Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

3 Tahap Belajar Ngompreng Truk di Lampu Merah

H.R. Nawawi oleh H.R. Nawawi
14 Oktober 2020
A A
sopir jasa angkut Seumur hidup, saya belum pernah merasakan ngompreng truk di lampu merah. Dan kali ini, momen itu datang dan saya tidak mau melewatkannya.

Seumur hidup, saya belum pernah merasakan ngompreng truk di lampu merah. Dan kali ini, momen itu datang dan saya tidak mau melewatkannya.

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu keseruan yang ternyata belum saya lakukan selama di kampung dan akhirnya saya coba setelah sampai di Jogja, yakni ngompreng truk di lampu merah. Apa mungkin karena lampu merah di Oku Timur sedikit dan akhirnya pengalaman ini belum sempat saya lakukan? Atau karena ejekan dan bujukan kawan baru di Jogja dapat membuat hati ini ingin memiliki pengalaman tersebut secara langsung?

Singkatnya, malam itu saya bersama dua kawan, Bowo dan Rossi, telah berdiri di lampu merah barat Stasiun Purwosari Solo. Lalu, Bowo yang paling berpengalaman, memberi instruksi beberapa tahap yang bisa dilakukan ketika hendak ngompreng truk di lampu merah.

Datangi sopir dan bicaralah secara sopan

Menurut Bowo, dengan cara ini para pengendara truk akan lebih hormat pada calon penumpang. Selain itu, paling tidak ketika ditolak mereka juga akan berkata dengan sopan santun. Sembari menunggu lampu merah menahan truk-truk yang kosong muatan, catatan-catatan pengalaman si Bowo pun, kalau tidak bisa disebut ceramah, berkeluaran dari selongsong tenggorokannya.

“Bro, tahap ini bisa diartikan sebagai cara negosiasi bangsa Timur. Maksudnya, bisa dikatakan kesopanan adalah cara yang paling beradab dan terhormat, terutama saat meminta untuk ikut ngompreng.”

Saya adalah keturunan ketiga dari keluarga Jawa yang bertransmigrasi ke Sumatera Selatan. Di tanah kelahiran saya, Oku Timur, nilai-nilai Jawa seperti kesopanan pada orang lain, masih dipegang teguh sebagian besar masyarakat kami. Oleh karena itu, saya tidak menentang yang dikatakan Bowo.

Selang beberapa waktu kemudian, ada dua truk kosong yang berdiri berdampingan. Si kawan menarik lengan saya dan berkata lirih, “Ayo, itu udah ada.”

“Pak, saget tumut ke arah Jogja?” tanya Bowo pada sopir, “Tiang telu.”

Si sopir tolah-toleh, seperti ingin mengizinkan. Akan tetapi, tampak tertahan aturan baru terkait kendaraan bak terbuka yang tak boleh muat orang. Sopir pun menjawab secara aman dan sopan, “Wah, ora nyampek Jogja, cuma di situ, lo, belok kiri, Mas.”

Baca Juga:

Jangan Pernah Terjebak Lampu Merah di Rawamangun, Bisa-bisa Berangkat Masih SD, Pulang-pulang Sudah Sarjana

Hidup di Solo Itu Damai, sebab Tak Ada Teror Klakson di Lampu Merah di Solo

Bowo mengangguk dan bergegas menuju sopir truk lainnya. Sayang, sang sopir selanjutnya menjawab dengan lebih keras. Bowo pun hanya mengangguk lagi. Ketika berjalan menuju trotoar, ia berbisik, “Kita pakai tahap kedua.”

Datangi sopir dan gunakan bahasa jalanan

Tak sampai habis satu batang rokok, sekira tujuh menit, ada tiga truk tertahan lampu merah. Bowo pun langsung mengajak seperti sebelumnya, mendatangi sopir dan meminta izin. Hanya dalam tahap ini kesopanan sudah dibuang ke gorong-gorong.

“Arah Jogja, Bos? Melu, ya!” ucap Bowo.

“Ora, Mas. Aku arep turu neng pom!” jawab sopir truk.

“Nggak apa-apa wis, tak melu sampek pom.”

“Aku muat barang iki, Mas. Nggak isa ditumpangi.”

Bowo ngotot kayak ibu-ibu pembeli di pasar. Saya yang yakin akan ada lagi-lagi penolakan, memilih kembali ke trotoar, duduk di samping Rossi, dan tanpa aba-aba ia berkata: “Kalau era sekarang, tahap satu dan dua tak bisa berfungsi, Bro, langsung aja naik.”

Bowo melihat jam di handphone-nya, ia sudah mulai khawatir, garuk-garuk kepala, dan seperti tidak menyukai tahap ketiga. Prasangka itu baru saya ketahui ketika sudah naik truk beberapa menit lagi setelah tahap tiga yang tidak bakalan gagal. Bowo teriak kepada Rossi,

“Si, ayo siap-siap.”

Rossi berdiri, mengajak saya dengan anggukan, dan inilah tahap yang terakhir.

Langsung naik lewat belakang dan teriak, “Melu, Bos!”

Untuk tahap ini, Bowo akhirnya cerita, bahwa tahap ini tidaklah menarik. Bukan karena apa-apa, tapi karena pengendara truk tidak semuanya akan legowo dinaiki penumpang gelap. Belum lagi kalau ada polisi malam yang sangat mungkin mencegat di pos-pos ketika mengetahui ada orang di bak truk. Tapi, bagaimanapun, pengalaman ini harus segera saya rasakan.

“Kalau nggak hari ini, kapan lagi punya kesempatan.”

“Iya,” jawab saya sekadarnya pada Bowo.

“Wan,” sahut Rossi, “Bowo pernah jatuh dari truk karena naik sendirian, awal-awal belajar ngompreng dulu. Jadi ceritanya, Ia tak tahu jalan, sedangkan lima kawannya tak ada yang sempat naik truk. Malam itu naik dengan cara lari dan loncat ke bak truk yang melaju pelan-pelan ketika melewati rel kereta daerah Kertosono.”

Rossi sempat menoleh ke Bowo yang sedang berdiri, “Saking bingungnya Bowo sesudah naik truk, ia memberanikan untuk turun kembali dengan cara lompat ke jalan raya.”

“Kok bisa selamat?”

“Ia ingat kata-kata para kenek bus, dahulukan kaki kiri.”

Saya tidak sempat membayangkan bagaimana Bowo lompat dari truk. Yang penting, malam ini saya bisa merasakan pengalaman ngompreng truk dengan tiga tahap di atas. Sepanjang perjalanan kami diam di atas truk yang membawa kami dari Solo sampai Janti, Yogyakarta.

BACA JUGA Perihal Cinta Kita Nggak Ke Mana-mana, Masih di FTV Aja dan tulisan H.R. Nawawi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2020 oleh

Tags: Lampu Merahngomprengpolisisopirtruk
H.R. Nawawi

H.R. Nawawi

Jika di dunia hanya ada dua pilihan antara riang dan menangis. Saya memilih menangis. Kehampaan.

ArtikelTerkait

sopir jasa angkut Seumur hidup, saya belum pernah merasakan ngompreng truk di lampu merah. Dan kali ini, momen itu datang dan saya tidak mau melewatkannya.

Ingin Lancar dalam Perjalanan Jarak Jauh? Ikuti Truk

23 Oktober 2020
Jalan Raya Mastrip Surabaya, Jalur Kematian yang Begitu Menyeramkan

Jalan Raya Mastrip Surabaya, Jalur Kematian yang Begitu Menyeramkan

3 Februari 2024
jagabaya polisi anarki

Jagabaya Tunabrata dan Kemarahan yang Sia-sia

14 Oktober 2021
Liga 1 ditunda pilkada pandemi mojok

Keputusan Menunda Liga 1 dan Tetap Melanjutkan Pilkada Itu Sudah Sangat Tepat

30 September 2020
Pertigaan Gandok, Pertigaan Paling Meresahkan di Kota Bandung Mulai dari Durasi Lampu Merahnya yang Menguji Kesabaran, sampai Ada Teror "Pocong"!

Pertigaan Gandok, Pertigaan Paling Meresahkan di Kota Bandung. Mulai dari Durasi Lampu Merahnya yang Menguji Kesabaran, sampai Ada Teror “Pocong”!

6 Juli 2024
#PercumaLaporPolisi Harusnya Diserukan Warga India karena Polisi Indonesia Itu Terbaik terminal mojok.co

#PercumaLaporPolisi Harusnya Diserukan Warga India karena Polisi Indonesia Itu Terbaik

10 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

27 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

Menghadapi Kultur Lawan Arah di Lebak Bulus Raya: kalau Ditegur Galak, tapi kalau Kena Tilang Langsung Pasang Wajah Melas

25 Februari 2026
7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup Mojok.co

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

24 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.