Jogja itu bisa dibilang kota yang unik. Bukan karena makanannya yang manis. Tetapi karena banyak kebiasaan-kebiasaan warga Jogja yang jarang ditemukan di kota lain. Dan kebiasaan itu kadang membuat heran para pendatang.
Sebagai warga lokal, saya merasa bahwa kebiasaan yang dilakukan orang Jogja itu lumrah. Tapi setelah banyak bergaul dengan orang luar, ternyata rutinitas warga Jogja dianggap unik oleh pendatang.
Kebiasaan unik dan tak biasa itu secara tidak langsung menular ke mereka. Pasalnya saat melihat teman saya yang sudah lama di Jogja, mereka secara tidak langsung sudah meniru polah warga lokal.
Berikut adalah kebiasaan warga Jogja yang secara tidak sadar diikuti oleh para pendatang.
#1 Nggak pernah klakson motor di lampu merah di Jogja
Banyak orang luar Jogja yang mengagumi kalau di Jogja jarang ada bunyi klakson. Apalagi saat di lampu merah. Lampu merah di kota ini bisa dibilang hening dari bunyi klakson. Menurutnya klakson di Jogja itu fungsinya hanya untuk menyapa teman saat di jalan.
Kalau tidak percaya, coba saja sekali-kali bunyikan klakson pas lampu merah. Tak perlu lama, cukup sekali saja. Setelah itu bersiap-siaplah menerima tatapan dari pengendara di kanan, kiri, depan. Bahkan mungkin dari penjual angkringan di pinggir jalan.
Di Jogja membunyikan klakson saat lampu masih merah rasanya seperti melanggar kesepakatan yang tak tertulis. Ya ada yang melanggar, pasti, naif kalau bilang bener-bener nggak ada. Tapi itu anomali.
#2 Jarang naik motor di atas trotoar
Di kota-kota yang sibuk dan super padat, naik trotoar itu hal yang biasa. Coba lihat di Jakarta. Di sana trotoar dilewati oleh pengendara motor. Yang bahkan sampai berbaris-baris panjang.
Kalau di Jogja naik motor di atas trotoar itu jarang ditemukan. Mungkin kalian akan menemukannya di daerah lampu merah yang sempit macam perempatan SCH, tapi di jalan besar kek Gejayan, jarang banget ditemukan.
#3 Hobi sarapan soto di Jogja
Bisa dibilang orang Jogja itu akrab dengan menu soto dan menjadikannya menu sarapan. Lihat saja warung-warung soto di Kota ini pada pagi hari, pasti ramai pengunjung. Coba cek soto Sarem di UNY sebagai contoh, itu warung nggak pernah sepi sekalipun sudah siang.
Padahal di luar Jogja sarapan soto bukan hal yang populer. Banyak menu sarapan lain yang sama juga diminati. Tidak seperti warga Kota Istimewa, yang mayoritas warganya suka sarapan soto. Bahkan di beberapa kota lain soto itu disajikan malam hari. Sebaliknya, makan soto di Kota ini pada malam hari akan dianggap aneh.
#4 Hafal arah mata angin
Orang Jogja dikenal sering menggunakan arah mata angin sebagai penunjuk jalan. Bisa dibilang ini adalah skill yang hanya dimiliki oleh warga Kota Istimewa.
“Dari Tugu ambil arah selatan, nanti ketemu perempatan, terus ke timur sekitar 500 meter”. Begitulah kira-kiranya orang sini memberi petunjuk jalan.
Bagi orang Jogja ini mungkin hal yang biasa. Tapi bagi warga pendatang, hal ini mungkin akan membingungkan. Tenang, buat kalian yang nggak hafal arah angin, cukup liat Merapi. Nah, itu utaranya Jogja. Setelah itu, tinggal sesuaikan saja.
Kalau masih kesulitan, duh, skill issue sih itu. Ancer-ancere wae jelas kok.
Demikianlah kebiasaan warga lokal yang sukses ditularkan ke pendatang. Beberapa teman saya secara tidak langsung meniru polah warga yang katanya unik itu. Dan bagi saya, pendatang yang tertular tingkah orang lokal termasuk beruntung. Sebab mendapat skill baru yang mungkin akan berguna.
Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













