Angkot Jaklingko bisa dibilang salah satu privilese warga Jakarta. Memang nggak cuma orang Jakarta yang boleh naik, tapi untuk saat ini adanya baru di Jakarta doang. Mau ke mana-mana naik Jaklingko, gratis. Lumayan buat irit biaya hidup.
Banyak juga yang naik Jaklingko untuk naik transportasi umum (transum) lain. Misalnya, buat ke stasiun naik KRL dan ke halte Transjakarta. Yang dibutuhkan untuk naik Jaklingko cuma kartu uang elektronik buat tap. Meski nempel kartu, saldo di dalamnya nggak akan terpotong.
Di samping manfaatnya, suka ada saja yang bikin badmood pas naik Jaklingko. Satu di antaranya, penumpang menyebalkan. Saya suka ketemu penumpang Jaklingko yang nggak peka dan nggak tahu diri. Padahal, kepekaan saat naik transum penting biar proses naik turunnya penumpang lebih mudah.
Ini tiga tipe penumpang menyebalkan Jaklingko yang nggak peka versi saya dan harusnya mereka introspeksi diri.
#1 Ogah bantu tap, padahal duduk di dekat mesin tap
Mesin tap Jaklingko adanya di belakang kursi supir, dekat pintu. Pas naik dan turun, memang bakal lewat. Tapi karena ruang gerak di Jaklingko terbatas, jadinya susah. Penumpang naik dan turun dituntut cepat karena pemberhentian Jaklingko seringnya di pinggir jalan. Biar nggak bikin macet. Makanya, butuh bantuan orang lain buat tap kartu kalau duduknya nggak dekat mesin tap.
Jadi peraturan nggak tertulis, kalau yang duduk di belakang supir bakal jadi seksi sibuk tap-tap kartu. Baik yang duduknya di belakang supir persis, atau yang duduknya berjarak satu penumpang di belakang supir. Suka gemas kalau ketemu penumpang yang ogah-ogahan bantu tap, padahal tempat duduknya paling potensial. Keseringan walau kayak nggak ikhlas, tetap dibantu karena terpaksa. Cuma, raut mukanya nggak bisa bohong.
Saya pernah sekali ketemu penumpang yang nggak mau bantu tap karena katanya sebentar lagi turun. Sedangkan penumpang lain termasuk saya, nggak ada yang bisa bantu karena kesulitan. Padahal kalau sekedar bantu tap in, masih bisa. Sebentar laginya juga nggak sebentar-sebentar banget ternyata. Karena orang yang minta tolong tujuannya dekat, walhasil dia cuma sempat tap sekali pas keluar.
Memang di Jaklingko, menahan kartu jadi kebiasaan umum penumpang yang bantu nge-tap. Perlu menunggu sekitar satu menit untuk bisa tap kartu lagi, makanya ditahan sebentar sama penumpang yang membantu. Biar tap in dan tap out dilakukan sekaligus di awal, baru akhirnya kartu dikembalikan. Cuma kan nggak harus begitu. Kalau bisanya sekedar bantu tap in, apa salahnya? Balikin saja dulu kartunya. Nanti untuk tap out, urusannya si empunya kartu.
BACA JUGA: 3 Hal Menyebalkan Angkot JakLingko dari Perspektif Pengendara Lain di Sekitarnya
#2 Duduk di kursi depan Jaklingko, padahal bukan golongan prioritas
Saya sering ketemu penumpang yang bukan golongan prioritas, tapi duduk di kursi depan samping supir. Sedangkan kursi di samping supir, diperuntukkan bagi golongan prioritas, seperti bumil, lansia, disabilitas, ibu membawa anak, dan orang sakit. Mungkin saja pas dia mau naik, cuma kursi depan yang tersedia. Seharusnya pas kursi belakangnya ada yang kosong, dia pindah. Biar kursi prioritasnya bisa dipakai sama yang lebih berhak.
Kadang ada juga anak muda yang pilih duduk di depan, padahal kursi di bagian belakang masih ada yang lowong. Beberapa kali juga saya ketemu penumpang yang duduk di depan, ternyata kenalannya supir. Padahal, bukan termasuk golongan prioritas. Ternyata untuk urusan naik transum saja, kalau punya orang dalam bisa lebih untung.
BACA JUGA: 4 Hal Menyebalkan yang Sering Saya Rasakan Ketika Naik JakLingko
#3 Tukang selak antrian
Buat Jaklingko dengan nomor dan arah tertentu, armadanya nggak sebanyak peminatnya. Akhirnya, selalu penuh dan harus lama menunggu buat bisa naik. Saking ramainya, pas akhirnya ada yang bisa dinaiki, kursi kosongnya cuma satu, tapi yang nunggu bisa sampai lima orang.
Jaklingko 106 arah Terminal Klender dan Terminal Kampung Melayu contohnya. Setiap Jaklingko 106 lewat di kawasan tempat tinggal saya, keseringan penuh. Saya harus rela tunggu lama kalau tetap mau naik Jaklingko 106.
Pas menunggu Jaklingko, banyak yang prinsipnya siapa cepat dia dapat. Tapi, cepat yang dimaksud bukan siapa yang menunggu lebih dulu berhak naik duluan. Melainkan, main selak saja naik duluan tanpa ba-bi-bu, meski datangnya belakangan. Seharusnya nggak gitu. Antre saat naik transum harusnya sudah jadi aturan dasar.
Belum lagi, kalau ada ibu-ibu minta belas kasihan. Beliau sadar kalau mestinya dapat jatah naik belakangan, tapi minta didahulukan karena buru-buru. Kalau ngomongin buru-buru, saya juga sama. Kalau alasannya karena urgensi, saya rela mengalah. Misalnya ke rumah duka atau ke Rumah Sakit.
Tipe penumpang menyebalkan kayak di atas, nggak setiap saat saya temui pas naik Jaklingko. Cuma tetap saja, bikin kesal. Saya rasanya ingin sekali sindir mereka. Paling nggak karena sudah gratis, tahu diri sedikit dong!
Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
