.

Sementara itu, intensitas suara yang terlalu rendah, yaitu sekitar 50 desibel, akan membuat seseorang jenuh atau mengantuk. Di sisi lain, intensitas suara 85 desibel dianggap terlalu tinggi sehingga nggak sesuai untuk mewujudkan lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan.

Kalau menilik alasan yang terakhir ini, mungkin kita akan memaklumi kasus yang viral belakangan di mana ada seorang pengunjung kafe—yang berusaha menyelesaikan pekerjaannya—menegur sekumpulan anak muda yang dirasa terlalu berisik. Ya, bisa jadi suara mereka sudah mencapai atau melebihi batas 85 desibel.

Sekarang sudah paham, kan, kenapa kita merasa lebih sat set kalau ngerjain tugas di coffee shop? Sesekali menempuh cara tersebut memang mungkin akan berdampak positif pada performa kerja kita. Namun kalau terus-terusan dijalani, perilaku ini sama saja akan menjadi sebuah rutinitas yang rentan menimbulkan kebosanan. Yang lebih penting, terlalu sering ke coffee shop dengan alasan merampungkan pekerjaan juga nggak sehat buat isi dompet.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Mengerjakan Skripsi di Coffee Shop Itu 100 Persen Gaya-gayaan, Nol Persen Ngerjain Beneran.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Juni 2023 oleh

Tags: bekerjaCoffee Shop
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

3 Rekomendasi Coffee Shop di Klaten yang Nyaman untuk Nugas Terminal Mojok

3 Rekomendasi Coffee Shop di Klaten yang Nyaman untuk Nugas

28 Juni 2023
Pengangguran Terjadi Bukan Karena Keadaan, Tapi Faktor Gengsi sarjana mahasiswa lowongan kerja terminal mojok.co

Bekerja Kok untuk Duit, Aneh

28 Agustus 2020
Saya Resah pada Coffee Shop yang Ngasih Cup Plastik Saat Dine In terminal mojok.co

Saya Resah pada Coffee Shop yang Ngasih Cup Plastik Saat Dine In

26 November 2021
3 Coffee Shop dengan Cup Terbaik, Nggak Gampang Penyok dan Nggak Takut Tumpah!

3 Coffee Shop dengan Cup Terbaik, Nggak Gampang Penyok dan Nggak Takut Tumpah!

16 Februari 2024
Barista Coffee Shop yang Sombong dan Judes Mending Resign dan Fokus Kuliah Aja!

Barista yang Sombong dan Judes Mending Resign dan Fokus Kuliah Aja!

30 Oktober 2023
Kopitiam Itu Warung Kopi, tapi yang Laris Manis Justru Makanannya Mojok.co

Kopitiam Itu Warung Kopi, tapi yang Laris Manis Justru Makanannya

6 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti

15 Januari 2026
Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribuan yang Layak Dibeli Mojok.co

5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribu yang Layak Dibeli 

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.