Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

5 Reaksi Anak SD yang Takut Suntik Saat Imunisasi Campak

Ilus Trian Dayano oleh Ilus Trian Dayano
27 Juli 2020
A A
imunisasi jarum suntik mojok

imunisasi jarum suntik mojok

Share on FacebookShare on Twitter

 

Di Indonesia, imunisasi campak biasanya diberikan pada murid-murid sekolah dasar (SD). Tujuan imunisasi ini adalah untuk mencegah terjadinya virus campak pada anak-anak SD. Selain itu, diharapkan rantai penularan campak dapat putus. Sebab, campak merupakan penyakit yang berbahaya bahkan mudah menjadi wabah.

Saya, sebagai guru di salah satu SD di Kota Batu Jawa Timur, kerap menyaksikan para murid disuntik imunisasi campak. Bagaimana reaksi mereka? Ada yang berani dan ada yang takut dengan suntik. Bagi yang berani, mereka mempertontonkan reaksi biasa-biasa saja dan sombong. Terutama murid laki-laki, mereka seringkali menunjukkan pada teman-temannya bahwa dirinya tidak takut suntik.

“Gak loro, gak loro, gak loro (tidak sakit),” demikian kalimat yang kerap diteriakkan para murid laki-laki usai disuntik. Menariknya, kalimat itu seperti menular, sebab setiap ada imunisasi campak di sekolah saya, saya selalu menjumpai murid laki-laki yang berani dengan suntik meneriakkan kalimat itu.

Lalu bagaimana reaksi murid-murid yang takut dengan suntik? Saya menjumpai lima reaksi ketakutan yang berbeda-beda setiap kali ada kegiatan imunisasi campak.

1. Kabur

Kegiatan imunisasi campak selalu diwarnai dengan aksi murid kabur ke luar kelas. Para murid yang suka kabur ini biasanya sudah mengalami ketakutan yang luar biasa saat melihat jarum suntik. Mungkin mereka merinding membayangkan ada benda tajam akan dimasukkan ke dalam tubuhnya.

Sebagian dari murid yang kabur ini ujungnya disuntik juga, sebagian lainnya tidak disuntik. Kenapa tidak disuntik? Karena dia selalu melawan bahkan teriak-teriak histeris dan menyatakan benar-benar tidak mau disuntik sekalipun sudah ditenangkan dan diberi pengertian.

2. Tutup wajah

Selain kabur, aksi tutup wajah juga kerap mewarnai kegiatan imunisasi. Saya menjumpai bermacam-macam cara bagaimana si murid menutupi wajahnya, ada yang pakai telapak tangannya, pakai buku, ada yang sambil memeras wajahnya, ada juga yang menutupi tapi sedikit mengintip.

Baca Juga:

3 Pesan Penting tentang Imunisasi yang Bisa Kita Petik dari Upin Ipin Episode “Hapuskan Virus”

Saya juga melihat bermacam-macam ekspresi si murid menahan sakit. Ada yang mendongakkan kepalanya ke atas, teriak-teriak tidak jelas, pun ada yang menyunggingkan senyuman. Saya tidak tahu apa alasan si murid menutupi wajahnya tapi tersenyum. Barangkali senyumnya hanya pencitraan agar tidak terlalu terlihat bahwa dia sejatinya benar-benar takut dengan suntik.

3. Menangis

Menurut pengamatan saya, aksi menangis di tengah kegiatan imunisasi kerap ‘diperankan’ oleh murid perempuan. Namun, ada beberapa murid laki-laki yang juga menangis. Menariknya, mereka selalu menyertakan teriakan di tengah menangis. Bayangkan, perempuan kalau menangis sambil teriak, anak kecil pula. Melengking.

Murid perempuan juga biasanya menangis sambil memanggil ibunya. Mereka melolong keras, “emak… emak… emak….”

4. Menghindar

Aksi menghindar cukup banyak saya jumpai saat kegiatan imunisasi. Para murid, biasanya langsung menggeserkan badannya sejenak saat jarum suntik akan ditusukkan. Ada juga yang menghindar sambil mengobrol untuk mengulur waktu proses penyuntikan.

Namun, semua murid yang berusaha menghindar ujungnya disuntik juga. Bisa jadi mereka hanya memiliki ketakutan yang tidak seberapa terhadap jarum suntik.

5. Komat-kamit nggak jelas

Dari semua reaksi murid yang takut suntik, komat-kamit nggak jelas, menurut saya, menjadi reaksi yang paling kocak. Bahkan aksi ini paling ditunggu-tunggu para guru. Biasanya, sebelum kegiatan imunisasi, ada guru yang bilang:

“Hayo, nanti saat imunisasi ada murid yang komat-kamit nggak jelas, nggak?”

Bukan hanya guru yang terhibur dengan aksi ini, para murid juga selalu tertawa jika ada temannya yang komat-kamit saat hendak disuntik. Ada satu murid yang pernah saya jumpai, sekitar 4-5 tahun yang lalu, berkomat-kamit menyebut cuplikan lirik dari lagu Kuncung ciptaan Didi Kempot:

“Bis holobis kuntul baris, bis hulubis kuntul baris,” kalimat itu semakin cepat dikomat-kamitkan oleh si murid saat jarum suntik semakin mendekati lengannya. Dan semakin cepat lagi saat jarum suntik menancap ke dalam lengannya.

Seketika itu, saya, guru-guru lainnya, para murid dan petugas imunisasi tertawa terpingkal-pingkal. Kegiatan imunisasi sempat mandek sekitar 15 menit karena petugas imunisasi hilang konsentrasi.

Itulah lima reaksi murid-murid SD yang takut dengan suntik yang pernah saya jumpai saat kegiatan imunisasi campak. Walau takut, saya belum pernah menjumpai murid yang meminta pulang atau tiba-tiba keluar, lompat pagar, kabur dari sekolah.

BACA JUGA Mitos Kolesterol dan Bahayanya Orang yang Merasa Tahu dan tulisan Ilus Trian Dayano lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2020 oleh

Tags: imunisasijarum suntik
Ilus Trian Dayano

Ilus Trian Dayano

Saya suka menulis dan makan kentang

ArtikelTerkait

3 Pesan Penting tentang Imunisasi yang Bisa Kita Petik dari Upin Ipin Episode "Hapuskan Virus"

3 Pesan Penting tentang Imunisasi yang Bisa Kita Petik dari Upin Ipin Episode “Hapuskan Virus”

16 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Mengecewakan Pembeli (Danangtrihartanto - Wikimedia Commons)

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Sering Disepelekan Penjual dan Mengecewakan Pembeli

30 Januari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.