Setidaknya satu kali dalam seminggu, atau katakanlah, satu bulan, kita pasti mampir beli sesuatu di Indomaret. Yang tiap hari ke Indomaret juga pasti ada. Selain karyawannya, tentu saja.
Kebiasaan ke Indomaret ini, kalau kata orang Tegal, kami-Indomaretan. Yang berarti, apa-apa serba ke Indomaret. Nggak heran kalau Pak Anthoni Salim, selalu pemilik jadi makin kaya aja hari demi hari. Lha kita?
Meski mereka semakin berkembang, bukan berarti jalannya bebas dari rintangan. Persis seperti kata pepatah lama, “Semakin tinggi pohon, makin kencang anginnya.” Semakin besar sebuah entitas, semakin mudah pula rumor, prasangka, dan fitnah menerpa. Termasuk, Indomaret.
Kebohongan-kebohongan tentang Indomaret tersebut beredar dari mulut ke mulut, diwariskan dari grup WhatsApp keluarga ke kolom komentar medsos. Dan sialnya, banyak orang mempercayai kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran.
Untuk itulah, lewat tulisan ini, saya ingin meluruskan beberapa kebohongan tentang Indomaret. Bukan untuk membela secara membabi buta, ya. Cuma, sekadar menaruh akal sehat di tempat yang seharusnya.
Baca juga Indomaret Adalah Sebaik-baiknya Sahabat bagi Pengendara Antarkota dan Tempat Melepas Penat
Karyawan Indomaret memborong habis barang promo
Jujur, isu karyawan memborong barang promo mungkin menjadi kebohongan paling populer sejagat minimarket. Pasalnya, sering kejadian, ada promo yang bikin pembeli penasaran. Tapi, begitu meluncur ke tujuan, pembeli nggak bisa menemukannya.
Padahal, di flyer jelas-jelas masih periode promo. Tapi barangnya? Gak ono. Dan ketika para pembeli mencari ke gerai lainnya, hasilnya sama saja. Zonk. Lalu, kesimpulannya langsung loncat: “Pasti karyawan mereka memborong barang promo.”
Padahal, kenyataannya, jauh lebih sederhana dari prasangka. Pertama, barang promo itu memang nyata adanya. Bukan gimmick. Tapi, stoknya terbatas.
Setiap toko mendapat jatah yang berbeda-beda, tergantung ukuran toko, histori penjualan, dan distribusi pusat. Kedua, peminat promo itu biasanya banyak dan datang hampir bersamaan. Dalam kondisi seperti itu, maka wajar jika barang langsung ludes.
Harga di etalase beda dengan di kasir: Pasti sengaja!
Kalau lagi sial, kadang kita mendapati harga yang berbeda antara yang tercantum di label etalase dan harga saat di-scan barcode. Kaget? Jelas.
Ndilalah, harga pas mau dibayar kok ya seringnya lebih mahal daripada harga yang tertera di etalase. Mau membatalkan transaksi, kasir sudah kadung meng-inputnya.
Akhirnya, muncul tuduhan: Karyawan Indomaret sengaja memainkan harga. Mereka ngasih label murah di etalase supaya pembeli tertarik. Sementara itu, di kasir, pakai harga yang sesungguhnya.
Eits, tidak begitu ya, Ferguso. Mana ada karyawan sengaja memainkan harga. Justru, kesalahan harga adalah mimpi buruk bagi karyawan. Salah pasang label bisa berujung teguran, bahkan sanksi. Jadi ya, tidak ada untungnya bagi mereka melakukan itu dengan sadar.
Yang terjadi sesungguhnya adalah kekhilafan. Maklum, di Indomaret, promo berganti cepat, harga berubah berkala, sementara tenaga manusia terbatas. Maka, kalau ada sumur di ladang… eh, maksud saya, kalau ada label yang terlewat diganti, itu manusiawi.
Dan kalau pelanggan protes, sistem di Indomaret justru mengatur agar harga termurah yang berlaku. Pernah baca kan ketentuan ini di belakang komputer kasir? Nah. Itulah. Jadi, bukan modus, tapi murni kelalaian karyawan ya, Sob.
Masuk kerja Indomaret harus punya ordal dan bayar
Kebohongan tentang Indomaret yang satu ini termasuk fitnah klasik dunia kerja. Yaitu, rumor yang menyebutkan kalau mau masuk jadi karyawan, harus punya orang dalam atau setor uang. Indomaret pun sering kena tudingan ini.
Nyatanya, sistem rekrutmen Indomaret tergolong transparan. Ada tahapan seleksi, administrasi, tes, dan ada wawancara. Semua lewat jalur resmi. Tidak ada kewajiban bayar, tidak ada syarat titipan.
Kalau ada oknum yang mengatasnamakan Indomaret lalu minta uang, itu jelas penipuan. Bukan kebijakan perusahaan. Dan ini penting buat saya meluruskan, karena hoaks seperti ini justru merugikan pencari kerja yang sudah terdesak kebutuhan.
Indomaret kirim makanan ke militer Israel
Terakhir, kamu mungkin pernah dengar isu ini: Indomaret kirim makanan ke militer Israel. Lengkap dengan foto sekelompok tentara tengah menikmati makanan. Isu ini sempat ramai, bahkan banyak yang langsung mengambil tindakan dengan melakukan aksi boikot.
Namun, berdasarkan penelusuran dan cek fakta media nasional, klaim Indomaret mengirim bantuan makanan ke militer Israel adalah tidak benar. Informasi tersebut merupakan potongan narasi yang disalahartikan dan tidak sesuai konteks. Cuma ya, biasalah. Di era medsos, klarifikasi sering kalah cepat dari emosi.
Pada akhirnya, tidak semua cerita yang nyaring dan ramai itu benar. Sebagian hanya asumsi, sebagian lagi karena emosi. Yang jelas, 4 kebohongan tentang Indomaret ini sekarang sudah diluruskan. Tapi, mohon maaf, nih, kalau soal tuduhan banyak bocil tantrum gara-gara nggak dibolehin beli Pororo drink di Indomaret, itu tidak bisa diluruskan. Soalnya, itu fakta.
Btw, gimana? Sudah cocok belum saya jadi PR-nya Indomaret? Gas!!
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
