5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata (Gil Ribeiro via Unsplash)

5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata (Gil Ribeiro via Unsplash)

Tak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan bekerja menjadi cleaning service dan ditempatkan sebagai penjaga toilet di sebuah mal. Sebagai lulusan SMK, setelah lulus sekolah nanti saya ingin langsung bekerja di berbagai pabrik-pabrik industri, opsi tempat kerja yang saya pilih nantinya di kota kelahiran maupun daerah Jabodetabek.

Harapan bekerja di sebuah pabrik industri pun akhirnya tercapai, namun tidak bertahan lama hanya beberapa tahun saja. Pandemi covid-19 yang menjadi tersangka utamanya. Banyak pabrik industri yang keuangannya kolaps, sehingga banyak yang memberhentikan karyawannya dan saya termasuk salah satunya. Semenjak saat itu, status saya resmi menjadi seorang pengangguran.

Karena bosan menyandang status pengangguran dan tidak punya penghasilan, saya mencoba melamar ke berbagai tempat. Mencari pekerjaan pas covid-19 sebuah kegiatan yang menantang, karena begitu sulit mendapatkan kerja yang diinginkan. Sampai akhirnya, saya mencoba melamar di perusahaan jasa cleaning service. Saya pun diterima kerja dan ditempatkan di mal.

Kini, saya sudah jadi cleaning service selama 5 tahun lebih. Selain dipandang sebelah mata, jadi cleaning service juga sering disalahpahami. Berikut ini kesalahpahaman bekerja sebagai cleaning service di mata orang lain:

#1 Cleaning Service pekerjaan tanpa perlu keahlian

Ini adalah kesalahpahaman yang paling umum. Jangan salah ya, jadi cleaning service profesional itu butuh kecerdasan teknis yang mungkin nggak dimiliki manajer pemasaran. Pelaku profesi ini harus paham chemical handling.

Misalkan lantai granit harus pakai chemical A, lantai marmer harus memakai chemical B. Contohnya marmer itu “alergi” sama cairan asam. Salah pilih cairan, lantai gedung seharga miliaran bisa kusam permanen sehingga harus ganti dengan yang baru.

Cleaning service juga harus hafal bedanya cleaning, sanitizing, sampai disinfecting. Belum lagi urusan menjinakkan mesin polisher atau scrubber yang kalau dipegang bukan sama ahlinya, mungkin malah kita yang mencobanya terseret mesinnya ke dinding. Yang paling fatal adalah salah gerakan pada mesin, bisa memecahkan kaca.

BACA JUGA: Cleaning Service Rumah Sakit, Profesi yang Jelas Tak Bisa Diremehkan

#2 Membersihkan berarti harus banyak memakai sabun

Budaya kita sering menganggap kalau nggak licin banyak sabun dan nggak bau karbol menyengat, artinya nggak bersih. Itu salah besar. Penggunaan bahan sabun/chemical berlebih itu malah bikin residu lengket. Hasilnya? Debu malah makin betah nempel dan furnitur kantor Anda bakal cepat uzur/kotor.

Cleaning service profesional itu bekerja dengan takaran chemical yang telah ditentukan, bukan dengan perasaan.

#3 Cleaning Service itu bukan asisten pribadi

Ada garis tegas antara menjaga fasilitas umum dan membereskan menjadi asisten pribadi. Nah, cleaning service itu tugasnya memelihara lantai, kaca, dan toilet agar tetap layak huni sesuai dengan perjanjian kontrak.

Tapi saat di lapangan, banyak orang yang sengaja ninggalin meja kerja, toilet, lantai dll kayak kapal pecah dengan ucapan mereka yang template: halah, nanti juga dibersihkan sama cleaning service.

Sebenarnya bukan masalah bakal dibersihkan atau tidak, sama cleaning service seberantakan apa pun pasti dibereskan. Tapi sebagai manusia harusnya kita saling menghargai, bukan apa-apa membebankan kepada kami.

#4 Semua lap itu sama saja

Pernah perhatiin nggak kalau lap yang sering dipakai cleaning service itu warnanya beda-beda? Itu bukan biar warna estetika kayak pelangi, tapi ada aturan terutama demi keamanan.

Untuk lap warna merah khusus dipakai area “keramat” yang katanya paling jorok toilet/urinoir. Lap hijau untuk area dapur/food court. Sedangkan warna biru untuk bagian umum.

Menggunakan satu lap untuk semua permukaan adalah kesalahan fatal yang bisa menyebarkan kuman. Misal dari toilet lap warna merah, tapi dipakai untuk food court ke meja makan. Jadi, seorang cleaning service harus menerapkan kode etik ini alias sistem color coding ini.

BACA JUGA: Cleaning Service Bioskop, Si Ujung Tombak Bisnis Perfilman

#5 Cleaning service bekerja saat terlihat kotor saja

Banyak orang berpikir jika lantai terlihat mengilap, seorang cleaning service tidak perlu bekerja. Sampai ada yang nyeletuk kaya begini, “Lantainya kan masih kinclong, kenapa dipel lagi? Gabut ya?”

Ini kesalahpahaman yang paling ajaib. Tugas pelaku profesi ini, selain membersihkan, juga melakukan pemeliharaan. Tujuannya supaya kuman/kotoran nggak menumpuk dan material bangunan (seperti karpet, batu alam) tetap awet selama bertahun-tahun. Justru kalau kita melihat mereka kerja saat area tampak bersih, artinya mereka sukses menjalankan tugasnya sebelum semuanya berubah jadi kumuh dan tidak terawat.

Itulah sisi lain dari dunia profesi ini yang jarang diketahui orang awam. Pekerjaan yang berhubungan dengan bersih-bersih ini ternyata menuntut ketelitian, pengetahuan teknis, dan kesabaran ekstra. Semoga dengan tulisan ini, tidak ada lagi anggapan bahwa pekerjaan kami tanpa keahlian.

Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA (Petugas) Kebersihan yang Seringkali Disepelekan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version