Coba lihat tren peminatan SNBP 2026, jurusan yang jadi primadona masih seputar Pendidikan, Manajemen dan Keperawatan. Lalu di mana jurusan Pertanian? Sayup-sayup tenggelam di balik bayang-bayang narasi kuno tentang lumpur, panas matahari, dan masa depan yang dianggap nggak estetik.
Sering kali, mahasiswa pertanian dipandang sebelah mata. Kalau nggak jadi petani konvensional, ya paling tersesat jadi pegawai Bank. Tapi, jujur saja dunia mungkin masih bisa bertahan tanpa admin media sosial atau manajer. Hanya saja, peradaban akan langsung kiamat tanpa pangan.
Inilah lima alasan logis kenapa Jurusan Pertanian tak akan pernah bisa dihapus dari muka bumi, apalagi dari kurikulum kita.
Perut manusia harus diisi ulang
Ini adalah alasan paling dasar, Manusia boleh saja pamer mobil listrik, tapi sebagai mahkluk hidup, manusia tetap butuh makan. Selama manusia masih punya lambung dan bukan pemakan bijih besi, kebutuhan pangan tetap jadi prioritas utama. Perut manusia harus tetap diisi terus menerus.
Menghapus jurusan ini sama saja dengan mematikan kehidupan secara perlahan.
Jurusan Pertanian pencegah krisis pangan melanda
Perubahan iklim bukan sekadar omon-omon, itu adalah ancaman nyata bagi ketersediaan beras, gandum, dan sayur-mayur kita. Di sinilah peran krusial mahasiswa Jurusan Pertanian. Mereka tidak hanya belajar menanam, tapi memutar otak bagaimana tanaman tetap bisa bertahan di lahan yang makin sempit dan cuaca yang makin berubah-ubah.
Tanpa riset dari bangku kuliah pertanian, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai sepiring nasi menjadi barang mewah yang harganya lebih mahal dari sandal jepit.
Pertanian masa depan bukan soal cangkul, tapi laboratorium
Citra pertanian modern sudah jauh melampaui cangkul dan arit. Sekarang kita bicara soal Smart Farming, hidroponik, hingga rekayasa genetika. Mahasiswa Jurusan Pertanian hari ini adalah ilmuwan yang bekerja memastikan tanaman lebih tahan penyakit dan punya nutrisi tinggi.
Inovasi semacam ini tidak lahir dari robotika saja, melainkan dari pemahaman mendalam tentang fisiologi tumbuhan yang maaf-maaf saja nggak akan kamu temukan di jurusan komunikasi atau ekonomi.
BACA JUGA: Sorry, yah, Jurusan Pertanian Kuliahnya Bukan Cuma Nanem Padi di Sawah
Pertanian adalah sektor penopang ekonomi yang paling tahan banting
Bagi negara agraris seperti Indonesia, pertanian adalah tulang punggung ekonomi yang paling tangguh. Saat pandemi atau resesi merontokkan sektor industri dan pariwisata, pertanian tetap berdiri tegak karena permintaannya tidak pernah nol.
Menghapus jurusan ini berarti mematikan potensi ekonomi terbesar bangsa. Kita butuh sarjana pertanian yang mampu mengubah manajemen tani tradisional menjadi bisnis skala industri yang modern dan, tentu saja, menghasilkan cuan.
Kedaulatan bangsa dimulai dari piring makan, jadi, Jurusan Pertanian tenang saja
Sebuah bangsa belum benar-benar merdeka kalau urusan isi perutnya masih bergantung sepenuhnya pada impor. Kedaulatan pangan adalah harga mati. Tanpa regenerasi ahli pertanian dari universitas, kita hanya akan jadi penonton dan konsumen dari hasil tani negara lain.
Inilah tugas jurusan pertanian, agar soal pangan kita nggak terus-terusan impor. Masak nggak malu negara agraris tapi terus-terusan impor beras dari Thailand.
Jurusan Pertanian mungkin tidak bersinar di balik jas lab yang bersih atau layar monitor. “Selama manusia masih perlu makan, di situ jurusan pertanian berperan”, begitulah seharusnya.
Jurusan pertanian memang perlu berevolusi dalam kurikulumnya agar tetap relevan dengan zaman, tetapi menghapuskannya sama saja dengan mematikan mesin produksi pangan kita sendiri. Jadi, tenang saja.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Stereotip Mahasiswa Jurusan Pertanian
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
