Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Judi, Moralitas, dan Perdebatan yang Mengikutinya

Suwatno oleh Suwatno
28 Oktober 2021
A A
Judi, Moralitas, dan Perdebatan yang Mengikutinya
Share on FacebookShare on Twitter

Maka begitulah yang terjadi kali ini. Berawal dari dipampangnya sebuah berita pembongkaran aplikasi 19LOVE.ME oleh Mabes Polri, yang menawarkan judi online dan live streaming bugil di layar gawai Solikin, forum pun riuh rendah. Perdebatan dari mulut mereka menjalar dari analisis gejala sosial merembet ke tema sejarah, ekonomi, moralitas, hukum dan telaah-telaah banal lainnya.

Kanapi yang tidak terima dengan pernyataan Pardi bahwa faktanya aktivitas judi di Indonesia sampai saat ini merupakan tindakan melanggar hukum, mulai melakukan “riset” cepat lewat gawainya. Tidak sampai tiga isapan rokok, Kanapi kini telah menjadi pakar hukum dadakan. Ia menggugat pernyataan Pardi lewat frasa “barang siapa tanpa mendapat izin…dst” yang ada dalam Pasal 303 dan Pasal 303 bis KUHP. 

“Frasa ‘mendapat izin’ pada pasal ini, Di, adalah kunci…”, tangannya membuat gestur tanda petik,  “…kalau membaca frasa itu, yang melanggar hukum bukan aktivitasnya, tapi subjeknya. Apakah dia itu dapet izin apa nggak dari institusi penegak hukum. Gituuu…” Segaris pongah terlihat pada air mukanya.

Seperti tak mau tertinggal, mendengar itu Solikin cepat-cepat ikut membuka internet pada gawainya dan mulai melakukan “riset”-nya sendiri.

“Dengan analogi kaya gitu, seumpama warung Yu Marmi ini dapat izin dari Polsek berarti kita bisa main judi di sini? Nggak perlu ikut masang taruhan di situs-situs online gitu, dong?” Tanya Pardi.

“Iya. Tapi, nanti namanya jadi Marmi’s Casino and Brewery, Di. Dan kamu nggak pulang-pulang dari sini, sebab pasti penasaran karena selalu kalah kalau main judi.” Dengan tatapan masih ke arah papan catur Cak Narto merespon perbincangan. Seisi forum tergelak, kecuali Pardi, tentu saja.

Tiba-tiba Solikin melompat ke tengah gelanggang perdebatan. Ia datang dengan telaah sejarah. Dengan mantap ia berkisah bahwa judi, bersama dengan prostitusi merupakan salah dua aktivitas tertua umat manusia. Dengan tatapan masih ke arah layar gawai ia menambahkan kisah tentang legalisasi rumah judi pertama di Batavia pada 1620.

“Sejarah memang mencatat seperti itu, Mas Di. Bahkan nih ya, pas Pak Ali Sadikin jadi Gubernur DKI Jakarta, lewat pajak judi, pelacuran, bar, dan panti pijat, pemerintah daerah bisa mendongkrak pendapatan dari hanya Rp66 juta per tahun menjadi Rp122 miliar pada tahun 1977. Gendeng ini kenaikannya, Mas. Besar banget.” Tambahnya diiringi gelengan kepala.

Baca Juga:

Kelakuan Tolol Penerima Bansos: Dapat Bantuan dari Pemerintah eh Malah Dipakai untuk Judol, Udah Miskin Tolol Pula!

Mahasiswa Terjebak Judi Online, Bukti Orang yang Mengecap Pendidikan Tinggi Nggak Melulu Punya Nalar

“Kalau potensi penerimaan pajaknya sebegitu besar dan sejarah juga mencatat itu, lantas kenapa sekarang orang judi ditangkap-tangkapi, ya?” Solikin masih terheran.

“Moralitas, Ndes.” Desis Cak Narto.

“Betul itu, Cak. Judi dan prostitusi itu jelas melanggar norma sosial dan agama dong, Kin.” Sebagai anak seorang modin kampung, Pardi memberikan afirmasinya, “Dan sebagai bangsa timur yang kearifan norma sosialnya adiluhung, masa iya ekonomi bangsa mau ditopang dari sektor kemaksiatan begitu? Nggak patut. Bisa jadi nggak berkah nanti.” Tukas Pardi bestari.

“Kearifan? Adiluhung? Sabung ayam itu sudah ada di Nusantara sejak republik ini belum lahir lho, Ndes. Itu bentuk perjudian apa nggak? Apa itu juga bagian dari kearifan timur yang adiluhung itu tadi?” Cak Narto terkekeh di ujung retorikanya.

Bidak-bidak mulai dimasukkan kotak. Cak Narto yang seolah lelah bermain catur sendirian mulai memutar posisi duduk, membakar rokok, bersiap memasuki gelanggang bebantahan.

“Bahwa judi itu menabrak konsensus norma sosial itu jelas fakta, Ndes. Tapi, bahwa bangsa ini juga lekat dengan judi, prostitusi, dan aktivitas molimo lain, itu juga fakta. Hehehe.” 

Solikin kembali menekuri gawainya. Riset kembali dijalankan. Sejurus kemudian ia menggelar fakta bahwa pada 2014 dua analis Bloomberg merilis data jumlah pengunjung tempat perjudian di Singapura yang kebanyakan adalah warga negara Indonesia. “Dari total jumlah pengunjung kasino di Singapura pada Agustus 2014 yang mencapai 1,36 juta orang, 17,19 persennya itu ya warga negara kita, Cak.” Pungkasnya.

“Berarti benar kata Cak Narto, Di. Orang kita memang gemar judi. Cuma karena di sini dilarang dan pelakunya bisa dipenjara, mereka memilih judi di luar negeri.” Kali ini Kanapi yang mengafirmasi.

“Itu situs-situs judi online juga basisnya semua di luar negeri, Mas Pi, termasuk aplikasi 19LOVE.ME itu. Servernya di Filipina kalau nggak salah.” Imbuh Solikin.

“Nah, kan.” Cak Narto melempar puntung rokoknya, “Berarti pelarangan aktivitas judi di sini bukan kok karena alasan norma kesusilaan yang katamu adiluhung itu tadi, Di. Tapi, mungkin dalam penerapan hukumnya saja yang tebang pilih. Mungkin lho, ya.” 

“Karena gini, Ndes. Dengan alasan yang sama, moralitas itu tadi, harusnya peredaran alkohol juga dilarang, dong. Toh nyatanya sekarang pabriknya tetap ada, to?”

Cak Narto mengambil batang kretek baru dari bungkusnya tapi tak lantas dinyalakan. Ia mengendusi bau tembakau lantas melanjutkan gagasan.

“Nah, karena pelarangan,pemberantasan dan pemenjaraan bukanlah solusi, maka kuncinya ada di regulasi. Di peraturan. Misalnya gini, ada pengusaha yang punya modal dan mau bikin rumah judi atau kasino, ya tinggal dibikin aja syarat-syarat yang harus mereka penuhi untuk dapat izin dari kepolisian. Misalnya syarat lokasi, keamanan, batas usia, minimal deposit dan ubarampe teknis lainnya.”

Kepala-kepala yang menyembul di teras warung tampak khusyuk menyimak.

“Lalu ditetapkan juga berapa besaran pajaknya. Pajak kemenangan. Pajak hiburan. Pajak restoran. Dan semua pungutan terkait itu. Pasti akan besar sekali pendapatan pemerintah dari sana. Daripada orang kucing-kucingan kalau mau judi, mending diregulasi aja to.”

“Dan potensi pendapatan pajak yang selama ini diangkut keluar negeri, bisa dinikmati bangsa sendiri.” Cak Narto terkekeh.

“Lagi pula, Ndes, kalau setiap orang berjudi dihukum pidana, apa lama-lama nggak penuh itu penjara? Isinya nanti usel-uselan antara orang yang ketangkap main sabung ayam, judi kartu remi, judi bola dan judi-judi online itu. Nggak kebayang aku, gimana lucunya mereka semua, napi-napi judi itu, digerebek di dalam kamar selnya karena kedapatan lagi judi di dalam penjara.”

“Sebab, judi, bagi sebagian orang, adalah aktivitas rekreasi. Dan hidup, adalah perjudian itu sendiri. Hehehe.” Cak Narto tergelak, mengusap air mata tawanya.

“Tapi, Cak…” seseorang memprotes.

“Kalau menurutku…” timpal yang lain.

“Ya nggak bisa gituuu…” seru lainnya lagi.

Dan perdebatan pun tak menemukan titik temu. Bebantahan diurai, dipintal, dan dipilin bersama dengan nada-nada canda, kepulan asap tembakau dan kuat aroma kopi. Sampai akhirnya lantang bunyi adzan magrib membubarkan mereka.

***

Di forum ini semua bebas mengutarakan pendapat. Perdebatan yang dipantik lewat pernyataan sederhana, pembahasannya kerap melebar ke mana-mana. Di forum ini juga tidak mengharuskan adanya kesimpulan dalam setiap diskusi. Mereka yang duduk dalam forum insyaf dalam satu perkara: ada solusi untuk setiap masalah, tapi tidak selalu ada konklusi untuk tiap bebantah. 

Di forum ini frasa “sepakat untuk tidak sepakat” menemukan bentuknya yang paripurna. Sing penting aja jotos-jotosan, adalah kredo yang sejak awal mereka pegang. Wajar saja, forum di warung Yu Marmi diisi orang-orang dengan latar belakang yang beragam. Kombinasi guyuran informasi yang bertubi-tubi di kepala dan tekanan hidup (apalagi) di masa pandemi, berwujud dalam ekspresi yang organik di sana: palagan debat kusir yang seolah tiada henti setiap hari.

Sumber gambar: Pixabay

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2021 oleh

Tags: faktajudimoralitasnorma sosial
Suwatno

Suwatno

Penulis adalah bapak (muda) dengan tiga orang anak. Tinggal di Palangka Raya.

ArtikelTerkait

Mengenang Tarik Benang dan Lotre Cabut, Mainan Judi ala Bocah Generasi Awal 2000-an terminal mojok

Mengenang Tarik Benang dan Lotre Cabut, Mainan ‘Judi’ ala Bocah Generasi Awal 2000-an

30 Juni 2021
LGBT

Memiliki Teman yang Mengaku LGBT, Menerima Keberadaan Mereka Sebagaimana Manusia Biasa

27 Juli 2019
Menelusuri Perumusan Nomor Togel yang Ciamik dan Indonesia Banget terminal mojok.co

Menelusuri Perumusan Nomor Togel yang Ciamik dan Indonesia Banget

21 Februari 2021
Bokep Jilbab: Fetish Pemusnah Moralitas yang Menguasai Jagat Twitter

Bokep Jilbab, Bokep Amatir Pemuas Fetish Jilbab yang Menguasai Twitter

16 September 2022
Togel Aman Sebab Punya Pengaman MOJOK.CO

Obsesi Togel, Pergi ke Dukun Sampai Tidur di Kuburan Demi Dapat ‘Wangsit Nomor’

29 Juli 2020
Togel Aman Sebab Punya Pengaman MOJOK.CO

Bantuin Bandar Togel Jauh Lebih Menguntungkan daripada Ikut Main Togel

3 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.