6 Alasan Mobil Terbang Belum Bisa Mengudara Bebas

mobil terbang delorean masa depan mojok

mobil terbang delorean masa depan mojok

Ketika kita menonton film bertema masa depan, mobil terbang menjadi salah satu langganan gambaran mengenai masa depan. Film yang paling terkenal mengenai masa depan, Back to the Future, menggunakan gambaran bahwa di masa depan manusia menggunakan kendaraan terbang. Bukan hanya mobil ikonik DeLorean yang terbang, sampai-sampai papan skate yang dikenal sebagai hoverboard juga ikutan terbang pada tahun 2015 dalam film tersebut.

Memasuki tahun 2020, mobil terbang tampaknya belum menjadi nyata seperti yang kita pikirkan, setidaknya untuk mengudara secara umum layaknya mobil di jalan raya.

Sebenarnya sudah ada beberapa mobil terbang yang diluncurkan seperti Aeromobil, Terrafugia TF-X, PAL-V Liberty, dan teman-temannya. Namun, mobil-mobil tersebut belum digunakan seperti gambaran film masa depan di mana mobil ini telah menggantikan mobil darat sepenuhnya.

Apa yang menyebabkan mobil terbang belum mengudara secara umum sampai saat ini? Berikut alasannya.

Harga yang selangit

Harga mobil terbang yang telah diluncurkan selangit. Harga satu mobilnya bisa mencapai 1,6 juta dolar atau sekitar hampir 24 miliar rupiah. Harga ini bahkan bisa lebih mahal lagi. Kenapa bisa begitu mahal? Karena mobil ini tak hanya bisa digunakan di udara, namun juga bisa digunakan di darat.

Dengan harga setinggi itu, rasanya orang akan tetap menggunakan mobil jalan raya yang memiliki variasi merek, model, dan harga yang jauh di bawah harga mobil terbang.

Repotnya lalu lintas mobil di udara

ATC atau Air Traffic Controller adalah badan yang bertanggung jawab untuk mengatur transportasi udara. Mereka yang mengatur ketinggian, jalur penerbangan, serta mengawasi navigasi penerbangan. Jika mobil terbang sudah sepopuler seperti dalam film, beban kerja ATC bisa lebih berat. ATC bukan hanya harus mengurusi pesawat terbang, melainkan juga pada mobil-mobil terbang jika telah menggantikan mobil jalan raya sepenuhnya. Bayangkan sistem apa yang harus dibuat untuk mengatur para mobil terbang mengingat tidak adanya lampu lalu lintas di udara.

Sifat langit yang sangat luas sangat berbeda dengan jalan raya yang telah ada rute dan rambu-rambu yang jelas. Di langit, ketinggian dan rute bisa “sesuka hati” diambil. Namun tentunya hal tersebut tidak bisa dilakukan. Peran ATC yang memastikan bahwa rute-rute, ketinggian, serta izin-izin lain dilakukan agar transportasi udara aman. Jika nanti ada oknum pengendara yang bandel dan langgar perintah ATC, bisa-bisa terjadi kecelakaan udara!

Lokasi lepas landas dan mendarat

Pesawat terbang punya tempat lepas landas maupun mendarat di bandara-bandara yang ada. Namun, pada mobil terbang, akan ada pertanyaan di mana mereka akan lepas landas dan mendarat. Jika mereka menggunakan jalan raya sebagai tempat lepas landas dan mendarat, lagi-lagi ATC harus memberi izin untuk terbang dan mendarat. Belum lagi misalnya ada yang masih memilih mobil konvensional di jalan raya, makin kacau jalanan nanti. Jika sembarangan terbang dan mendarat, bisa kacau, Ngab.

Repotnya parkiran mobil

Jika ingin ke mal atau ke tempat-tempat keramaian, mobil terbang akan repot untuk parkir. Parkiran biasanya terletak di basemen atau lantai dasar, namun jika nanti mobil ini sudah menjadi transportasi khalayak ramai, bisa-bisa parkiran terletak di rooftop. Sensasi mendarat untuk parkir bisa-bisa seperti mendarat di kapal induk di tengah laut. Belum lagi jika berakhir pekan di mal, parkiran yang ramai menjadi kendala tersendiri. Antrean bisa semakin panjang dan lama karena menunggu mendarat, mencari parkiran, dan lepas landas. Tapi bisa aja parkir di basement juga, Ngab.

Tapi ngapain juga kita beli kalau parkirnya tetep di basemen?

Susahnya transportasi umum

Kalau semua kendaraan sudah beralih menjadi transportasi udara, transportasi umum akan terkena imbas. Bisa-bisa halte bus berada di atas gedung-gedung. Baru bayangin aja udah bingung akutu.

Kelak, jika ada transportasi yang dipesan online, bisa kelabakan mencari alamat karena tidak bisa melihat nomor rumah dan nama jalan. Belum lagi jika jalan di depan rumah tidak bisa dipakai untuk mendarat, wah bisa semakin repot.

SIM yang digunakan

Jika kendaraan jalan raya saja dibeda-bedakan SIM-nya, apalagi mobil terbang. Tentu, SIM-nya juga akan membingungkan. Barangkali SIM-nya harus menggunakan SIM pilot karena secara teknis mereka juga terbang.

Apakah nanti harus mendapat pelatihan dasar mengenai aviasi atau tidak masih akan menjadi misteri. Mereka harus mengerti bagaimana sikap yang harus diambil jika sedang terbang. Mereka harus mematuhi ATC, menentukan koordinat, memperhatikan kecepatan udara, ketinggian, kondisi cuaca, dan lainnya yang tentu sangat berbeda dengan mengendarai mobil di jalan raya. Jika mengurus SIM, wah bisa jadi tesnya bukan hanya mengenai rambu-rambu lalu lintas dan sikap di jalan raya, melainkan juga sikap mengudara dan tes latihan terbang.

Mobil terbang sepertinya masih sulit untuk menggantikan mobil jalan raya sepenuhnya. Dengan kondisi-kondisi yang ada, masih jauh untuk mewujudkan dunia layaknya film-film dengan tema masa depan. Namun, mobil terbang telah ada nyata di dunia. mobilnya bisa mengudara dan mengaspal. Bisa jadi, kelak mobil terbang akan tetap digunakan, bukan sebagai pengganti mobil konvensional, melainkan sebuah alternatif transportasi udara.

Yang jelas, kata-kata “Yen ra sabar, maburo” tak lagi sekadar guyonan.

BACA JUGA Mau Meniru Strategi Bayern Munchen? Tidak Semudah Itu, Marno dan tulisan Arya Luthfi Permadi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

Exit mobile version