5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri karena lingkungan akademis Indonesia belum siap

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri, bukan di Indonesia Mojok.co

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri, bukan di Indonesia (unsplash.com)

Beberapa waktu lalu, saya baca tulisan di Terminal Mojok jurusan S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia tanpa perlu jauh-jauh ke luar negeri.  Jurusan-jurusan tersebut relevan dan practical jika dipelajari dan diaplikasikan langsung di dalam negeri.

Akan tetapi, banyak juga jurusan S2 yang lebih baik dipelajari di luar negeri alih-alih di Indonesia. Bukan sekadar agar kita bisa jalan-jalan di benua Eropa atau baca paper ditemani daun berguguran di semester ganjil. Jurusan-jurusan ini lebih menjanjikan untuk dipelajari di negara yang lingkungan akademis dan industrinya lebih siap dibandingkan Indonesia.

#1 Quantum Computing atau Quantum Technology masih sangat baru di Indonesia

Indonesia baru saja memulai ekosistem pendidikan dan riset kuantum lewat inisiasi dari BRIN bersama Indonesian Quantum Initiative pada 2025. Topiknya mencakup quantum chip, quantum computing, quantum algorithms, quantum sensing, quantum cryptography, dan quantum information theory.

Calon mahasiswa S2 yang bercita-cita jadi spesialis quantum computing akan lebih baik kuliah langsung di luar negeri. Lebih tepatnya di negara-negara maju yang sudah memiliki ekosistem riset dan industri yang jauh lebih matang. 

Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, hingga Denmark sudah punya laboratorium quantum computing yang lebih komprehensif, perusahaan yang bergerak di bidang quantum technology, profesor yang sudah aktif melakukan riset, akses yang lebih terbuka lebar ke perangkat keras quantum, dan memungkinkan kolaborasi industri.

#2 Migration Studies jurusan S2 lebih baik dipelajari langsung di negara yang “berpengalaman”

Topik migrasi di Indonesia termasuk masih fresh. Nggak ada salahnya untuk belajar di negara yang menghadapi persoalan migrasi secara langsung. Soalnya ekosistem Migration Studies jauh lebih besar di negara-negara seperti Inggris, Jerman, Amerika Serikat, bahkan Turki.

Di sana migration studies bersinggungan dengan demografi, ekonomi, kebijakan publik, HAM, sosiologi, hingga hubungan internasional. Calon mahasiswa S2 yang pengin jadi spesialis kebijakan migrasi akan merasakan eksposur yang berbeda ketika belajar di negara dengan populasi migran yang besar. Lingkungan sosial tempat kita tinggal akan seperti laboratorium hidup. FYI, spesialisasi ini juga menjadi salah satu alasan saya kuliah ke luar negeri.

#3 Space Engineering yang sangat berkembang di luar negeri

Indonesia memang sudah punya pendidikan astronomi dan teknik, tetapi ekosistem industri antariksa Indonesia masih sangat kecil dibanding negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Kanada, atau Australia.

Kalau mau belajar teknologi satelit, sistem wahana antariksa, propulsi, robotika antariksa, atau sains antariksa secara mendalam, akan lebih baik untuk kita berada di tempat yang memang punya industri dan proyek antariksa. Kita bisa dekat langsung dengan badan antariksa, perusahaan satelit, hingga perusahaan dirgantara yang mana bidang-bidang tersebut lebih terbatas di Indonesia. 

#4 Museum Studies dan Heritage Management, jurusan S2 underrated yang lebih matang di luar negeri

Indonesia sudah punya S2 Arkeologi, bahkan UI punya bidang Museum and Heritage Management. Namun, kalau calon mahasiswa S2 pengin menjadi spesialis di bidang manajemen museum, kurasi, pelestarian dan kebijakan warisan budaya, serta perancangan pengalaman museum, belajar di negara yang punya industri museum dan warisan budaya yang jauh lebih matang bisa sangat masuk akal.

Bayangkan kita belajar museum studies di London. Kita bukan hanya membaca teori museum, tapi langsung mengamati British Museum, Tate, V&A, dan museum-museum lokal lain. Kita belajar langsung bagaimana mereka mengelola koleksi, kuratorial, penggalangan dana, edukasi, hingga pengalaman digital untuk para pengunjung.

Untuk Indonesia, bidang ini bisa sangat relevan karena kita punya warisan budaya yang banyak banget.

#5 Nuclear Engineering, jurusan S2 yang sedang “hot

Indonesia sudah punya program terkait teknologi nuklir dan fisika nuklir. Tapi, untuk seseorang yang punya tujuan hidup menjadi spesialis teknik tenaga nuklir, kesempatan belajar langsung dari industri pembangkit nuklir tentu jauh lebih besar di negara yang sudah mengoperasikan banyak reaktor. 

Belajar nuclear engineering di negara yang sudah puluhan tahun mengoperasikan pembangkit nuklir memberi pengalaman yang sulit direplikasi di negara yang belum punya pembangkit nuklir komersial.

Mahasiswa bisa langsung mendapatkan akses ke teknik reaktor, keselamatan nuklir, material nuklir, operasi reaktor, hingga pengelolaan limbah radioaktif. Indonesia sendiri masih berada pada tahap pengembangan ekosistem energi nuklir.

Kelima jurusan di atas lebih menguntungkan kalau dipelajari langsung di negara-negara yang sudah lama membangun ekosistem pendidikan, industri, dan berpengalaman di bidang-bidang tadi. Setelah lulus pun kita bisa langsung kerja di luar negeri karena bidang-bidang di atas applicable ke lapangan pekerjaan di banyak negara di luar negeri.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Sisi Gelap Jadi Penerima Beasiswa Luar Negeri.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version