4 Alternatif Kegiatan Buat Syekh Puji, Ketimbang Menikahi Anak di Bawah Umur

syekh puji

4 Alternatif Kegiatan Buat Syekh Puji, Ketimbang Menikahi Anak di Bawah Umur

Syekh Puji alias Pujiono Cahyo Widianto kembali santer dikabarkan menikahi anak di bawah umur. Setelah dulu pada 2008, publik pernah digemparkan lewat aksinya yang menikahi anak di bawah umur juga. Mengutip Tirto, Syekh Puji sudah dilaporkan ke pihak kepolisian karena hal ini. Sayangnya, pemberitaannya tenggelam oleh masifnya informasi virus corona dan langkah gontai pemerintah kita menanganinya.

Istri Pujiono usianya konon baru 7 tahun. Namun, kabar kurang bagus ini belum sempat viral di Twitter. Kasus pernikahan dini semacam ini riskan terjadi di Indonesia. Syekh Puji ternyata belum kapok. Dia kira dengan seluruh hartanya itu bisa seenaknya menikahi anak di bawah umur.

Parahnya lagi, kasus pernikahan dini semacam ini penangangannya teramat pelan. Pihak polisi tidak gercep. Kasus terbaru ini saja sudah dari November 2019. Apa karena ini nggak penting, ya? Entahlah, yang jelas Syekh Puji ini terkenal maestro pernikahan dini di Indonesia. Karena pernikahannya dengan anak-anak usia dini selalu viral.

Nyaris seluruh informasi mengenai Syekh Puji lagi-lagi urusan nikah dini. Dia ini seperti tak punya pekerjaan lain. Ealah syekh, di umur segitu, masa iya nggak punya alternatif kegiatan gitu? Maksudnya, bapak-bapak umur kepala lima harusnya masih ada kegiatan lain yang jauh lebih berfaedah, ketimbang menikahi anak usia dini. Nggak punya? Saya ada saran alternatif kegiatan buat Syekh Puji. Monggo.

Pertama: Mengurus Perusahaan

Semua orang tahu, kalau Syekh Puji punya perusahaan yang lumayan gede. Mungkin itulah yang dia pakai untuk membius anak-anak di bawah umur. Nah, daripada buat menarik perhatian anak-anak di bawah umur supaya mau menikahinya, alangkah baiknya syekh lebih intens mengurus perusahaannya.

Tak perlu repot cari anak-anak usia dini lah. Denger-denger syekh sudah punya anak? Nah, udah nggak perlu khawatir kesepian lagi. Perusahaan syekh di Kuningan itu lumayan masyhur juga. Kalau nggak salah, perusahaan bergerak di bidang kerajinan, namanya PT Sinar Lendoh Terang.

Dengan fokus di dunia bisnis, tak menutup kemungkinan sayap bisnisnya semakin lebar. Misal bergabung dengan PT Toba Bara atau PT Rakabu Sejahtera. Tak masalah kok berbagi aset perusahaan.

Kedua: Pendakwah Kharismatik

Melihat latar belakang Syekh Puji sebagai pemimpin pondok pesantren, kayaknya pas banget untuk mulai berdakwah—atau malah sudah? Terlepas dari itu, Syekh Puji diperhatikan lewat postur tubuhnya tepat menjadi pendakwah kharismatik. Iya, kharismanya semakin terpancar kalau berdakwah pada kelompok laki-laki pemuja poligami.

Bayangkan kalau dia jadi pendakwah. Konten ceramahnya tak jauh-jauh dari urusan nikah. Tapi tak masalah. Andai dia ditolak masyakarat se-Indonesia, Syekh Puji bisa kok berdakwah ke negara lain. Misalnya berdakwah di Nigeria dan Afrika Selatan.

Ketiga: Terjun ke Politik

Syekh Puji ini diam-diam udah pernah jadi kandidat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari Partai Amanat Nasional (PAN) pada 2004 silam. Juga calon Bupati Semarang tahun 2005. Tapi sayang dia gagal. Namun, tak perlu khawatir, untuk urusan politik tidak ada kata terlambat. Syekh Puji sangat bisa terjun lagi ke dunia politik. Barangkali lewat jalur politik, dia bisa menghentikan tabiatnya menikahi anak usia dini.

Tetapi jalan politik tak pernah mudah. Pengalaman gagal nyaleg, pasti membikin trauma tersendiri buat Syekh Puji. Saya mengerti, orang yang pernah mencoba masuk politik, dan ingin mencobanya lagi, tentu menemui jalan terjal. Kalau mau coba nyaleg lagi, susah memang, persaingan semakin ketat.

Syekh bisa daftar ulang dulu ke partai. Boleh ke partai lama, atau mutasi ke partai lain. Saya rasa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mungkin mau menerima syekh sebagai kadernya. Nah, dari situ mulailah membangun personal branding yang bagus. Jadi, masyakarat nggak cuma kenal Syekh Puji yang doyan nikahin anak usia dini itu.

Barangkali gagal di ranah legislatif, bisa menjajal ke tingkat lebih kecil dulu. Bisa mencalonkan Ketua RT atau Ketua RW terlebih dahulu. Itung-itung buat magang terjun di dunia politik.

Keempat: Peserta Take Me Out

Kendati Syekh Puji punya wajah standar—jelek tidak, ganteng pun kayaknya fitnah deh. Kalau mau tetap ngoyo cari istri lagi, mbok ya carinya yang seumuran. Simpel kok, ikut jadi peserta Take Me Out aja. Setidaknya di sana, syekh nggak bakal mendekati anak usia dini lagi. Syukur-syukur mau menikahi perempuan dewasa.

Selain tampang, syekh bisa mengandalkan kekayaan buat memikat calon pencari jodoh. Tak perlu malu-malu untuk senyum di hadapan wanita-wanita di Take Me Out. Kalau ada yang cocok, langsung bawa pulang aja. Nikah di tempat secara live pun boleh. Boleh jadi rating acaranya bisa naik. Ya nggak?

Sip. Itulah sekadar saran saya buat syekh. Iya ketimbang lagi-lagi viral karena nikahi anak usia dini. Melakukan hal yang bermanfaat, bagi seorang syekh sangat dinanti-nantikan. Publik biar memandang kalau pemimpin pondok pesantren yang satu ini akhlaknya mulia. MasyaAllah.

BACA JUGA Yang Kejam Kapitalisme, Tapi yang Ditolak Malah Kesetaraan Gender, Ukhti Sehat? atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version