Kalau ngomongin Solo, pasti banyak yang bilang “Ah, kota kecil aja kok dibesar-besarkan.” Atau ada juga yang nyeletuk, “Masa sih orang sana sehalus itu?”
Nah, sebagai orang yang pernah tinggal di sana cukup lama (dan dompet aman saja), saya bisa konfirmasi kalau mitos-mitos tentang Solo itu ternyata bukan mitos. Semuanya nyata.
#1 Orang Solo memang sehalus bahasanya
Ini bukan clickbait. Orang Solo tuh memang lembut banget ngomongnya. Bahkan kalau lagi marah, mereka tetap pakai “nggih” dan “nopo” dengan nada yang kalem.
Pernah saya mendengar teman kos saya nunggak bayar seminggu. Ibu kos cuma bilang, “Mbak, mbayare kapan, nggih?” dengan senyum manis. Tapi jangan salah, di balik senyuman itu ada ancaman terselubung yang bikin bulu kuduk merinding.
Yang lebih amazing lagi, mereka bisa passive-aggressive tanpa kelihatan kasar. Sindiran mereka halus banget sampai kadang kamu nggak sadar lagi kena sindiran.
Misalnya, soal kebiasaan cuci baju seminggu sekali atau telat bayar ini dan itu. Mereka bisa menyindir dengan cara yang kedengeran kayak pujian tapi sebenernya bikin kamu langsung sadar dan gerak cepat beresin tumpukan baju kotor di kamar.
Jadi, kalau ada yang bilang orang Solo kasar, kemungkinan besar dia salah kota. Atau, salah ngomong duluan.
#2 Hidup di Solo bisa hemat sampai 50%
Ini yang bikin banyak anak rantau betah banget di Solo. Bayangin aja, dengan uang Rp20 ribu, kamu udah bisa makan nasi liwet lengkap plus es teh.
Sewa kos di Solo kisaran Rp500 ribu sampai Rp1 juta dan sudah dapat kamar lumayan dengan kamar mandi dalam. Belum lagi biaya transportasi naik BST cuma Rp3 sampai Rp4 ribu. Makanya jangan heran kalau mahasiswa di sini bisa menabung buat liburan.
#3 Angkringan bisa menjadi terapi jiwa yang ampuh
Awalnya saya skeptis. Masa iya sih duduk di pinggir jalan, makan sate usus sama wedang jahe bisa bikin hati tenang? Ternyata BISA!
Angkringan itu bukan cuma tempat makan, tapi tempat curhat, ngumpul, bahkan ketemu jodoh. Semua masalah hidup tiba-tiba jadi ringan kalau sudah duduk di tikar, pegang gelas wedang jahe yang hangat, sambil dengerin om-om sebelah cerita tentang anaknya yang diterima kerja.
Yang bikin magic harganya murah banget. Dengan 15-20 ribu, kamu sudah bisa duduk berjam-jam tanpa diusir. Coba bandingkan sama cafe kekinian yang kalau kamu cuma pesan 1 kopi terus duduk 5 jam, pelayan udah melototin dengan tatapan “Ini orang kapan pulangnya?”
#4 Batik Solo memang lebih eksklusif dan detail
Ini bukan superioritas kompleks, tapi fakta. Batik Solo, terutama yang motif parang dan sidomukti, detailnya itu luar biasa. Saya pernah membandingkannya dengan batik dari kota lain dan bedanya jelas banget.
Kenapa bisa gitu? Karena pembatik Solo masih banyak yang pakai teknik tradisional. Satu kain batik tulis bisa dikerjain sampai berbulan-bulan. Makanya harganya emang lebih mahal, tapi kualitasnya nggak main-main.
Plus, kalau membelinya di Pasar Klewer, kamu bisa mendapat harga miring dengan kualitas juara. Cuma butuh nyali buat nawar sampai separuh harga dan ini juga butuh skill, karena penjual batik di sana jago banget defensive-nya.
#5 Kota budaya yang tidak pernah tidur
Label “kota budaya” melekat kuat pada Solo. Keraton, batik, kirab, festival, hingga agenda seni rutin menjadi identitas. Bagi wisatawan, ini tampak hidup dan penuh warna.
Namun bagi warga, budaya kadang terasa seperti rutinitas administratif. Acara datang dan pergi, tapi tidak selalu berdampak pada kesejahteraan pelaku seni atau ruang kreatif anak muda. Tradisi dirayakan, tapi regenerasi sering berjalan pelan. Budaya dijaga, tapi kadang lebih sebagai simbol daripada ruang dialog.
#6 Enak untuk pulang, tapi berat untuk tumbuh
Ini mitos yang paling sering dibisikkan diam-diam. Banyak orang merasa Solo adalah tempat terbaik untuk kembali: tenang, familiar, tidak menghakimi. Pulang ke Solo seperti mengatur ulang napas setelah lelah berkompetisi.
Namun untuk tumbuh cepat, kota ini sering terasa sempit. Ambisi besar mudah mentok, jaringan terbatas, dan peluang tidak selalu sejalan dengan kapasitas. Maka banyak anak mudanya memilih pergi, bukan karena tidak cinta, tapi karena ingin memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk berkembang.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Laweyan, Kecamatan Bersahaja di Kota Solo yang Nggak Mau Kalah sama Banjarsari dan Pasar Kliwon
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
