Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Pilihan Rumah Hunian Untuk Pengantin Baru

Allan Maullana oleh Allan Maullana
23 Mei 2019
A A
rumah hunian pengantin baru

rumah hunian pengantin baru

Share on FacebookShare on Twitter

“Apakah setelah menikah aku harus hidup di rumah orang tua suamiku atau di rumah orang tuaku sendiri?”

Pertanyaan itu muncul dari seorang teman saat calon suaminya mengajaknya untuk tinggal di rumah keluarga laki-laki sesudah menikah nanti. Dengan seketika pertanyaan itu menarik saya masuk ke lorong waktu, muncul ingatan-ingatan beberapa tahun lalu ketika memikirkan tempat tinggal setelah menikah.

ADVERTISEMENT

Kalau saya sih, lebih memilih hidup berdua dengan istri. Tinggal di rumah orangtua atau mertua, keduanya bukanlah pilihan. Mekipun ada teman-teman saya tetap menjadikan ini sebuah pilihan hidup. Tetapi saya tidak. Dalam hal ini, setidaknya saya mempunyai beberapa pertimbangan dan alasan untuk jalan hidup mandiri.

Pertama, saya rasa dalam berumah tangga tidak bisa ada dua kepala keluarga.

Setiap kepala keluarga punya tujuan dan misi yang ingin digapai bersama anggota keluarganya masing-masing. Kedua kepala keluarga ini punya pemikirannya masing-masing. Rasanya agak wagu jika satu bahtera punya tujuan dan arah berbeda.

Istri juga tidak bisa memasak dalam satu dapur rumah bersama mertua. Setiap dapur punya periuknya masing-masing. Setiap dapur punya lumbungnya masing-masing dan istri pun punya keinginan mengolah makanan untuk keluarganya masing-masing.

Misalnya si Istri hari ini ingin memasak sayur asam, sambal goreng, dan ikan teri kesukaan suaminya. Tapi di satu waktu yang sama, mertua ingin memasak kangkung, sambal terasi, dan tempe goreng kesukaan suaminya juga. Kalau sudah begini siapa yang akan mengalah?

Walaupun salah satu ada yang mengalah, tetap akan ada yang namanya konflik batin. Maka perang dingin pun dimulai. huhuhuuu, sedih akutu~

Baca Juga:

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita

Kedua, menjaga perasaan kedua wanita; ibu dan istri.

Wanita itu memiliki hati lembut yang mesti kita jaga. Wanita bertindak berdasarkan perasaan. Dua orang wanita ini—ibu dan istri—sama-sama menyayangi kita; laki-lakinya. Namanya juga seorang Ibu, beliau akan terus memberi apa yang terbaik untuk anaknya meskipun sudah menikah. Istri juga demikian, ingin memberikan yang terbaik kepada suaminya. Apakah kamu—hei, laki-laki—akan membiarkan persaingan ini dimulai?

Biar bagaimanapun—dalam kondisi apapun—mertua akan selalu benar pada apa yang dilakukan terhadap anaknya. Sebab mertua merasa sudah berhasil membesarkan anaknya sampai hari ini dengan cara yang menurutnya baik.

Kalau seorang laki-laki masih tetap kekeuh ingin mengajakmu tinggal di rumah orangtuanya. Dan dia termasuk mommy boy yang apa-apa serba mendengarkan kata ibunya. Sebaiknya, biarkan calon suamimu itu terus membujang. Karena percayalah, kamu akan banyak makan hati saat itu terjadi.

Apa kamu siap jika ada komentar mertua atas segala hal yang telah kamu kerjakan dengan penuh kasih sayang untuk suamimu?

Misalnya makanan, kamu terbiasa dari kecil tidak menggunakan MSG, dan menurut kamu MSG itu tidak baik. Tapi menurut mertuamu, memasak tidak pakai MSG itu laksana hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga hei begitulah kata para pujangga. Sudah siapkah untuk berdebat?

Mamam tuh ati!1!!11!

Atau mau dibalik posisinya? Boleh~

Ini menjadi alasan ketiga, laki-laki tetap punya rasa nggak enakan.

Bagi sebagian orang, mertua adalah sosok yang membuat rasa canggung. Meskipun kedua mertua kita adalah sosok yang baik hati. Dalam kondisi apapun kita tetap punya batasan-batasan. Kita—sebagai orang baru—tidak bisa seenak jidat melakukan apa saja di rumah keluarga baru. Sebagai pendatang baru kita harus punya sikap yang baik.

Suami tinggal di rumah orangtua istri memang kadang terlihat lumrah. Pada umumnya seorang laki-laki akan cuek terhadap perasaan dirinya sendiri. Laki-laki bertindak berdasarkan logika. Bodo amat lah, gitu. Apa yang terjadi tidak akan dimasukan ke hati. Tapi di sisi lain rasa enggak enakan itu tidak akan pernah hilang.

Misalnya, saat pekerjaan di tempat kerja menumpuk sehingga membuatnya lebih capek dari hari-hari biasanya. Kemudian begitu sampai rumah ingin segera tidur dan berangan-angan bangun siang di akhir pekan. Loh, kalau begini, sebaiknya angan-angan itu ditendang jauh-jauh. Di rumah mertua tetap kita tidak akan bisa bangun siang. Kalau saya sih nggak mau. Matahari sudah di atas kepala gini belum bangun tidur juga. Bisa-bisa dipecat jadi menantunya.

“Tapi kan, belum punya tempat yang bisa disebut rumah?”

Jawaban dari pertanyaan ini adalah alasan keempat; kita punya bekal untuk hidup.

Kita sudah diberi bekal; pendidikan, wawasan, dan kemampuan untuk hidup. Kita cari tempat tinggal dong! Kalau memang belum punya kemampuan untuk membangun rumah, kita bisa menyewa atau mengontrak rumah orang lain. Kalau belum mampu menyewa rumah secara utuh di komplek perumahan, kita bisa menyewa rumah petak yang mirip kos-kosan. Harganya lebih terjangkau daripada sewa rumah di komplek perumahan.

Toh dengan kehidupan di rumah sendiri, kita akan merasa hidup yang sesungguhnya. Susah-senang dijalani bersama. Mau ada makanan atau tidak bisa dirasakan bersama. Sebab hidup memang harus dihidupi.

“Di rumah orangtuaku lebih besar dan ada kamar kosong yang bisa kita tinggali.”

Yakin, deh! Di rumah sendiri—meskipun kecil—dengan hasil keringat sendiri akan lebih membahagiakan. Akan lebih mendamaikan keluarga. Di rumah sendiri kita bisa bebas mengekspresikan diri dan berkreasi. Bebas melakukan pekerjaan apa saja sesuai keinginan hati.

Dalam hal pekerjaan rumah, kita juga bisa mengerjakan seenak jidat. Mau makan siang tapi mencuci piringnya nanti sore, ya nggak apa-apa. Mau mencuci baju di malam hari, ya nggak masalah. Mau menyetrika tapi cukup seragam kerja, ya selow saja. Kamu mau habis subuh tidur lagi lalu bangun jam 9 siang, ya juga bebas-bebas saja.

Kalaupun ada suami yang berkomentar “Ini rumah kaya kapal pecah.” Ya bisa kita sahut, “Mbok ya, kamu bantuin aku beberes, sayang. Agar tercipta kerapian yang kamu dambakan.”

Tapi kalau mertua atau orang tua yang berkomentar, ya palingan cuma mangkel di hati. Dongkol.

Hashh, ramashook, sista~

“Kalau tinggal di rumah orang tua dan tidak mengontrak uangnya bisa ditabung.”

Nah ini dia. Hal ini menjadi alasan kelima yang menjadi pelajaran hidup yaitu latihan mengatur keuangan.

Dalam hal keuangan justru kita bisa belajar untuk mengatur alurnya. Kita bisa belajar untuk memenuhi kebutuhan dapur. Kita bisa memilah kebutuhan apa yang musti diprioritaskan. Apakah membayar kontrakan lebih dahulu atau pergi ke restoran untuk makan enak? Apakah beli beras lebih dahulu atau beli jajanan yang instagramable untuk di-posting?

Mengontrak bukan berarti kita tidak bisa menabung. Tetap bisa—kalau niat—menabung, meskipun hanya 10% dari gaji yang dihasilkan. Meskipun besarannya masih dalam ratusan ribu. Toh salah satu tujuan menabung adalah untuk mempersiapkan hari ke depan. Secara tidak langsung kita jadi belajar agar kebutuhan primer terpenuhi, kebutuhan sekunder tercapai, dan kebutuhan tersier—syukur Allhamdulilah—tergapai.

Hidup mandiri menjadi barometer kemampuan kita dalam membina rumah tangga. Beberapa artikel di daring menyatakan bahwa rumah tangga yang dicampuri oleh mertua akan membawa efek tidak sehat bagi kehidupan. Sering kali kita juga mendengar, beberapa kasus perceraian dalam rumah tangga bisa diakibatkan oleh omongan dari mertua.

Hakikat dari menikah adalah menempuh kehidupan baru. Kalau setelah menikah masih hidup bersama orang tua itu namanya menempuh kehidupan lama ditambah orang baru. Sebab itu sudah sepatutnya kita keluar dari rumah orang tua. Meskipun baru mampu mengontrak rumah petak, setidaknya kita sudah melangkah untuk lebih mandiri.

Sebelum tulisan ini dibubuhkan kata misalnya, misalnya, dan misalnya. Sebaiknya saya sudahi saja. Pada dasarnya kita hanya butuh jarak untuk menghindari konflik batin yang kerap terjadi antara mertua dan menantu. Selain itu jarak juga berfungsi untuk mengundang hadirnya rasa rindu antara orang tua atau mertua dengan anak atau menantu.

Mau nikahin anak orang, kok ya, enggak mau ngasih tempat tinggal. Mikir, kir, Malih!

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: menikahPasangan BaruRumahTempat Tinggal
Allan Maullana

Allan Maullana

Alumni SMK Karya Guna Bhakti 1 Bekasi, jurusan Teknik Mekanik Otomotif. Pemerhati otomotif khususnya Sepeda Motor. Suka baca buku dan menulis catatan di waktu luang.

ArtikelTerkait

Beli Rumah Makin Berat di Ongkos, Mending Sewa Rumah (Unsplash)

Demi Menyelesaikan Perdebatan Beli Rumah vs Sewa Rumah, Saya Membuat Hitung-hitungan Paling Valid untuk Anak Muda Duit Pas-pasan

21 Mei 2024
Memaknai Kata-Kata Dzawin Soal Laki-laki yang Mati Ketika Menikah Kemudian Hidup Kembali

Memaknai Kata-Kata Dzawin Soal Laki-laki yang Mati Ketika Menikah

30 Desember 2019
Tidak Kerja di Jakarta Bikin Saya Bersyukur sekaligus Menaruh Hormat pada Mereka yang Mengadu Nasib di Ibu Kota

Benarkah Jakarta Bukan Lagi Kota Favorit untuk Merantau? Jawabannya Jelas Tidak, Kota Ini Masih Begitu Mengilap untuk Perantau

28 April 2025
Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal Mojok.co

Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal

27 Februari 2026
Rasanya 18 Tahun Tinggal di Depan Sawah Terminal Mojok

Pengalaman Saya 18 Tahun Tinggal di Depan Sawah

16 Mei 2022
Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

7 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026
Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa Mojok.co

Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa

28 Juli 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park memang bukan tempat wisata termurah, tapi Jatim Park jelas adalah tempat wisata terbaik, paling worth it, dan masih affordable, kok

30 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.