Makanan enak itu kuncinya sederhana. Ia memakai bahan segar, bumbu pas, dan pengolahan yang tepat. Nggak perlu segala kaviar, saffron, foie gras, truffle putih dibawa-bawa. Larang. Belum tentu juga kita bisa mengolahnya. Asal pintar mengolah bahan-bahan biasa yang ada di pasar, sebuah hidangan istimewa akan tercipta. Ambil contoh nasi padang.
Seporsi nasi padang yang lezat akan tercipta dengan bahan-bahan yang mudah kamu temukan di pasar. Bahkan, rendang, sebagai salah satu komponen nasi padang, berkali-kali dinobatkan sebagai salah satu makanan terenak di dunia versi CNN International.
Nah, mari lupakan dulu perdebatan mana yang lebih unggul antara nasi padang versi Jawa atau yang asli Padang. Keduanya sama-sama enak buat penikmat setianya. Yang penting, tidak memiliki ciri-ciri berikut ini.
BACA JUGA: Sulit Mencari Masakan Padang di Jogja yang Pas bagi Lidah Orang Minang, Rendang Terasa Manis
#1 Daging keras, kuah encer, dan warnanya pucat
Pertama, soal daging rendang. Sebagai mahakaryanya warung makan padang, rendang memegang posisi yang strategis. Dia menjadi penentu apakah kita akan lanjut makan hingga titik nasi penghabisan, ataukah harus berakhir ke pembuangan.
Jika kamu menemukan rendang yang warnanya masih cokelat muda dan terendam dalam bumbu yang masih cair atau berminyak encer, mohon maaf, itu bukan rendang. Itu lebih mirip kalio. Soalnya, rendang sejati harusnya memiliki bumbu yang kering dan dedak rempah yang menggumpal.
Makin redflag lagi, kalau si rendang di nasi padang ini punya tekstur daging yang alot alias keras. Bisa jadi si pemilik memasak dengan terburu-buru, tidak tahu cara mengolah daging supaya empuk, atau mungkin menggunakan bagian daging sapi yang tidak semestinya digunakan untuk rendang.
Terlepas dari semua alasan, bumbu rendang yang masih cair, berwarna cokelat muda dan dagingnya alot adalah 3 hal yang bikin nafsu makan nasi padang jadi turun. Apalagi, kalau setelah dicicip rendangnya terasa manis.
Hey, rendang kok manis?! Fix. Redflag.
#2 Sambal hijau yang diblender
Sungguh tidak pantas nasi padang yang menyediakan sambal hijau atau merah yang dibuat dengan cara diblender. Izi z iz, Malas kali yang punya warung. Iya sih, bikin sambal dengan menggunakan cobek memang capek. Tapi, justru disitulah letak kenikmatan yang sesungguhnya.
Secara visual, kulit lombok hijau yang tidak hancur sepenuhnya adalah godaan. Siapa saja pasti akan menelan ludah saat melihat sambal hijau dalam seporsi nasi padang. Dan ketika ujung-ujung jari kita menyentuh si kulit cabai. Alamak… godaan itu semakin nyata. Sinyal lapar langsung terkirim ke otak.
Bandingkan kalau sambal hijaunya dihaluskan menggunakan blender. Lombok dan teman-temannya akan hancur dengan sempurna. Padahal dalam seporsi nasi padang, bukan kesempurnaan yang kita cari, tapi kenikmatan. Dan mari kita sepakati kalau sambal yang halus di nasi padang itu bikin nafsu makan jadi turun.
#3 Nasi lembek atau sengaja di-pera-pera-in
Ciri nasi padang nggak enak lainnya bisa dilihat dari nasi. Di Jawa, mayoritas nasi yang disajikan di RM Padang adalah nasi pulen. Bagi sebagian besar orang Jawa, nasi pulen memang yang paling enak.
Tapi, itu kan kalau orang Jawa. Di Minangkabau lain lagi ceritanya. Nasinya pera. Bukan keras, ya, melainkan agak kering dan butiran nasinya mudah tercerai-berai.
Nah, mau nasi pulen atau nasi pera, keduanya sama-sama enak, tergantung selera masing-masing. Yang penting, jangan meleset. Kalau pulen ya pulen, jangan kebantasen jadi lembek. Nggak enak banget kan makan nasi lembek trus disiram kuah kental? Berasa kayak makan bubur.
Sebaliknya, misal mau pakai setelan nasi pera, ya pastikan beras yang digunakan sesuai standar. Standar utamanya adalah Beras Solok khas Sumatera Barat, atau minimal Beras IR 42 sebagai alternatif populernya. Jangan sampai berasnya pakai merek beras pulen, tapi ketika masak sengaja mengurangi airnya supaya hasilnya pera.
Wah, fatal banget itu. Nasi yang di-pera-pera-in bukan hanya membuat nafsu makan jadi turun tapi juga bikin sakit perut. Fix. Redflag!
BACA JUGA: 7 Dosa Rumah Makan Padang yang Bikin Pelanggan Kapok Balik Lagi
#4 Daun singkong layu, keras, kasar… mbuh lah!
Terakhir, kita bisa melihat nasi padang yang redflag dari daun singkongnya. Kelihatannya sih sepele, ya. Cuma daun singkong. Tapi kalau pengolahan daun singkongnya gagal, bisa auto nggak nafsu makan.
Daun singkong dalam seporsi nasi padang yang ideal seharusnya memiliki tekstur yang empuk, lembut, namun tidak hancur atau lembek seperti bubur. Warnanya pun harus tetap hijau segar, bukan hijau gelap kecokelatan yang tampak layu, tidak menggugah selera, masih keras, berserat kasar dan menimbulkan sensasi terasa nyangkut di tenggorokan saat dikunyah.
Logikanya, kalau urusan sayuran dasar saja mereka nggak pinter, bagaimana mereka mengelola bahan-bahan lain yang lebih kompleks seperti rendang atau gulai tunjangnya? Ya kan~
Itulah ciri-ciri nasi padang redflag yang auto bikin pembeli jadi nggak nafsu makan. Semoga dalam perjalanan memuliakan perut, kita tidak dipertemukan dengan nasi padang yang punya ciri-ciri seperti yang sudah disebutkan.
Nah, kalau mau tahu ciri-ciri nasi padang enak, bisa kamu baca di tautan ini, ya. Selamat membaca!
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
