Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Larangan Tak Tertulis yang Wajib Dipatuhi Pengendara Saat Melintasi Alas Roban

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
10 Februari 2026
A A
Desa Penundan, Surga Dunia bagi Sopir Truk dan Bus yang Melewati Jalan Alas Roban Mojok.co

Desa Penundan, Surga Dunia bagi Sopir Truk dan Bus yang Melewati Jalan Alas Roban (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi banyak pengendara jalur Pantura Jawa Tengah, nama Alas Roban bukan sekadar penunjuk lokasi di peta. Ia adalah jalan panjang yang sering dibicarakan dengan nada setengah berbisik, setengah waspada. Membentang di antara Batang dan Kendal, Alas Roban dikenal sebagai kawasan hutan yang sunyi, gelap, dan memiliki karakter jalan yang tidak ramah bagi pengendara yang lengah.

Sebagaimana tempat-tempat yang kerap dianggap bahaya, ada sejumlah larangan tak tertulis yang dipercaya dan dipatuhi banyak orang. Larangan ini bukan sekadar mitos, melainkan hasil akumulasi pengalaman panjang kecelakaan, kelelahan, hingga kejadian aneh yang sering kali berujung penyesalan.

Secara geografis, Alas Roban berada di kawasan perbukitan dengan kontur naik-turun yang panjang. Jalannya berkelok, tanjakan bisa memakan waktu lama, dan pada waktu tertentu kabut turun sangat tebal. Penerangan jalan tidak merata, sementara sinyal komunikasi sering kali menghilang.

Sejarah Alas Roban juga tidak ringan. Kawasan ini sudah dikenal sejak masa kolonial sebagai hutan lebat yang sulit ditembus. Jalan yang kini dilalui kendaraan bermotor dibangun dengan kerja keras dan pengorbanan besar. Jejak sejarah itulah yang membuat masyarakat sekitar memandang Alas Roban bukan hanya sebagai infrastruktur, tetapi juga ruang yang harus dihormati.

Dari situlah muncul berbagai larangan tak tertulis yang diwariskan secara lisan.

Sebisa mungkin, hindari melintasi Alas Roban saat tengah malam

Larangan pertama dan paling sering diingatkan adalah sebisa mungkin hindari melintasi Alas Roban pada tengah malam hingga dini hari. Di jam-jam tersebut, kondisi jalan berada di titik paling rawan.

Lampu jalan minim, lalu lintas sepi, dan cuaca sulit diprediksi. Kabut bisa turun tiba-tiba dan menutup jarak pandang hanya dalam hitungan menit. Jika kendaraan mogok atau terjadi kecelakaan, bantuan tidak mudah datang karena jarangnya pengguna jalan lain.

Dari sisi fisik pengendara, tengah malam adalah waktu paling rentan. Ngantuk, kelelahan, dan menurunnya refleks sering kali menjadi penyebab utama kecelakaan tunggal. Banyak sopir berpengalaman menyebut bahwa melintasi Alas Roban di siang atau sore hari jauh lebih aman dibanding memaksakan diri di malam buta.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Jangan mampir walaupun melihat warung di pinggir jalan

Larangan kedua sering dianggap paling “aneh”, tapi justru paling sering diceritakan: jangan mampir meskipun melihat warung di pinggir jalan, terutama saat malam hari.

Sebagian pengendara mengaku melihat warung kecil yang tampak buka, lengkap dengan lampu menyala. Tapi, warga sekitar menyebut bahwa pada jam larut, hampir tidak ada warung yang benar-benar beroperasi di tengah Alas Roban.

Jika ditarik ke logika keamanan, larangan ini sangat masuk akal. Berhenti di tempat sepi tanpa kejelasan pemilik, tanpa kendaraan lain, dan tanpa sinyal komunikasi adalah keputusan berisiko. Tak sedikit kasus kejahatan bermula dari pengendara yang berhenti di lokasi asing karena kelelahan atau lapar.

Karena itu, warga lokal selalu menyarankan untuk isi tenaga dan kebutuhan sebelum masuk Alas Roban, atau tunggu hingga keluar dari kawasan ini.

BACA JUGA: Buat Saya Jalur Pantura Itu Nggak Serem

Jangan berkata kasar, menantang, atau meremehkan jalan Alas Roban

Larangan ketiga berkaitan dengan sikap dan ucapan. Banyak orang tua di sekitar Alas Roban mengingatkan agar pengendara tidak berkata kasar, menantang, atau meremehkan kondisi jalan.

Cerita mistis sering melekat pada larangan ini, tetapi maknanya lebih dalam. Ucapan kasar biasanya muncul dari emosi, stres, atau rasa terlalu percaya diri. Padahal, jalan seperti Alas Roban membutuhkan ketenangan dan fokus penuh.

Pengendara yang emosional cenderung mengambil keputusan buruk untuk ngebut, menyalip sembarangan, atau memaksakan diri. Larangan ini sejatinya adalah pengingat agar pengendara menjaga pikiran tetap jernih.

Jangan ngebut atau ugal-ugalan

Alas Roban bukan tempat untuk menguji nyali atau kecepatan kendaraan. Tanjakan panjang, tikungan tajam, dan kondisi jalan yang bisa licin membuat ngebut menjadi kesalahan fatal.

Banyak kecelakaan di Alas Roban terjadi bukan karena hal-hal gaib, melainkan karena kesalahan manusia. Kecepatan berlebih, rem panas, atau kehilangan kendali di tikungan. Pengendara yang merasa “sudah hafal jalan” justru sering lengah.

Larangan ini menegaskan satu hal penting di Alas Roban, selamat jauh lebih penting daripada cepat.

BACA JUGA: Desa Penundan, Surga Dunia bagi Sopir Truk dan Bus yang Melewati Jalan Alas Roban

Jangan memaksakan diri saat tubuh sudah tidak prima di Alas Roban

Larangan terakhir berkaitan langsung dengan kondisi fisik pengendara. Jika merasa mengantuk berat, pusing, atau tidak enak badan, jangan memaksakan diri melintasi Alas Roban.

Namun, berhenti pun harus dilakukan dengan bijak. Menepi sembarangan di lokasi gelap justru berbahaya. Warga sekitar menyarankan agar pengendara beristirahat di rest area resmi, SPBU, atau permukiman sebelum memasuki Alas Roban. Banyak kejadian tragis berawal dari niat “sedikit lagi sampai” padahal tubuh sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan dengan aman.

Kelima larangan tak tertulis ini sering dibungkus dengan cerita mistis. Namun jika dicermati, semuanya berujung pada pesan yang sama yaitu hati-hati, hormati jalan, dan kenali batas diri.

Masyarakat lokal menggunakan bahasa kepercayaan karena lebih mudah diingat dan ditaati. Di jalur panjang dan rawan seperti Alas ini, pendekatan ini justru menjadi bentuk perlindungan sosial.

Alas Roban bukan jalan yang harus ditakuti, tetapi juga bukan jalan yang bisa disepelekan. Larangan tak tertulis yang dipercaya banyak pengendara adalah hasil dari pengalaman panjang dan pelajaran mahal.

Entah percaya pada mitos atau tidak, mematuhi larangan-larangan ini tidak akan merugikan. Justru sebaliknya ia bisa menjadi pembeda antara perjalanan yang selamat dan kisah penyesalan yang tak perlu terjadi.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Alas Roban Batang dan Kisah Ganjil saat Hendak Menghadiri Pemakaman

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh

Tags: alas robanalas roban angkeraturan di alas robanpantangan alas robansejarah alas roban
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Ciri Tahu Gimbal Semarang yang Sudah Pasti Enak dan Tidak Mengecewakan Pembeli Mojok.co

4 Ciri Tahu Gimbal Semarang yang Sudah Pasti Enak dan Tidak Mengecewakan Pembeli

10 Februari 2026
Karawang dan Masalah Banjir yang Tak Kunjung Usai: Pemda Sibuk Urusi Izin Investasi, tapi Lupa Menjaga Ekologi

Karawang dan Masalah Banjir yang Tak Kunjung Usai: Pemda Sibuk Urusi Izin Investasi, tapi Lupa Menjaga Ekologi

10 Februari 2026
Resign karena Nggak Kuat Menghadapi Stasiun Manggarai Adalah Alasan yang Masuk Akal, Bukan Lemah Mojok.co

Resign karena Nggak Kuat Menghadapi Stasiun Manggarai Adalah Alasan yang Masuk Akal, Bukan Lemah 

10 Februari 2026
Tiket Pesawat Sudah Terlalu Mahal, Ini Hitungan yang Lebih Logis (Unsplash)

Tiket Pesawat di Indonesia Sudah Terlalu Mahal dan Tidak Masuk Akal, Berikut Saya Membuat Hitungan yang Lebih Logis

9 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada
  • Usia 30 Belum Punya Rp100 Juta Pertama: Nasib Sandwich Generation, Gaji Ludes di Tengah Bulan Tanpa Sempat Dinikmati, dan Tetap Dinyinyiri
  • Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga
  • Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa
  • Lulusan S2 di Jogja Memilih Jadi “Kicau Mania” karena Susah Dapat Kerja, Memelihara Burung Obat Stres Terbaik Saat Nganggur
  • Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.