Informasi

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

Buka bersama atau bukber seharusnya jadi momen yang menyenangkan. Ramadan identik dengan silaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing. Tapi entah kenapa, makin ke sini saya justru sering merasa malas setiap kali ada notifikasi undangan bukber di grup WhatsApp.

Bukan karena saya anti kumpul. Bukan juga karena tidak suka teman-teman lama. Hanya saja, ada beberapa hal yang bikin semangat itu tidak lagi sebesar dulu. Dan ini bukan cuma soal ajang pamer “si paling sukses” yang dengan santainya menaruh ID card kantor ternama atau kunci mobil di atas meja seolah itu bagian dari dress code bukber.

Ada alasan-alasan lain yang lebih sederhana tapi cukup menguras energi.

Malas OTW bukber, apalagi kalau jauh dan macet

Alasan pertama, tentu saja, perjalanan menuju lokasi. Bukber hampir selalu dijadwalkan menjelang magrib. Artinya, kita harus berangkat sore hari saat jalanan sedang padat-padatnya. Pulang kerja saja sudah melelahkan, ditambah harus menerobos macet demi sampai ke restoran yang katanya “strategis”.

Sering kali lokasi yang dipilih memang dianggap tengah-tengah, tapi tetap saja ada yang merasa kejauhan. Saya termasuk yang sering merasa lokasi bukber itu tidak pernah benar-benar dekat.

Belum lagi urusan parkir. Sampai di tempat, cari parkir susah. Sudah capek di jalan, tambah stres karena muter-muter cari slot kosong. Rasanya energi sudah terkuras bahkan sebelum duduk dan buka puasa.

Kadang saya berpikir, kenapa harus sejauh ini kalau sebenarnya bisa buka puasa dengan tenang di rumah?

BACA JUGA: 3 Alasan Orang Sleman Malas Bukber ke Bantul, Selain Karena Egois dan Jogja Selatan Isinya Gondes

Makanannya mahal dan tidak sesuai selera

Ini juga sering terjadi. Tempat bukber biasanya dipilih yang sedang viral atau terlihat estetik di media sosial. Paket Ramadan dibanderol ratusan ribu rupiah per orang. Katanya biar “sekalian momen”.

Tapi jujur saja, tidak semua orang nyaman dengan konsep seperti itu. Saya pribadi lebih suka makanan sederhana tapi benar-benar sesuai selera. Daripada bayar mahal demi suasana dan foto-foto, saya lebih menghargai rasa dan kenyamanan.

Sering kali menu yang dipilih terlalu fancy atau terlalu berat. Kita sudah kenyang minum dan makan takjil, lalu harus menghabiskan menu utama yang porsinya besar. Akhirnya banyak yang tidak habis.

Ironisnya, yang paling dinikmati justru obrolannya, bukan makanannya. Jadi apakah perlu semahal itu?

Baca halaman selanjutnya

PASTI NGARET!

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2026 oleh .

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

Exit mobile version