Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Cukai Minuman Berpemanis Ditambah: Kurangi Konsumsi Gula atau Keruk Uang Rakyat?

Muhammad Arif Prayoga oleh Muhammad Arif Prayoga
17 Februari 2023
A A
Cukai Minuman Berpemanis Ditambah: Kurangi Konsumsi Gula atau Keruk Uang Rakyat?

Minuman Kemasan untuk Anak: Tampilannya Menarik Hati, Kandungan Gulanya Bikin Ngeri (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Cukai minuman berpemanis mengundang pertanyaan: niatnya untuk bikin rakyat sehat dengan mengurangi konsumsi gula atau mengeruk uang rakyat?

Jumlah kasus diabetes di kalangan anak pada tahun 2023 ini lebih tinggi 70 persen dibandingkan dengan jumlah pada 2010 lalu. Itulah catatan yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak (IKD) baru-baru ini. Kenaikan drastis inilah yang menjadi alasan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyurati Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan usulan untuk menambah cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). 

Pak Menkes membuat gebrakan untuk mendorong para pengusaha untuk membuat produk MBDK dengan kandungan gula yang lebih rendah. Namun, beliau juga memberikan usulan kepada Kemenkeu mengenai penambahan cukai pada MBDK. Katanya, dengan ditambahnya cukai ini, dapat membuat kesadaran masyarakat meningkat terkait konsumsi gula yang harus dibatasi.

Surat mengenai dorongan penambahan cukai kepada MBDK itu kabarnya tengah dievaluasi oleh Kemenkeu. Pembahasannya di DPR baru akan dilaksanakan pada Mei tahun ini. Kemungkinan, kebijakan baru terkait masalah ini sedang dipersiapkan untuk diterapkan pada awal tahun depan.

Setuju sih, tapi…

Sebenarnya saya setuju untuk mengurangi konsumsi gula pada anak zaman sekarang. Terlebih, dewasa ini makanan dan minuman yang dominan rasa manis menjadi konsumsi favorit kalangan muda. Baik sebagai konsumsi pokok sehari-hari, maupun saat hendak jajan pada waktu-waktu tertentu sebagai bentuk self reward. 

Selain itu, saya setuju-setuju saja mengenai untuk pembatasan yang didorong kepada produsen ini. Wewenang untuk menyehatkan masyarakat Indonesia menjadi tanggung jawab mutlak oleh Pak Menkes. Tapi, menjadikan lonjakan kasus penderita diabetes sebagai usulan untuk menambahkan cukai pada MBDK saya pikir kok kurang tepat.

Menurut saya, penambahan cukai ini sudah melenceng dari kepentingan kesehatan. Alih-alih membuat masyarakat sadar terkait pentingnya pembatasan konsumsi gula, saya lebih melihat usulan kebijakan ini lebih pada memanfaatkan dompet para penikmat minuman manis berkemasan.

Harga makanan atau minuman yang naik tak akan membuat peminatnya berkurang. Paling banter, mereka beralih produk yang lebih terjangkau. Jadi kalau menerapkan cukai gula dianggap sebagai solusi “menyehatkan masyarakat Indonesia” rasa-rasanya kurang tepat.

Baca Juga:

Pengalaman Mencicipi Teh Talua Malimpah, Minuman Khas Bukittinggi yang Dituding Biang Keladi Diabetes

Cukai Gula Nggak Segera Diterapkan, Pemerintah Mau Nunggu Apa? Generasi Diabetes 2030?

Memperbaiki kesehatan tak melulu dengan cukai

Lagian, kalau jadi diterapkan, pastinya seluruh merk dagang MBDK akan terdampak atas kebijakan ini. Artinya, kenaikan harga pada minuman favorit kawula muda ini akan bersifat menyeluruh terhadap semua merek dagang yang sudah terdaftar oleh BPOM. Kalau semua merek harganya naik, bukankah jatuhnya sama saja? Lebih seperti kenaikan harga akibat inflasi bukan?

Yang saya lihat, bukan orang-orang kecil yang menjadi konsumen yang akan menjadi lebih sehat. Melainkan, negaralah yang menjadi penerima cukai jadi semakin kaya. Berkontribusi kepada negara memang bagus, tapi kalau dimanfaatkan, rasanya terlalu berlebihan. Apalagi kalau kenaikan harganya terlalu tinggi hingga nggak bisa dijangkau oleh masyarakat, meskipun kayaknya nggak mungkin, tetapi dampak buruknya akan lebih besar lagi. Apa saja itu?

Dampak buruk yang bisa muncul

Pertama, produk kemasan akan kalah saing dengan pedagang kaki lima atau pemilik usaha gerobak keliling. Mereka yang menggelar lapak di pinggiran jalan sebagai aktivitas harian, bahkan profesi, nggak terdampak dengan adanya kebijakan ini. Kebanyakan dari mereka adalah perorangan yang nggak terikat oleh BPOM atau PIRT. Berpindahnya konsumen selaku pelanggan yang awalnya setia ini tentu membawa kerugian bagi produsen MBDK bersertifikasi.

Kedua, masyarakat ujung-ujungnya akan mengonsumsi minuman yang mungkin bahkan lebih nggak menyehatkan dibandingkan dengan minuman dengan kadar gula tinggi yang bersertifikasi. Nggak semua pengusaha itu baik, mengonsumsi makanan atau minuman yang nggak terikat aturan BPOM bisa jadi malah membuat masyarakat lebih jauh dari kata sehat.

Ketiga, pun, kalau semuanya diatur ketat oleh pemerintah, penikmat makanan dan minuman manis akan membuat sendiri apa yang disukainya dengan kadar gula awur-awuran sesuai selera. Nggak mungkin dong, aturan cukai ini menyasar ke orang-orang yang meramu sendiri makanan yang dikonsumsinya. Ya kan?

Kalau dipikir-pikir, menyadarkan masyarakat untuk lebih berhati-hati kepada gula dengan menambah cukai pada MBDK adalah cara yang sia-sia. Menurut saya, daripada usulan Pak Menkes ini, saya lebih menyarankan untuk memfasilitasi masyarakat untuk konsultasi terkait nutrisi secara gratis dengan menggaet para pakar nutrisi.

Asal niat, punya kiat-kiat

Ya memang bisa sih mengajak masyarakat sehat sembari berkontribusi pada negara. Masalahnya, metodenya kurang tepat menurut saya. Pembatasan pembelian tanpa harus mengotak-atik harga, misalnya, kan bisa jadi solusi. Kenapa itu nggak diambil?

Tapi ya bebas-bebas aja sih mau ambil kebijakan kek mana, asal kalau memang niatnya menyehatkan rakyat, ya yang total dalam berupaya. Kalau cuman ngeruk penghasilan cukai gula tanpa berupaya yang niat dalam menurunkan angka diabetes, ya keliatan banget kalau memang yang diincer bukan sehatnya, tapi…

Hikmahnya. Hayo, kalian mau bilang cuan? Salah kau, Paidi.

Penulis: Muhammad Arif Prayoga
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sewa Tanah Gratis Buruh Jawa: Sejarah Pabrik Gula di Jogja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2023 oleh

Tags: cukai minuman berpemanisdiabetesuang rakyat
Muhammad Arif Prayoga

Muhammad Arif Prayoga

Sarjana Komunikasi yang Gagap Berkomunikasi. Penulis di Copa-media.com. Bisa dihubungi via Instagram @arifprayogha_ dan Twitter @CopamediaID

ArtikelTerkait

Pengalaman Mencicipi Teh Talua Malimpah, Minuman Khas Bukittinggi yang Dituding Biang Keladi Diabetes

Pengalaman Mencicipi Teh Talua Malimpah, Minuman Khas Bukittinggi yang Dituding Biang Keladi Diabetes

15 Juli 2024
Panduan Belanja Susu Kemasan di Indomaret agar Tidak Kena Diabetes dan Penyakit Lain yang Mengintai

Panduan Belanja Susu Kemasan di Indomaret agar Tidak Kena Diabetes dan Penyakit Lain yang Mengintai

10 Februari 2024
Malapetaka di Balik Promo Jajan Online, Perlu Hati-hati! Mojok.co

Malapetaka di Balik Promo Jajan Online, Perlu Hati-hati!

9 Desember 2023
Diet Sehat Cegah Obesitas dan Hipertensi ala WHO Terminal Mojok

Diet Sehat Cegah Obesitas dan Hipertensi ala WHO

22 September 2022
pemanasan global

Dampak Negatif Pemanasan Global Bagi Kesehatan

24 September 2019
4 Rekomendasi Camilan Manis di Indomaret yang Jarang Dilirik

4 Jajanan Indomaret yang Dikira Sehat padahal Tinggi Kandungan Gula

6 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.