Saya pernah membaca di Threads, mereka yang berlibur ke luar negeri dengan maskapai Garuda Indonesia lebih kaya daripada yang naik Singapore Airlines. Padahal, Singapore Airlines masih bertengger di jajaran maskapai bintang lima, sedangkan Skytrax menurunkan Garuda Indonesia ke bintang empat.
Belum lagi, pesawat Singapore Airlines lebih baru dan lebih modern. Akan tetapi, setelah saya pikir lagi, pendapat itu masuk akal juga.
Selain memang terbang ke Singapura, mengunjungi destinasi yang bisa kita capai dengan penerbangan langsung Garuda Indonesia itu menghindari kebutuhan transit yang tidak perlu. Tidak hanya menambah waktu perjalanan karena perlu bertukar pesawat dan boarding ulang, risiko bagasi tertinggal meningkat apalagi ketika maskapai memindahkan bagasi antarpenerbangan. Belum lagi, penundaan penerbangan pertama berisiko pada keterlambatan untuk menumpangi penerbangan kedua.
Akan tetapi, masih banyak lagi ternyata alasan mengapa naik Garuda Indonesia itu lebih baik dengan segala kekurangannya. Saya membuat tulisan ini dengan sudut pandang mereka yang terbang dari dan ke Jakarta. Dan tentu saja, bagi penumpang kelas ekonomi alias mayoritas dari kita semua.
#1 Transit di Bandara Changi tidak bisa membawa minuman kesukaan
Saat saya menulis tulisan ini, Bandara Soekarno-Hatta menempatkan pengecekan keamanan atas barang bawaan sebelum toko bebas bea. Selain toko bebas bea, ada beberapa toko yang menjual minuman.
Bagi kita yang tidak ingin mengisi botol air minum dari fasilitas yang bandara sediakan dan juga mengkhawatirkan kebersihan air minum tambahan yang tersedia di pesawat, atau mau membawa minuman kesukaan, kita bisa membeli minuman selama produk itu ada di toko-toko dan memastikan kita menghabiskan atau membuangnya apabila negara tujuan melarang untuk membawanya masuk.
Di Bandara Changi di Singapura, juga Bandara KLIA di Kuala Lumpur, petugas melakukan pengecekan keamanan sesaat sebelum boarding. Alias, kita harus membuang minuman saat itu karena batas cairan yang boleh kita bawa hanya 100 mililiter.
Maklum, beberapa referensi mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak mengonsumsi air minum dan olahannya yang maskapai berikan di pesawat kecuali merupakan produk yang kita bawa sendiri dari darat. Keraguan terletak pada kebersihan penyimpanan air di pesawat dan memanaskan air tersebut tidak serta-merta menyelesaikan hal ini. Jangankan air minum, keamanan mengonsumsi teh dan kopi di dalam pesawat juga jadi pertanyaan.
#2 Boarding pesawat tidak memakan waktu selama itu
Sebagian besar penerbangan internasional Singapore Airlines menggunakan pesawat berbadan lebar seperti Airbus A350, Boeing 787, atau Boeing 777, sekalipun jarak penerbangannya dekat seperti Jakarta-Singapura.
Pesawat mengangkut banyak penumpang sehingga proses boarding memakan waktu lebih lama dan antreannya juga jadi lebih panjang. Padahal, setelah melewati pengecekan imigrasi, seringkali penumpang ingin menghabiskan waktu semaksimal mungkin melihat-lihat barang yang ada di toko bebas bea.
Sebaliknya, kecuali jarak tempuhnya sangat jauh, permintaan atas tiket penerbangan tersebut begitu tinggi, atau pengaturan armada membutuhkannya, Garuda Indonesia cenderung menurunkan pesawat Boeing 737-800 sekalipun di penerbangan sejauh Jakarta-Hong Kong.
Meskipun kabinnya terasa lebih sempit dengan hanya satu lorong, proses boarding lebih cepat dengan penumpang yang lebih sedikit dan jarak berjalan kaki ke kursi paling belakang juga yang paling pendek. Tak sampai di situ, maksimum lamanya menunggu bagasi juga lebih sebentar.
#3 Pengalaman makan yang lebih baik bersama Garuda Indonesia
Banyak orang mengambil penerbangan selama jam makan siang atau makan malam ketika menggunakan maskapai berlayanan penuh sehingga bisa menikmati makan di pesawat pada waktu yang tepat. Mereka mengharapkan proses penyajian makanan yang cepat dan cita rasa makanan yang pas di lidah. Belum lagi, mayoritas orang Indonesia membutuhkan jaminan bahwa makanan yang mereka konsumsi memenuhi standar halal.
Tak seperti Garuda Indonesia yang makanannya pasti halal, penumpang Singapore Airlines perlu memastikan diri dengan memesannya terlebih dulu sebelum penerbangan. Apabila tidak harus mengonsumsi dan tidak memesan makanan halal sebelum penerbangan, siap-siap menghadapi proses persiapan dan pengantaran makanan yang lebih lama.
Berbeda dengan Garuda Indonesia yang menyiapkan makanan langsung full set dalam satu baki. Singapore Airlines memisahkan makanan pendamping yang sama untuk semua penumpang dan makanan utama yang tersedia dalam dua pilihan.
Jika kita ada dalam posisi yang kurang beruntung di penerbangan Jakarta-Singapura atau sebaliknya, bisa-bisa baru mendapatkan makan sudah harus selesai karena persiapan proses mendarat.
Selain itu, untuk penerbangan Garuda Indonesia, meskipun dari luar negeri tetap menyajikan nasi. Singapore Airlines? Meskipun salah satu menu utama andalan di Singapura adalah nasi ayam hainam, belum tentu penerbangan Singapore Airlines sekalipun yang berasal dari Singapura menyediakan nasi atau bubur.
#4 Perjalanan yang terasa lebih santai bersama Garuda Indonesia
Garuda Indonesia lebih banyak mengandalkan Boeing 737-800 dan Airbus A330, dengan kecepatan maksimum lebih lambat ketimbang Airbus A350 dan Boeing 787 yang Singapore Airlines gunakan.
Selain itu, durasi putar balik antarpenerbangan selama berada di luar negara asal relatif lebih panjang untuk Garuda Indonesia. Entah dengan waktu yang sama dan penumpang yang lebih sedikit, atau waktu yang lebih lama dengan jumlah penumpang yang relatif sama.
Mengejar produktivitas armada yang lebih ketat dan jumlah penumpang yang lebih banyak dalam satu penerbangan, Singapore Airlines menghadapi risiko penundaan penerbangan berikutnya apabila penerbangan sebelumnya terlambat. Dan untuk mempertahankan ketepatan waktu tersebut, pilot cenderung memilih untuk lebih mengebut di udara. Alhasil, terbang dengan Garuda Indonesia cenderung lebih santai.
#5 Bagasi gratis Garuda Indonesia yang lebih besar
Berdasarkan ketentuan terbaru Garuda Indonesia, maskapai kini mengizinkan penumpang semua penerbangan internasional membawa dua buah bagasi dengan berat maksimum per bagasi mencapai 23 kilogram. Kapasitas sebesar ini tentu lebih besar dibandingkan apa yang Singapore Airlines izinkan untuk seluruh destinasinya kecuali ke Amerika Serikat dan Kanada, yaitu berkisar di antara 25 sampai 30 kilogram. Selamat berbelanja dan membagikan oleh-oleh lebih banyak.
Tidak semua orang membutuhkan audio dan video on demand dengan konten yang selalu terbaru. Juga tidak semua orang mempercayai keamanan dari jaringan WiFi dalam penerbangan. Banyak orang telah mempersiapkan aktivitas dan bahannya di atas pesawat, sisanya memilih untuk beristirahat saja. Mereka lebih menginginkan penerbangan yang bisa mereka nikmati seperti zaman dahulu kala, dan karena itu lebih memilih Garuda Indonesia daripada Singapore Airlines.
BACA JUGA Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.