Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Hal yang Jarang Diketahui Orang di Balik Kota Bandung yang Katanya Romantis 

Fatikha Faradina oleh Fatikha Faradina
1 Desember 2025
A A
5 Hal yang Jarang Diketahui Orang Dibalik Kota Bandung yang Katanya Romantis Mojok.co

5 Hal yang Jarang Diketahui Orang Dibalik Kota Bandung yang Katanya Romantis  (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya masih ingat betul saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Bandung awal 2020. Saya turun di Stasiun Kota Bandung dengan bayangan kota ini bakal dingin, estetik, romantis, rapi, dan penuh taman hijau. Tidak lupa orang-orangnya yang ramah dan santun. Pokoknya gambaran ideal seperti yang disuguhkan dalam film Dilan dan My Heart.

Sebagai orang luar Bandung, gambaran itulah yang saya tangkap tentang kota dengan julukan Paris van Java ini. Itu jugalah yang dipikirkan kawan-kawan saya sehingga mereka mengucakpkan selamat ketika tahu saya bekerja di kota ini. Jelas muncul rasa bangga dalam dada saya. Ternyata tak sia-sia kurang tidur tiap minggu ujian selama perkuliahan. IPK yang baik ternyata berhasil membawa saya ke kota idaman ini.

Akan tetapi, realitas menampar saya begitu keluar dari Stasiun Kota Bandung 5 tahun lalu. Konon katanya, Bumi Pasundan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Tapi, saya curiga, itu bukan senyum bahagia, lebih mirip senyum sinis atau senyum karir. Begitu pula senyum saya ketika menginjakkan kaki di kota ini perlahan pudar dihempas realitas. 

Setelah lima tahun menjadi warga yang (terpaksa) adaptif, berikut lima hal paling kacau yang saya temukan di kota yang katanya romantis ini. Lima hal yang sudah terlalu lumrah di Kota Bandung, tapi jarang diketahui orang luar Bandung:

#1 Tata kota buruk

Jalanan Kota Bandung itu sempit dan trotoarnya banyak yag rusak. Taman tematiknya memang banyak, tapi di mata saya, mayoritas kurang jelas, kurang khas. Konsep kota hijau tinggal jargon di baliho karena ruang terbuka hijau sering kali dikorbankan demi ruko, kafe, atau proyek “penataan ulang” yang justru makin semrawut.

Bahkan, saat hujan deras, kota ini berubah bak Venesia yang terkenal punya banyak kanal itu. Jalanan di sana selalu tergenang banjir, membuat macet semakin parah, dan merusak kendaraan. Selain itu, begitu malam tiba, banyak jalan utama yang gelap gulita karena lampu jalan mati. Kalau tidak percaya, coba saja lewat Jalan Soekarno Hatta, Jalan Arah Saparua, Jalan Peta, dan Jalan Kopo. Kondisi ini bukan hanya tidak estetik, tapi juga sangat berbahaya bagi pengendara dan pejalan kaki.

#2 Angkot abadi yang tak pernah berevolusi

Angkot di kota bandung tidak kalah meneybalkan. Mereka kerap berhenti sesuka hati, ngetem di tengah jalan, dan menolak hukum fisika dasar bahwa kendaraan seharusnya bergerak. Transportasi publik di sini seperti mesin waktu, membawa kita kembali ke masa lalu, ketika integrasi antarmoda masih jadi wacana seminar.

Dan, seolah nostalgia itu belum cukup, Bandung juga menawarkan bonus level: surga pungli. Mulai dari parkir yang tarifnya fleksibel tergantung mood abang-abangnya, sampai kawasan wisata yang selalu punya “biaya tambahan” entah untuk apa, tapi semua orang pura-pura paham. 

Baca Juga:

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Saya Setuju Teras Cihampelas Dirobohkan, dan Tata Lagi Jalan Cihampelas agar Jadi Lebih Menarik

#3 Pejalan kaki, orang paling nelangsa di Bandung

Ogah naik angkot dan memilih jalan kaki? Itu pilihan yang sama buruknya. Sebab, berjalan kaki di Kota Bandung itu butuh nyali tinggi. Taruhannya nyawa. Trotoar bukan untuk manusia, tapi untuk pedagang, parkiran, atau genangan air abadi. Kota ini begitu kreatif sampai-sampai bisa menghilangkan fungsi dasar fasilitas umum tanpa rasa bersalah.

#4 Bandung penuh dengan kafe overprice

Kota Bandung sekarang seperti pameran kafe dengan tema estetika yang nyaris sama. Ironisnya, banyak kafe ini menjual kopi seharga satu hari uang makan mahasiswa, tapi membayar pegawainya di bawah UMR. Kota yang katanya ramah kreator, tapi justru memelihara ekosistem kerja yang eksploitatif. Pelopor munculnya fenomena skena sekaligus sekenanya membayar gaji pegawai.

#5 Gotham city wannabe

Begitu malam tiba, Kota Bandung berubah jadi kota autopilot. Lampu jalan minim, geng motor tak jelas mondar-mandir, dan suara knalpot bising jadi pengantar tidur. Jalan utama pun remang (seperti dijelaskan di poin 1). Rasanya seperti hidup di antara dua dunia, siang penuh wacana kreatif, malam penuh keresahan.

Setelah lima tahun hidup di Kota Bandung, saya menyadari satu hal, semua kekacauan ini sudah menjadi bagian dari keseharian warga. Tulisan ini lahir dari monolog di kepala, omelan di tongkrongan, dan keheranan yang menumpuk. Kalau hanya dibiarkan sebagai keluhan pribadi, ia mungkin hilang begitu saja. Tapi, kalau ditulis, siapa tahu ada pejabat daerah yang membaca, setidaknya tersadar bahwa kota yang katanya kreatif ini punya banyak pekerjaan rumah. 

Penulis: Fatikha Faradina
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2025 oleh

Tags: BandungBumi Pasundankotakota bandung
Fatikha Faradina

Fatikha Faradina

Alumnus D3 Pajak STAN, melanjutkan studi sarjana Manajemen dan Hukum. Mengisi waktu sebagai analis pajak dan pemerhati kebijakan publik.

ArtikelTerkait

palasari surga buku bandung mojok

Palasari, Wisata Buku Bandung yang Terlupakan

28 Juli 2021
3 Rekomendasi Tempat Ngabuburit di Kota Bandung yang Bikin Puasa Kamu Nggak Berasa, Tahu-tahu Sudah Azan Magrib!

3 Rekomendasi Tempat Ngabuburit di Kota Bandung yang Bikin Puasa Kamu Nggak Berasa, Tahu-tahu Sudah Azan Magrib

19 Maret 2024
Bandung Terbuat dari Tumpukan Kebohongan, Pikir Ulang kalau Mau Tinggal di Sini Mojok.co

Bandung Terbuat dari Tumpukan Kebohongan, Pikir Ulang kalau Mau Tinggal di Sini

20 Maret 2024
6 Kebohongan tentang Kota Bandung Terminal Mojok

6 Kebohongan tentang Kota Bandung

22 Agustus 2022
3 Perlintasan Kereta di Bandung yang Sebaiknya Dihindari terminal mojok.co

3 Perlintasan Kereta di Bandung yang Sebaiknya Dihindari

5 Januari 2022
3 Modifikasi Makanan yang Nggak Masuk Akal di Bandung batagor bandros lotek jajanan bandung terminal mojok.co

3 Modifikasi Makanan yang Nggak Masuk Akal di Bandung

9 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

30 Januari 2026
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa

29 Januari 2026
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep

30 Januari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja
  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.